Ragam Reaksi Tokoh Dunia atas Demo Prancis: Trump Salahkan Imigrasi, Omar Sy Sebut "Cahaya Kecil"


Prancis sedang dilanda gelombang unjuk rasa terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, lebih dari setengah juta orang turun ke jalan di berbagai kota. Sebagian besar berlangsung damai, namun malam harinya diwarnai penjarahan dan pembakaran.
Kementerian Dalam Negeri mencatat hampir 2,400 orang ditangkap dan sekitar 1,000 polisi serta gendarmerie terluka, sementara sedikitnya dua orang meninggal dunia. Demo Prancis ini bermula dari hal yang jauh lebih sederhana, yaitu keluhan pelajar soal kekurangan guru. Kini, sejumlah tokoh dunia ikut angkat suara.
Berikut latar belakang, reaksi para tokoh, dan perkembangan terbarunya:
Bermula dari Kekurangan Guru

Aksi pertama terjadi pada 21 September di SMA Saint-Exupéry, pinggiran utara Paris. Para siswa bergabung dengan guru mereka yang mogok karena kekurangan staf. Tuntutan itu dipenuhi, namun gerakan serupa justru menyebar ke berbagai sekolah, dari Lille hingga Marseille.
Masalahnya memang menumpuk. Jumlah guru sekolah menengah kini lebih sedikit dibanding 2008, padahal jumlah siswanya bertambah sekitar 250,000 orang, dan 70 persen ruang kelas di sekolah negeri berisi lebih dari 30 siswa.
Respons polisi yang keras ikut memperbesar kemarahan publik, terutama setelah beredar video seorang polisi memakai teknik kuncian leher yang sudah dilarang terhadap seorang siswi. Seorang pelajar di Lens kehilangan tangan dan seorang lainnya di Tours kehilangan penglihatan di satu mata.
Dalam beberapa pekan, tuntutan demo Prancis ini meluas ke soal biaya hidup, layanan publik, dan kesenjangan ekonomi.
Reaksi Tokoh Dunia
Omar Sy

Aktor Lupin ini terang-terangan membela para pelajar. “Gerakan para pelajar ini adalah sebuah cahaya kecil,” kata Omar Sy dalam wawancara dengan radio France Inter, 14 Oktober. Ia menyebut para pelajar sebagai masa depan negeri yang sedang memberi arah, dan menilai respons pihak berwenang terhadap mereka memprihatinkan.
Donald Trump

Presiden Amerika Serikat itu justru menolak anggapan bahwa demo ini soal pendidikan. “Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah migrasi massal yang tak terkendali. Ini bukan soal sekolah, ini soal Islam yang ingin mengambil alih negara yang dulunya hebat!” tulis Trump di Truth Social. Wakil Presiden JD Vance juga mengunggah video balai kota Limoges yang terbakar dan menyalahkan kebijakan imigrasi.
Giorgia Meloni

Perdana Menteri Italia ini bereaksi setelah demo serupa merembet ke Milan. “Berdemonstrasi adalah hak. Menghancurkan kota-kota kita bukan hak,” tulis Meloni di X, sambil menyebut para perusuh sebagai preman yang memanfaatkan aksi untuk menebar kekacauan.
Para Tokoh Politik Prancis


Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen menilai “keluhan sosial yang sah, sekali lagi, telah disandera oleh kelompok kiri jauh.” Jordan Bardella menyebut pidato Macron memalukan dan pengecut, sementara tokoh kiri Jean-Luc Mélenchon menuding pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan.
Macron sendiri mengaku marah dan malu. “Mereka yang merusak harus membayar. Mereka yang menjarah harus mengganti,” tegasnya.
Update Terkini
Sejumlah kota kini memberlakukan jam malam terbatas, termasuk di kawasan Place de la République dan Les Halles di Paris, serta pembatasan di Lyon, Marseille, Nice, dan Lille. Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut langkah itu membantu menjaga situasi tetap tenang hingga Selasa dini hari.
Menurut Menteri Kehakiman Gérald Darmanin, sekitar 3,000 toko dijarah di seluruh negeri. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez sempat mengajukan pengunduran diri, namun ditolak Macron.
Protes dengan isu serupa, mulai dari pendidikan hingga biaya hidup, juga muncul di negara tetangga seperti Belgia, Portugal, dan Italia. Di dalam negeri, demo Prancis ini diperkirakan ikut membentuk peta pemilihan presiden pada musim semi mendatang.




