Empat Musim Pertiwi Wakili Indonesia di Oscar 2027, Film Kamila Andini yang Baru Tayang Perdana di Toronto

Indonesia sudah memilih jagoannya untuk Oscar tahun depan. Komite Seleksi Oscar Indonesia menetapkan Empat Musim Pertiwi karya Kamila Andini sebagai wakil resmi di kategori International Feature Film pada Academy Awards ke-99, yang akan digelar 14 Maret 2027 di Los Angeles.
Keputusan itu diumumkan pada 14 September 2026, hanya beberapa hari setelah filmnya tayang perdana dunia di Toronto International Film Festival, dan dikonfirmasi lewat rilis resmi Forka Films keesokan harinya. Dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Malasan, film ini menjadi kali kedua Andini membawa nama Indonesia ke Oscar setelah Yuni lima tahun lalu.
Tantangannya tidak kecil, karena sejak pertama mengirim film pada 1987, Indonesia belum sekali pun masuk nominasi.
Cerita Pertiwi dan Empat Musim yang Lahir dari Bromo
Pertiwi, diperankan Putri Marino, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun mendekam di penjara karena membunuh pria yang mencoba memerkosanya. Kampung yang ia tinggalkan menolak kepulangannya, dan ia dipaksa menghadapi kembali ingatan serta luka lama di tengah lanskap yang dibentuk oleh kekerasan dan ketegangan sosial yang mengakar.

Forka Films menyebut filmnya perpaduan drama psikologis, misteri, realisme magis, dan fiksi ilmiah, sementara Andini sendiri menggambarkan latarnya sebagai kota fiktif yang terasa seperti film western. Untuk peran ini, Marino berlatih berkuda dan adegan laga, dan ini kolaborasi keduanya dengan Andini setelah serial Gadis Kretek.
Judulnya lahir dari liburan keluarga ke Bromo pada 2017. Di sana Andini melihat satu tempat yang seolah memuat tekstur empat musim sekaligus, padahal Indonesia hanya mengenal dua. Dari situ ia ingin bercerita tentang empat musim kehidupan perempuan, fase-fase yang tidak selalu berjalan lurus, dan gagasan itu ia kembangkan ulang pada 2023 sampai menjadi film yang menurutnya paling berat yang pernah ia buat. Di JAFF Market akhir tahun lalu, ia merangkum yang ingin dibicarakan lewat tokoh Pertiwi sebagai kekuatan kolektif perempuan.
Produksi Lintas Tujuh Negara dan Nama-Nama Besar di Belakangnya
Ifa Isfansyah memproduseri film ini untuk Forka Films bersama Anthony Chen dari Giraffe Pictures Singapura, dan Forka menyebutnya koproduksi internasional yang melibatkan mitra dari Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan Singapura.
Pendanaannya dikumpulkan bertahap, dari Hubert Bals Fund dan Netherlands Film Fund sebesar 75,000 euro, dana Sørfond Norwegia, sampai dua penghargaan di Tokyo Gap-Financing Market pada Oktober 2025. Di dalam negeri, Miles Films, Imajinari, Trinity Optima, Jagartha, Navvaros, dan TEAMUP bergabung sebagai produser eksekutif, diumumkan di JAFF Market pada 1 Desember 2025. Isfansyah menyebutnya film terbesar Andini yang pernah ia produseri.
Sinematografinya digarap Batara Goempar, dialognya berbahasa Indonesia dan Jawa, dan durasinya 137 menit. Penjualan internasionalnya dipegang Goodfellas, perusahaan sales asal Paris yang biasa menangani film-film auteur, dan setelah program Centrepiece di Toronto, film ini dijadwalkan lanjut ke Busan International Film Festival dan Tokyo International Film Festival.
Jalan Menuju Oscar: Seleksi, Jadwal, dan Peluangnya
Seleksi dijalankan Komite Seleksi Oscar Indonesia di bawah Persatuan Perusahaan Film Indonesia, dengan Deddy Mizwar sebagai ketua pelaksana, lewat penilaian dan pemutaran khusus di XXI Senayan City, Jakarta.
Syarat Academy menjelaskan satu keputusan distribusi yang sempat membingungkan: film harus tayang komersial di Indonesia antara 1 Oktober 2025 dan 30 September 2026 selama minimal tujuh hari berturut-turut. Karena itu Empat Musim Pertiwi tayang terbatas mulai 22 September, sebelum rilis luasnya pada 8 Oktober.
Tahapan berikutnya panjang. Academy akan mengumumkan daftar pendek 15 film pada 15 Desember, nominasi pada 21 Januari, dan malam puncaknya digelar 14 Maret di Dolby Theatre.
Modal film ini adalah rekam jejak Andini di festival, dari Platform Prize Toronto untuk Yuni sampai Silver Bear Berlinale yang dimenangi Laura Basuki lewat Before, Now & Then, ditambah distributor internasional yang sudah terpasang dan jaringan koproduksi Eropa yang biasanya membantu sebuah film terlihat oleh para pemilih Academy. Peluangnya tetap perlu dibaca dengan kepala dingin, karena 27 pengajuan sebelumnya berhenti sebelum nominasi. Setidaknya, kali ini jalannya sudah dimulai dari Toronto.





