Volix
lifestylehigh proteintren high proteinmakanan tinggi proteinprotein maxxinggaya hidup sehat

Tren High Protein: Ketika Protein Ada di Mana-mana, dari Kopi sampai Air Minum

Iqbal Baskari·
Tren High Protein: Ketika Protein Ada di Mana-mana, dari Kopi sampai Air Minum
Via Unsplash/Kelly Sikkema

Coba perhatikan rak-rak minimarket atau menu kafe belakangan ini. Label "high protein" seolah ada di mana-mana, mulai dari susu, roti, sereal, camilan, bahkan sampai air minum dan kopi. Apa yang dulu identik dengan santapan para binaragawan kini berubah menjadi tren gaya hidup arus utama yang diburu banyak kalangan.

Protein tak lagi dipandang sebagai sekadar booster untuk anak gym, melainkan kebutuhan harian yang dianggap wajib dipenuhi. Namun, di balik euforia ini, para ahli gizi justru mulai mempertanyakan satu hal yang mendasar, yaitu apakah kita benar-benar sekekurangan protein itu.

Ketika Protein Ada di Mana-mana

Fenomena ini sering dijuluki proteinification atau protein-maxxing, yaitu tren menyelipkan protein ke hampir semua jenis produk. Para produsen berlomba menyematkan label tinggi protein untuk menarik konsumen yang makin sadar kesehatan.

Hasilnya, protein kini muncul di tempat-tempat yang tak terduga. Selain produk klasik seperti susu dan yogurt, kandungan protein juga diselipkan ke dalam popcorn, keripik, pasta, sereal, hingga minuman bersoda dan kopi. Muncul pula kategori baru bernama protein-plus, yaitu produk yang menggabungkan protein tinggi dengan bahan fungsional lain yang diklaim menyehatkan. Rak supermarket dan menu restoran pun perlahan didominasi klaim serupa.

Bukan Lagi Sekadar Buat Anak Gym

Pergeseran paling menarik dari tren ini adalah soal siapa yang mengonsumsinya. Protein tak lagi jadi milik para penggemar fitnes semata, melainkan sudah merambah ke pekerja kantoran, orang tua, hingga generasi muda.

Via Unsplash/LyfeFuel

Data menunjukkan betapa masifnya tren ini. Berdasarkan survei Food and Health dari lembaga IFIC pada 2025, sebanyak 70% warga Amerika Serikat secara aktif mencari makanan berprotein, menjadikannya pola makan paling populer sepanjang tahun. Antusiasme tertinggi datang dari generasi muda, dengan sekitar 65% Gen Z dan milenial berusaha menambah asupan protein mereka. Motivasinya beragam, mulai dari membangun massa otot, menjaga kebugaran di usia senja, hingga sekadar ingin merasa lebih sehat.

Didorong Tren Kebugaran hingga Obat Diet

Ada beberapa faktor yang membuat protein begitu digandrungi. Selain budaya kebugaran dan gaya hidup sehat yang makin populer di media sosial, muncul pula pendorong baru yang cukup mengejutkan, yaitu obat penurun berat badan.

Di Amerika Serikat, meningkatnya penggunaan obat kelas GLP-1 seperti Ozempic turut mengerek permintaan protein. Obat jenis ini bekerja dengan menekan nafsu makan, sehingga penggunanya rentan kehilangan massa otot. Alhasil, mereka disarankan memperbanyak asupan protein untuk mengimbanginya. Tak heran, sebanyak 73% pengguna GLP-1 dilaporkan ingin mengonsumsi lebih banyak protein, yang ikut mendorong ledakan produk berprotein tinggi di pasaran.

Apakah Kita Benar-benar Kekurangan Protein?

Di tengah gegap gempita ini, sejumlah ahli justru mengingatkan agar konsumen tidak ikut terbawa arus. Menurut para pakar gizi, termasuk dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, sebagian besar orang sebenarnya sudah mendapatkan cukup protein dari makanan sehari-hari. Dengan kata lain, kita tidak sedang mengalami krisis kekurangan protein seperti yang kerap digambarkan iklan.

Justru, ada nutrisi lain yang lebih sering terlupakan, yaitu serat. Terlalu banyak mengonsumsi protein, apalagi dari sumber tinggi lemak jenuh seperti daging merah, malah dikaitkan dengan risiko penyakit jantung dan gangguan kesehatan lainnya. Jadi, sebelum ikut memborong produk berlabel tinggi protein, ada baiknya kita memastikan dulu apakah tubuh memang membutuhkannya, atau kita hanya sedang terbawa tren.

Via Unslash/Dylan Lu

Baca Juga