Run Club Sudah Jadi Klub Malam Baru Anak Kota, 72 Persen Ikut Bukan buat Lari

Coba perhatikan rombongan yang lari pagi-pagi di kawasan Sudirman, lalu berhenti dan lanjut ngopi bareng selama satu jam berikutnya. Bagian larinya sering justru yang paling singkat.
Dalam 16 bulan, jumlah pelari di Indonesia melonjak dari 56 ribu menjadi 242 ribu orang, dan jumlah klub larinya naik sampai enam kali lipat. Tapi kalau anggota run club ditanya alasan mereka ikut, mayoritas sama sekali tidak menjawab soal kebugaran. Jawaban mereka justru mengarah ke hal lain.
Yang sebenarnya sedang terjadi bukan tren olahraga, melainkan pergeseran cara anak kota bersosialisasi.
Angkanya Naik Terlalu Cepat buat Disebut Tren Biasa
Data yang dihimpun GoodStats menunjukkan jumlah pelari di Indonesia berada di angka 56 ribu pada Januari 2024, lalu melompat ke 242 ribu pada Mei 2025. Kenaikannya sekitar 330 persen hanya dalam rentang satu tahun empat bulan.
Strava mencatat pola serupa di sisi komunitas, dengan jumlah run club di Indonesia yang tumbuh enam kali lipat sepanjang 2025.
Penyelenggara ikut mengejar. Menurut catatan Jadwal Lari Indonesia, jumlah event lari naik dari 458 pada 2024 menjadi 558 pada 2025. Puncaknya terjadi pada November 2025 dengan 112 event dalam satu bulan, atau rata-rata hampir empat lomba lari per hari.
Tujuh Puluh Dua Persen Ikut Bukan buat Lari

Di sinilah ceritanya jadi menarik. Riset LADbible Group menemukan 72 persen Gen Z bergabung dengan klub lari untuk bertemu orang baru, bukan untuk mengejar catatan waktu. Angka itu praktis membalik anggapan umum tentang kenapa run club bisa seramai sekarang.
Alasan lainnya juga tidak berhubungan dengan olahraga. Banyak yang menyebutnya sebagai jalan keluar dari kelelahan digital, semacam penawar setelah terlalu lama doomscrolling. Sebagian lagi menganggapnya third space, ruang ketiga di luar rumah dan kantor yang bebas dari tekanan penilaian.
Bahkan aplikasi kencan Feeld sempat memprediksi aktivitas olahraga bakal jadi sarana utama orang menemukan pasangan sepanjang 2026, menggeser dominasi aplikasi kencan. Perlu dicatat, itu riset yang dirilis perusahaan aplikasi kencan, jadi posisinya riset pemasaran dan bukan studi independen.
Pola yang Sama Terjadi di Lapangan Padel
Kalau tesisnya benar, gejalanya seharusnya muncul juga di olahraga sosial lain. Dan memang begitu.
Jumlah lapangan padel di Indonesia melonjak dari 240 unit pada 2024 menjadi 947 unit pada 2025. Dua olahraga yang sama sekali berbeda, meledak di periode yang sama persis, dan sama-sama punya ciri yang identik dengan run club, yaitu dilakukan berkelompok dan selalu ada acara nongkrong setelahnya.
Artinya yang bergeser bukan minat berolahraga, tapi lokasi dan jam sosialisasi. Fungsi yang dulu dipegang klub malam sekarang pindah ke lapangan dan trotoar, cuma waktunya digeser ke pagi hari.
Uangnya Ikut Pindah, Tapi Standarnya Belum Ngejar
Pergeseran ini bukan cuma soal gaya hidup. BTN Jakarta International Marathon 2025 mencatat dampak ekonomi Rp127,1 miliar dengan 31 ribu peserta dari 53 negara. Maybank Marathon di Bali lebih besar lagi, yaitu Rp170,8 miliar, naik dari Rp125 miliar pada tahun sebelumnya. Jakarta Running Festival sendiri menembus 27,300 peserta. Sektor yang kecipratan mulai dari hotel, kuliner, ritel olahraga, transportasi, sampai UMKM di sekitar lokasi.
Masalahnya, penyelenggaraan tidak selalu tumbuh serapi angkanya. Yellow Run 2026 sempat viral karena sejumlah peserta menuduh panitia tidak memenuhi janji hadiah kategori kostum terbaik. Dengan lebih dari 500 event per tahun, keluhan semacam itu kemungkinan besar bakal makin sering muncul.
Satu hal lagi yang belum ada jawabannya. Kalau jumlah pelari naik 330 persen dalam 16 bulan, mayoritasnya jelas pemula. Sampai sekarang belum ada data resmi soal lonjakan cedera yang menyertainya, padahal itu justru pertanyaan paling praktis buat siapa pun yang baru mau ikut run club minggu depan.




