"Kami Hanya Ingin Udara Segar": Parade Asap, Protes Seniman Jambi dari Tengah Lahan Hangus

Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga pergi dari langit Jambi, dan sekelompok seniman memilih bersuara lewat cara yang sulit diabaikan.
Dalam karya bertajuk Parade Asap, para perempuan berbusana adat berbaris dan menari di tengah lahan yang sudah hangus, dengan masker hingga respirator menutupi wajah mereka. Foto-fotonya beredar luas di media sosial pada pekan kedua Oktober 2026, bersamaan dengan memburuknya kualitas udara di Kota Jambi.
Pesannya sederhana namun menohok, seperti yang ditulis sang inisiator dalam takarir Instagram-nya: “Kami bukan meminta kemewahan, kami hanya ingin udara segar.”
Busana Adat di Tengah Lahan yang Menghitam
Parade Asap digagas oleh Ichalago Chaniago, seniman asal Jambi, dan didokumentasikan lewat akun Instagram pribadinya, @ichalago.

Aksi teatrikal itu dilakukan di kawasan perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan yang terdampak karhutla. Warna busana adat yang mencolok tampil kontras dengan batang pohon yang menghitam dan tanah yang kelabu. Salah satu penari bahkan menggendong seekor monyet, sebagai pengingat bahwa satwa ikut kehilangan rumahnya.
Parade Asap tidak berhenti di media sosial. Para seniman juga menggelarnya sebagai pagelaran seni yang berisi pemutaran video art, pameran, dan diskusi publik dengan pertanyaan "Siapa yang terbakar? Siapa yang terpapar?"
Menuntut Hak atas Udara Bersih
Dalam takarirnya, Ichalago menggambarkan keseharian warga Jambi di bawah asap, mulai dari mata perih, tenggorokan sakit, hingga anak-anak yang kesulitan bernapas.
“Sekolah diliburkan, aktivitas terhenti, ekonomi keluarga pun terpuruk,” tulisnya. Ia mendesak agar pembakaran lahan dihentikan, pelakunya ditindak secara hukum, dan lahan gambut dipulihkan.
“Kami berhak mendapatkan udara bersih, hak yang seharusnya dijamin negara,” tulis Ichalago.

Keluhan itu tercermin dalam data. Pada 7 Oktober, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kota Jambi sempat menyentuh angka 664, masuk kategori berbahaya. Sehari kemudian, sembilan penerbangan di Bandara Sultan Thaha dibatalkan karena kabut asap.
Dinas Kesehatan Kota Jambi mencatat lebih dari 6,500 warga mengeluhkan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 15 September, dan sekolah dari jenjang TK hingga SMP berulang kali dialihkan ke pembelajaran jarak jauh. Menurut analisis citra satelit Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, luas lahan yang terbakar di Jambi hingga pekan kedua Oktober sudah mencapai 42,455 hektare.
Suara Serupa dari Palembang dan Palangka Raya
Parade Asap bukan satu-satunya. Di Palembang, akun @menjaga.api menjadi ruang kolaborasi seniman lewat Jaga Api Art Exhibition, pameran foto dan lukisan bertema karhutla.
Salah satu karyanya berjudul Tarian Kehancuran Budaya, yang menampilkan penari @trialfiaaa_ dalam busana adat dan topeng oksigen di lahan bekas terbakar. Karya ini memakai Tari Tanggai, tarian yang biasanya dibawakan untuk menyambut tamu, lalu sengaja membalik maknanya menjadi sindiran. “
Polusi asap membuat sesak, nafas berat tersengal,” tulis sang penari dalam takarirnya.

Dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah, akun @muhmdrais__ membawa tarian ke tengah hutan yang hangus lewat karya Gerak Dalam Kehancuran. “The forest is not silent. Neither are we,” tulisnya.
Unggahan-unggahan ini mendapat respons luas. Banyak warganet meminta izin untuk membagikan ulang foto Parade Asap, sementara warganet dari Kalimantan Timur menyebut wilayah mereka menghadapi persoalan serupa.
Lewat busana adat yang biasanya hadir di panggung perayaan, para seniman ini menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya membakar pohon, melainkan juga mengancam kesehatan, ruang hidup, dan budaya masyarakat di sekitarnya.




