Volix
Lifestylesilent discosilent disco runsilent disco balitren pesta 2026entourage bali

Silent Disco Awalnya Alat Protes Lingkungan, Sekarang Jadi Tren Pesta di Indonesia

Iqbal Baskari·
Silent Disco Awalnya Alat Protes Lingkungan, Sekarang Jadi Tren Pesta di Indonesia
Via Pexels/martinlopez

Coba bayangkan sekelompok orang joget rapat-rapat sambil pakai headphone yang nyala warna-warni, tapi yang kedengaran cuma suara sepatu dan tawa mereka sendiri.

Format itu namanya silent disco, dan sekarang ada di mana-mana, mulai dari beach club di Uluwatu, resepsi pernikahan di Jakarta, sampai komunitas lari di Canggu. Yang jarang diceritakan, konsep ini awalnya sama sekali tidak dirancang buat pesta. Akarnya justru ada di aksi protes lingkungan dan siasat mengakali jam malam festival.

Perjalanannya panjang, dan begitu sampai Indonesia, ujungnya malah berbuntut sanksi imigrasi.

Lahir dari Urusan Polusi Suara

Idenya sudah muncul di fiksi jauh sebelum jadi nyata. Komik Astro Boy pada 1967 pernah menggambarkan pesta berbasis headphone, dan film Finlandia Time of Roses pada 1969 menampilkan pasangan berdansa memakai headphone berkabel di sebuah restoran.

Wujud nyatanya datang dari Cisco Sa, yang antara 1982 sampai 1985 menggelar pesta dansa Walkman di Portugal. Pada 1990, ia bersama sejumlah aktivis lingkungan memakai pemancar radio ilegal saat aksi hari bebas kendaraan di Belanda, sehingga peserta bisa menangkap musiknya lewat radio Walkman. Di awal 1990-an, aktivis lingkungan lain juga memakai headphone di acara luar ruang supaya polusi suaranya tidak mengganggu satwa sekitar.

Dari Bonnaroo ke Kamus Oxford

Festival yang kemudian mendorong formatnya. Glastonbury pada 1994 menyambungkan radio festival ke layar video supaya penonton tetap bisa menikmati acara setelah jam malam suara berlaku. Pada Mei 2000, BBC menggelar silent gig di Chapter Arts Centre, Cardiff.

Via Brianna Paciorka/News Sentinel

Istilah silent disco sendiri baru benar-benar melekat pada 2005, ketika festival Bonnaroo di Amerika Serikat mengiklankan acara semacam itu dengan beberapa DJ dan headphone Koss. Februari 2011, istilah tersebut resmi masuk Oxford Dictionary Online. Sistem banyak kanal menyusul setelahnya, dan dari situlah lahir headphone yang lampunya ganti warna mengikuti kanal. Yang terbesar tercatat di Lowlands Festival, Belanda, pada Agustus 2019, dengan 30,000 headphone dan tiga kanal sekaligus.

Kanal ganda inilah yang bikin formatnya menyebar cepat, karena penonton bisa memilih sendiri mau ikut DJ yang mana. Nilai jual lainnya adalah tempat. Ruang yang biasanya mustahil dipakai pesta jadi terbuka, dan pada 2024 sejumlah katedral di Inggris ikut menggelarnya. Tiket di Canterbury Cathedral bahkan ludes dalam satu jam, meski memicu perdebatan soal kepantasan.

Masuk Indonesia Lewat Bali

Di Indonesia, Bali jadi pintu masuknya. Sundays Beach Club di Uluwatu rutin menggelar silent disco dengan tiga kanal berisi house, disco, dan pop klasik. Silent Disco Asia juga punya agenda berkala di WooBar, W Bali Seminyak.

Dari sana formatnya menyebar ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, dan penyedianya melebar jauh dari sekadar pesta. Sekarang ada silent yoga, silent cinema, silent talk show, sampai resepsi pernikahan yang seluruh musiknya dialirkan lewat headphone.

Silent Disco Run dan Buntutnya di Canggu

Turunan terbarunya adalah lari. Konsep running rave lahir di São Paulo, Brasil, digarap kolektif Pacetronik dengan dukungan ASICS Brasil, lalu menular ke Barcelona dan sejumlah kota Eropa lain. Entourage Bali mengadaptasinya jadi silent disco run di kawasan Canggu. Acara perdananya menarik sekitar 150 peserta, mayoritas warga asing, sampai headphone-nya sempat kurang.

Via Entourage Bali

Masalahnya datang belakangan. Muncul keluhan bahwa pendaftar lokal ditolak sementara pendaftar bernama asing langsung diterima. Penyelenggara menyebut sistem persetujuan otomatis di WhatsApp keliru menolak sebagian nomor Indonesia, mengklaim hampir 25 persen pemegang tiket adalah WNI, lalu menghentikan seluruh kegiatannya.

Otoritas bergerak cepat. Juli 2026, Ditjen Imigrasi menaruh dua warga negara Belanda yang jadi penyelenggaranya di daftar cekal. Gubernur Bali Wayan Koster meminta Polda Bali mengusut karena acaranya tidak berizin, sementara anggota Komisi III DPR RI I Nyoman Parta mengkritik lemahnya pengawasan. Audiensi lanjutan bersama kepolisian, Kejari Badung, dan imigrasi digelar 4 Agustus di Kuta Utara.

Baca Juga