Volix
Moviesoperasi pesta copetfilm indonesiaketimpangan sosialrekomendasi filmdrama indonesia

8 Film Indonesia Soal Ketimpangan, dari Operasi Pesta Copet sampai Laskar Pelangi

Iqbal Baskari·
8 Film Indonesia Soal Ketimpangan, dari Operasi Pesta Copet sampai Laskar Pelangi (1)8 Film Indonesia Soal Ketimpangan, dari Operasi Pesta Copet sampai Laskar Pelangi (2)
Via Imajinari, Miles Films

Sinema Indonesia punya kebiasaan yang jarang disadari penontonnya sendiri. Ia terus kembali ke satu pertanyaan yang sama, yaitu apa yang terjadi pada seseorang ketika pilihan hidupnya menyempit sampai habis.

Jawabannya muncul dalam bentuk yang sangat berbeda-beda, mulai dari komedi kriminal yang masih tayang di bioskop sampai dokumenter yang proses syutingnya memakan waktu enam tahun. Yang membedakan film terbaik di kategori ini bukan seberapa berat ceritanya, melainkan cara mereka memperlakukan tokohnya.

Delapan judul berikut tidak menempatkan siapa pun sebagai objek belas kasihan, dan tidak satu pun menutup cerita dengan ceramah. Urutannya dimulai dari yang paling baru:

1. Operasi Pesta Copet (2026)

Via Imajinari

Judul terbaru di daftar ini masih tayang di bioskop sejak 27 Agustus 2026. Film arahan Edy Khemod ini mengikuti empat orang yang terjepit secara ekonomi lalu nekat merencanakan pencopetan 300 ponsel di Pestapora, festival musik terbesar di Indonesia. Bungkusnya komedi heist dan ritmenya cepat, tetapi motif para tokohnya sama sekali tidak lucu.

Bagian yang membuatnya berbeda dari komedi kriminal biasa: syutingnya benar-benar digelar di tengah festival musik yang sedang berlangsung, dengan sekitar 100,000 pengunjung asli di sekelilingnya.

2. Home Sweet Loan (2024)

Via Visinema

Diadaptasi dari novel Almira Bastari, film arahan Sabrina Rochelle Kalangie ini mengikuti seorang pekerja kantoran yang menabung mati-matian demi rumah pertamanya, sambil terus menanggung kebutuhan keluarga besarnya. Ketidakadilan di sini tidak pernah dramatis, melainkan aritmetis. Gajinya naik, harga rumah yang ia incar naik lebih cepat, dan tidak ada satu pun tokoh jahat yang bisa disalahkan.

Film produksi Visinema ini meraih 1,7 juta penonton dan memenangi Piala Citra untuk Skenario Adaptasi Terbaik pada 2025.

3. Keluarga Cemara (2018)

Via Cerita Films

Debut penyutradaraan Yandy Laurens ini berangkat dari satu peristiwa yang terjadi sebelum filmnya dimulai. Harta keluarga Abah habis akibat persoalan yang dibuat kerabatnya sendiri, dan mereka harus meninggalkan Jakarta untuk tinggal di sebuah rumah di kawasan Bogor.

Kekuatannya justru terletak pada apa yang tidak dilakukan film ini. Tidak ada tokoh antagonis, tidak ada adegan yang memaksa penonton menangis, dan tidak ada janji bahwa semuanya akan kembali seperti semula.

4. Turah (2016)

Via Fourcolours Films

Berlatar Kampung Tirang di Kota Tegal, permukiman di atas tanah timbul yang dikelilingi air laut, film Wicaksono Wisnu Legowo ini seluruhnya berbahasa Jawa Tegal. Warganya hidup dengan listrik dan air bersih seadanya, dan bergantung pada seorang pemilik tanah bernama Darso. Ketergantungan itulah temanya, terutama karena dibungkus sebagai kebaikan hati.

Turah dipilih mewakili Indonesia di Academy Awards ke-90 oleh dewan juri yang diketuai Christine Hakim.

5. Siti (2014)

Via Fourcolours Films

Eddie Cahyono memotret Parangtritis tanpa warna sama sekali. Siti berjualan pada siang hari dan bekerja sebagai pemandu karaoke pada malam hari, sambil merawat suaminya yang lumpuh sekaligus membesarkan anaknya. Film ini menolak menjadikan tokoh utamanya suci, dan justru di situ letak kejujurannya. Siti boleh lelah, boleh marah, dan boleh membuat keputusan yang mengecewakan penonton.

Siti memenangi Piala Citra untuk Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.

6. Jalanan (2013)

Via Miles Films

Daniel Ziv merekam tiga musisi jalanan Jakarta, yaitu Bambang Mulyono, Titi Juwariyah, dan Boni Putera, selama enam tahun. Dari sekitar 250 jam rekaman, tersisa 107 menit yang memenangi Best Documentary di Busan International Film Festival 2013. Ketiganya bukan tokoh rekaan, dan lagu yang mereka nyanyikan di dalam bus adalah karya mereka sendiri.

Itu yang membuat filmnya sulit dilupakan, karena penonton tidak bisa menghibur diri bahwa ini hanya cerita.

7. Alangkah Lucunya (Negeri Ini) (2010)

Via Citra Sinema

Enam belas tahun sebelum Operasi Pesta Copet, Deddy Mizwar sudah mengajukan pertanyaan yang serupa. Muluk, diperankan Reza Rahadian, adalah sarjana yang menganggur hampir dua tahun dan akhirnya berakhir mengelola keuangan sekelompok remaja pencopet. Satirenya tajam justru karena tidak pernah menyalahkan anak-anak itu, melainkan menyorot sistem yang membuat ijazah tidak lagi menjamin apa pun.

Film ini meraih 13 nominasi Piala Citra dan memenangi tiga di antaranya.

8. Laskar Pelangi (2008)

Via Miles Films

Riri Riza dan Mira Lesmana mengangkat novel Andrea Hirata tentang SD Muhammadiyah di Belitung yang terancam ditutup karena jumlah muridnya hanya sepuluh orang. Kekejamannya sederhana, dan justru karena itu membekas. Akses pendidikan sekelompok anak bisa hilang hanya karena kurang satu kepala.

Dengan 4,6 juta penonton, film ini sempat memegang rekor sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa dan membuka jalan bagi banyak film yang menyusul setelahnya.

Jarak antara judul terlama dan terbaru di daftar ini adalah delapan belas tahun. Pertanyaan yang mereka ajukan nyaris tidak berubah, dan itu bagian yang paling tidak nyaman dari menonton kedelapannya berurutan.

Baca Juga