Volix
lifestylegaya hidup gen zpersonal soulfultren gaya hidup 2026autentisitasanak muda indonesia

Era 'Personal & Soulful', Saat Anak Muda Berhenti Ngejar Viral dan Mulai Cari Makna

Iqbal Baskari·
Era 'Personal & Soulful', Saat Anak Muda Berhenti Ngejar Viral dan Mulai Cari Makna
Via Pexels/Min An

Ada pergeseran yang terjadi diam-diam di kalangan anak muda. Pertanyaan yang muncul bukan lagi “apa yang lagi viral”, melainkan “apa yang bermakna buat gue”. Sebagian menyebutnya era personal dan soulful, saat gaya hidup Gen Z serta milenial jadi lebih personal, ekspresif, dan sadar diri.

Menariknya, ini bukan sekadar vibes semata. Ternyata datanya sudah tersedia.

Diam-Diam Melawan Algoritma

Salah satu buktinya datang dari Indonesia Millennial & Gen Z Report (IMGR) 2026. Studi yang melibatkan 1,500 responden di 12 kota besar Indonesia itu menemukan bahwa 27% milenial dan 24% Gen Z sengaja mengkurasi lini masa media sosial mereka untuk menghindari echo chamber.

Yang lebih mengejutkan, persentase yang sama juga aktif mencari konten yang justru bertentangan dengan pandangan pribadi mereka. Alih-alih pasrah pada rekomendasi algoritma, mereka sengaja mengikuti suara-suara di luar lingkaran sendiri, dan menyimak konten yang bikin mereka berhenti sejenak untuk berpikir ulang.

Dengan kata lain, ada semacam perlawanan senyap terhadap algoritma. Kedalaman, nuansa, dan keseimbangan sudut pandang dianggap lebih berharga ketimbang sekadar konten yang sedang trending.

Autentik Bukan Berarti Sempurna

Pergeseran ini juga mengubah definisi autentik. Berdasarkan temuan Jakpat, autentisitas bagi Gen Z bukan soal visual yang sempurna, melainkan konsistensi nilai dan keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Via Pexels/duhews dfbas

Efeknya terasa sampai ke cara mereka menyaring konten. Video sederhana dengan pencahayaan seadanya tapi terasa tulus justru lebih dipercaya ketimbang iklan mengkilap yang terasa jauh dan dingin. Autentisitas berarti mengikuti suara hati ketimbang apa yang mampu memuaskan masyarakat luas, dan anak-anak muda semakin melek akan hal ini.

Nilai Jadi Kompas Baru

Kalau dulu selera yang jadi penentu, kini nilai yang memegang kemudi. Survei Jakpat terhadap 1,155 responden Gen Z Indonesia menunjukkan 90% di antaranya bersedia mengikuti sebuah brand di media sosial apabila brand tersebut punya nilai yang sama dengan mereka.

Isu-isu yang paling mereka pedulikan pun tergolong serius: lapangan pekerjaan dan ketimpangan ekonomi (masing-masing 64%), sistem pendidikan (57%), kekerasan terhadap perempuan dan anak (56%), serta korupsi (50%).

Soal menjalani hidup pun begitu. Sebanyak 74% Gen Z menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas utama dalam urusan work-life balance. Produk kini tak lagi dinilai dari harga dan fungsi semata, tapi juga dari cerita, emosi, serta pengalaman yang dibawanya.

Identitas di Tengah Ekonomi yang Lesu

Menariknya, pergeseran ini justru terjadi saat kondisi ekonomi tidak sedang ramah. Alih-alih menyerah, anak muda Indonesia dilaporkan tetap memprioritaskan identitas dan gaya hidup di tengah ekonomi yang lesu.

Banyak dari mereka yang kini berada di titik ingin memuaskan nafsu dengan pengeluaran seminim mungkin. Hasilnya adalah mencari cara-cara alternatif yang menyimpang dari tren-tren terkini yang biasanya terlalu menguras dompet.

Inilah yang membuat tren personal dan soulful terasa berbeda dari tren gaya hidup pada umumnya. Ia bukan soal membeli sesuatu yang baru, melainkan soal memilih dengan lebih sadar: konten apa yang dikonsumsi, nilai apa yang didukung, dan hal apa yang benar-benar layak diberi waktu.

Pada akhirnya, mungkin inilah bentuk kemewahan baru bagi generasi yang tumbuh bersama algoritma, yaitu kemampuan untuk memilih sendiri, bukan dipilihkan.

Via Pexels/M Priya Fabian Pallas

Baca Juga