Hobi Analog Naik Daun: Dari Mahjong sampai Padel, Kenapa Gen Z Kabur dari Layar


Ada pola yang mulai kelihatan di kalangan anak muda kota. Mereka rela bangun pagi buat lari bareng orang asing, bayar sewa lapangan padel, atau duduk berjam-jam main mahjong di kafe. Semuanya punya benang merah yang sama, yaitu hobi analog yang butuh kehadiran fisik dan nol layar.
Fenomena ini sudah punya namanya sendiri di kalangan pengamat tren, yaitu analog hobbyfication, saat anak muda bukan cuma nyoba hobi offline tapi juga bikin komunitasnya jadi terstruktur. Berikut angkanya dan alasan kenapa gelombang ini muncul justru sekarang.
Angkanya TIDAK Main-Main
Mahjong jadi contoh paling ekstrem. Menurut data Eventbrite, pencarian global soal mahjong naik 18 kali lipat sepanjang 2023 sampai 2025, sementara acara bertema mahjong melonjak sampai 45 kali lipat. Di ranah permainan meja secara umum, sekitar 38 persen Gen Z global mengaku senang menghabiskan waktu dengan board game.
Di Indonesia, polanya sama. Pencarian soal padel dilaporkan melonjak lebih dari 1,200 persen sejak 2024, dan Indonesia disebut memegang sekitar separuh dari total lapangan padel se-ASEAN. Data Strava mencatat jumlah klub lari di Indonesia naik sampai enam kali lipat sepanjang 2025. Survei GoodStats bahkan menempatkan lari dan jalan santai sebagai dua aktivitas yang paling sering dilakukan Gen Z Indonesia, masing-masing dipilih sekitar 55 dan 52 persen responden.
Bukan Sekadar Hobi, Tapi Klub yang Jalan
Yang membedakan gelombang ini dari sekadar iseng adalah tingkat keseriusannya. Anak muda tidak berhenti di mencoba, mereka bikin komunitas dengan jadwal rutin dan tempat tetap.

Sahabat Mahjong Society, misalnya, didirikan Angela Widowati pada Maret 2025 dan awalnya bermula dari rumah lansia di Pondok Indah. Sekarang sesinya hampir tiap hari kecuali Kamis, digelar di kafe dan hotel di Jakarta, dan pesertanya lintas generasi. Pendirinya berusia 57 tahun, sementara sebagian pemainnya masih 20-an.
Pola serupa muncul di tempat lain. Kafe board game di Jakarta tumbuh jadi ruang kumpul dengan tarif main mulai Rp30,000 sampai Rp40,000 untuk seharian. Komunitas lari rutin menggelar sesi bareng di kawasan Sudirman, GBK, dan Senayan, lalu ditutup dengan sarapan atau ngopi bareng.
Daftar hobi analog yang diminati juga jauh lebih luas dari yang kelihatan di Indonesia. Fortune mencatat anak muda di Amerika ramai-ramai masuk ke aktivitas yang dulu dianggap kegiatan orang tua, mulai dari merajut, menyulam, membuat tembikar, origami, berkebun, mengamati burung, sampai menulis surat tangan lengkap dengan segel lilin. Bahkan pandai besi ikut masuk daftar.
Kenapa BARU Sekarang
Alasan pertamanya paling gampang ditebak, yaitu kelelahan layar. Setelah bertahun-tahun hidup di dalam feed, anak muda mencari aktivitas yang hasilnya kelihatan dan bisa dipegang.
Isaiah Scott, pemuda berusia 22 tahun yang diwawancarai Fortune, merangkumnya dengan tepat. “Rasanya seperti video game, tapi di dunia nyata,” katanya.
Sebagian lagi menyebut hobi semacam ini terapeutik karena memaksa tangan bekerja dan pikiran fokus ke satu hal. Psikolog Jaime Kurtz dari James Madison University menjelaskan aktivitas seperti ini menurunkan kecemasan dan memberi rasa pencapaian, karena butuh fokus sekaligus menawarkan tantangan.
Faktor kedua lebih praktis, yaitu ekonomi. Di tengah biaya rekreasi yang makin mahal, main mahjong atau board game di kafe jauh lebih terjangkau ketimbang hiburan lain. Faktor ketiga, ada reaksi terhadap internet yang makin penuh konten buatan mesin, sehingga aktivitas yang jelas-jelas dikerjakan manusia terasa lebih berharga.
Ironisnya, hobi analog ini akhirnya tetap balik jadi konten. Bedanya, kontennya lahir dari sesuatu yang benar-benar dikerjakan bareng orang lain, bukan dari layar ke layar.




