Jakarta Masuk Lima Besar Kota Terbaik untuk Snackpacking, Tren Liburan Gen Z Berburu Jajanan Lokal

Liburan kini tidak lagi hanya soal destinasi ikonik atau restoran mahal. Banyak anak muda justru merancang perjalanan untuk berburu jajanan lokal, mulai dari pasar tradisional, pedagang kaki lima, hingga rak minimarket.
Tren ini dikenal dengan nama "snackpacking", dan ramai dibagikan di TikTok serta Instagram sepanjang 2026. Menurut laporan American Express, 89 persen milenial dan Gen Z menganggap mencoba jajanan lokal sebagai bagian penting dari perjalanan. Jakarta bahkan masuk lima besar kota terbaik untuk snackpacking versi perusahaan perjalanan Away Holidays.
Berikut penjelasan tren ini dan alasan Gen Z menggemarinya:
Apa Itu Snackpacking?
Snackpacking adalah cara berwisata yang menjadikan kegiatan berburu dan mencicipi jajanan lokal sebagai agenda utama perjalanan.
Di luar negeri, tren ini identik dengan konten belanja di minimarket, menjelajah supermarket, dan mencoba jajanan kaki lima. Di Indonesia, pasar tradisional menjadi tujuan utamanya.
Laporan American Express 2026 Global Travel Trends Report memberi gambaran skalanya. Selain 89 persen yang menganggap jajanan lokal penting, sebanyak 69 persen responden memilih mendatangi kios jajanan kaki lima, 53 persen mengunjungi toko roti, dan 50 persen menjelajah supermarket saat bepergian.
Jakarta Masuk Lima Besar
Away Holidays menyusun indeks 20 kota terbaik untuk snackpacking berdasarkan penilaian minimarket, kualitas pasar dan pusat jajanan, popularitas jajanan kaki lima di YouTube, sentimen di forum Reddit, serta rata-rata harga makanan sehari-hari.
Hanoi menempati posisi pertama, disusul Bangalore di India, sementara Kairo melengkapi lima besar. Jakarta berada di antara keduanya.
Keunggulan utama Jakarta ada di harga. Rata-rata biaya sekali makan di Jakarta hanya sekitar 2,58 dolar AS, sementara di London mencapai 19,32 dolar AS atau lebih dari tujuh kali lipat. London sendiri berada di posisi terakhir. Away Holidays juga menyoroti kawasan Jakarta Pusat yang memudahkan akses ke pasar, mal, dan pusat jajanan kaki lima.
Kenapa Gen Z Menggemari Snackpacking?
Dr. Hudi Santoso, dosen Komunikasi Digital dan Media di Sekolah Vokasi IPB University, menilai tren ini lahir dari pergeseran cara Gen Z bepergian yang bertemu dengan algoritma platform berbasis visual. Jajanan berwarna cerah, cara pembuatan yang unik, dan suasana pasar yang ramai mudah menarik perhatian penonton dalam hitungan detik.
Faktor berikutnya adalah social proof, yaitu kecenderungan seseorang mencoba sesuatu setelah melihat orang lain menikmatinya.
“Semakin banyak orang membagikan pengalaman mereka, semakin besar peluang suatu tempat kuliner dikenal luas,” kata Hudi.
Harganya pun ramah di kantong. Dengan bujet sekitar Rp50,000 sampai Rp100,000, wisatawan sudah bisa mencicipi beragam jajanan khas dalam satu perjalanan. Selain itu, tren ini sejalan dengan gerakan mencintai produk dalam negeri yang mendorong anak muda menjelajahi cita rasa daerah.
Pasar Tradisional untuk Snackpacking

Kementerian Pariwisata merekomendasikan sejumlah pasar tradisional yang cocok untuk snackpacking:
● Pasar 16 Ilir, Palembang: pempek, tekwan, dan kemplang
● Pasar Santa, Jakarta: kuliner tradisional dengan konsep kreatif
● Pasar Terapung Lok Baintan, Banjarmasin: berbelanja jajanan langsung dari atas perahu
● Pasar Ngasem, Yogyakarta: jajanan pasar dan gudeg
● Pasar Hamadi, Jayapura: aneka makanan khas Papua
Peluang Baru untuk UMKM
Kementerian Pariwisata melihat snackpacking sebagai peluang bagi sektor pariwisata. Meningkatnya kunjungan ke pasar tradisional diharapkan memperkuat UMKM, memperkenalkan kuliner daerah, dan menggerakkan ekonomi lokal.
Agar tidak ketinggalan momentum, Hudi menyarankan pelaku usaha memperhatikan jejak digitalnya, mulai dari mencantumkan tag lokasi di Instagram dan TikTok hingga transparan soal harga dan jam operasional.
“Pelaku usaha harus memastikan lokasi usahanya terdaftar dengan akurat di Google Maps,” ujarnya.



