Apa Itu Josjis? Arti, Asal Usulnya dari Video Maba Unair, dan Kenapa Viral Lagi Lewat Sound Horeg

Sekali kata itu masuk ke telinga, bakal susah lepas. Josjis muncul di kolom komentar, caption Reels, sampai teriakan di panggung karnaval, dipakai untuk apa saja yang dianggap keren. Yang menarik, ini bukan tren yang baru lahir pekan lalu.
Kata ini sempat meledak sekitar setahun lalu lewat video mahasiswa baru Universitas Airlangga, sempat mereda, lalu naik lagi belakangan ini berkat subkultur sound horeg asal Jawa Timur. Dua gelombang itu yang membuat asal usulnya sering tertukar.
Berikut uraiannya, dari arti sampai konteks yang jarang ikut dibahas:
Makna "Josjis" Sebenarnya
Josjis dipakai untuk menyebut sesuatu yang mantap, keren, atau kelas satu, kira-kira sepadan dengan "mantul" pada masanya. Fungsinya lebih ke bumbu percakapan ketimbang kata dengan makna kaku.
Soal asal katanya, ada dua penjelasan yang beredar. Yang paling umum menyebut josjis berasal dari kata "jos" yang sudah lama dipakai untuk menyatakan sesuatu yang oke, lalu ditambahi akhiran "-jis" supaya terdengar lebih hiperbolis dan lucu.
Versi lain menyebut "jis" datang dari kata "siji" dalam bahasa Jawa yang berarti satu, sehingga maknanya menjadi nomor satu. Tidak ada otoritas bahasa yang mengunci salah satunya, dan memang begitulah slang bekerja.
Gelombang Pertama: Video Maba Unair

Titik ledak pertamanya datang dari TikTok pada Agustus tahun lalu. Sebuah video dari akun @mhmdrzz._ menampilkan mahasiswa baru Universitas Airlangga yang bercerita santai soal pengalamannya di masa pengenalan kampus, termasuk soal "rezeki" berupa kursi empuk tanpa perlu berebut, lalu menutup ceritanya dengan celetukan "pemuda josjis".
Celetukan itu yang menempel. Dalam hitungan hari, kata tersebut dipakai mahasiswa dari kampus lain, masuk ke grup percakapan, lalu berpindah ke Instagram dan X. Polanya khas slang kampus: lahir dari satu video, menyebar karena mudah ditiru, lalu jadi penanda "kita satu lingkaran".
Gelombang Kedua: Rawon Gank Josjis dan Koko Seto

Gelombang keduanya justru datang dari arah berbeda, yaitu panggung hiburan rakyat. Nama Rawon Gank Josjis, kelompok asal Kediri, membawa kata itu ke dunia sound horeg, dan yang paling dikenal dari lingkaran ini adalah Seto Bayu Aji, akrab disapa Koko Seto atau Seto Rawon.
Ia dikenal sebagai penari yang beraksi di depan truk sound berukuran besar di karnaval seputar Kediri, Nganjuk, dan Jombang. Gerakannya yang energik membuat videonya berulang kali beredar di TikTok dan Reels, dan akun TikTok-nya kini punya sekitar 194 ribu pengikut. Kebiasaannya meneriakkan josjis di panggung membuat kata itu melekat ke subkultur tersebut, lengkap dengan sound bernuansa dangdut koplo yang dipakai ulang untuk video joget.
Konteks yang Sering Terlewat
Di sinilah bagian yang jarang ikut dibahas saat orang memakai kata josjis. Sound horeg, tempat kata ini tumbuh subur, adalah fenomena yang masih diperdebatkan.
Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur mengeluarkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025 yang menyatakan penggunaan sound horeg haram jika berlebihan, mengganggu kenyamanan, mengancam kesehatan, atau merusak fasilitas publik.
Data yang dipakai komisi fatwanya menyebut tingkat suaranya bisa mencapai 120 sampai 135 desibel, sementara Organisasi Kesehatan Dunia mengingatkan risiko pada paparan di atas 85 desibel selama delapan jam.
Untuk kegiatan bergerak seperti karnaval, batas yang disarankan 85 dBA, dengan pengeras suara wajib dimatikan saat melewati tempat ibadah, rumah sakit, dan lingkungan pendidikan. Ketika sebagian pihak mengganti namanya menjadi Sound Karnaval Indonesia, MUI Jawa Timur menegaskan fatwanya tetap berlaku karena yang diatur adalah desibelnya, bukan mereknya.
Umurnya Kemungkinan Pendek
Slang seperti ini hampir selalu punya siklus serupa: meledak, dipakai ramai-ramai, lalu dianggap terlalu sering dipakai. Josjis sudah masuk fase ketiga di sebagian lingkaran media sosial, terlihat dari candaan yang menyebutnya kelewat sering muncul.
Meski begitu, fungsinya tetap sama seperti slang mana pun, yaitu memecah kebekuan, memancing tawa, dan menandai siapa yang sedang berada di lingkaran yang sama. Kata josjis mungkin akan tergantikan dalam beberapa bulan, namun jejaknya tetap jadi dokumentasi kecil soal bagaimana kosakata anak muda Indonesia lahir: dari satu video kampus, satu panggung karnaval, dan algoritma yang menyambungkan keduanya.



