Masterclass FFI 2026 Tayang Gratis di YouTube: Tujuh Mentor dari Joko Anwar sampai Rukman Rosadi


Festival Film Indonesia tidak berhenti di panggung Piala Citra. Mengiringi tema "Askala Karya Sinema Indonesia", FFI merilis Masterclass FFI, program edukasi berisi pengalaman langsung para praktisi film nasional, yang mulai tayang di kanal YouTube Festival Film Indonesia pada 19 September 2026.
Aksesnya terbuka dan gratis, dengan video yang diunggah bertahap setiap minggu, dan diisi tujuh mentor dari bidang berbeda. Program ini muncul di tengah jalannya FFI 2026 yang sudah menyaring 531 karya terdaftar menjadi 15 film cerita panjang yang melaju ke tahap nominasi.
Berikut isi programnya dan posisi festival ini sejauh ini:
Tujuh Mentor Masterclass FFI dan Bidangnya
Para mentor dipilih berdasarkan pengalaman di produksi film nasional dan kontribusinya terhadap industri, dengan rekam jejak di FFI sebagai salah satu pertimbangan. Keberagaman bidangnya membuat program ini menjadi ruang untuk melihat proses pembuatan film dari berbagai sudut.
1. Rukman Rosadi (Pemeranan), aktor berlatar teater yang masuk nominasi Pemeran Pendukung Pria Terbaik FFI 2022 lewat Inang, sekaligus pendiri Saturday Acting Club.
2. Joko Anwar (Penyutradaraan), sutradara Pengabdi Setan, Pengepungan di Bukit Duri, dan Ghost in the Cell.
3. Aktris Handradjasa (Tata Rias), peraih Piala Citra Penata Rias Terbaik FFI 2023 lewat Sri Asih, sebelumnya menangani Habibie & Ainun 3.
4. Hagai Pakan (Tata Busana), peraih Piala Citra Penata Busana Terbaik FFI 2020 lewat Abracadabra, dengan dua nominasi sekaligus pada FFI 2025.
5. Hendra Adhi Susanto (Penyuntingan Gambar), peraih Piala Citra Penyunting Gambar Terbaik FFI 2025 lewat Sore: Istri dari Masa Depan.
6. Tumpal Tampubolon (Penulisan Skenario), peraih Piala Citra Penulis Skenario Asli Terbaik FFI 2014 lewat Tabula Rasa.
7. Faozan Rizal (Sinematografi), penata kamera Ayat-Ayat Cinta sekaligus pengajar di Institut Kesenian Jakarta.
Masterclass Pemeranan bersama Rukman Rosadi sudah tayang lebih dulu, dengan bagian pertama pada 19 September dan bagian kedua sehari sesudahnya. Menurut Prilly Latuconsina, Ketua Bidang Program FFI, format digital dipilih supaya materinya bisa diakses tanpa batasan lokasi dan waktu, dan program ini disiapkan sebagai investasi jangka panjang.
Jalannya FFI 2026 Sejauh Ini
FFI 2026 resmi diluncurkan pada 18 Juni dengan Ario Bayu sebagai Ketua Komite. Pendaftaran dibuka sampai 31 Agustus dan menjaring 531 karya: 93 film cerita panjang, 177 film cerita pendek, 110 karya kritik film, 73 film dokumenter pendek, 57 film animasi pendek, 20 film dokumenter panjang, dan satu film animasi panjang. Menurut Ario Bayu, horor kembali menjadi genre terbanyak di antara film yang mendaftar, diikuti komedi dan drama.
Tahun ini penjurian film cerita panjang dipangkas dari empat tahap menjadi tiga: seleksi awal, nominasi, dan penentuan pemenang. Kategori lagu tema juga diperketat dan berganti nama menjadi Pencipta Lagu Tema Asli Terbaik, agar yang diapresiasi adalah lagu yang memang dibuat khusus untuk film.
Hasilnya sudah terlihat. Pada 6 September, tim seleksi awal yang terdiri dari sutradara Agung Sentausa, produser Gita Fara, dan penulis skenario Swastika Nohara bersama komite penjurian meloloskan 25 film cerita panjang. Sepuluh hari kemudian, daftar itu mengerucut menjadi 15 judul, kali ini dengan melibatkan 12 asosiasi profesi perfilman untuk pertama kalinya di tahap seleksi awal. Ketua Bidang Penjurian Budi Irawanto menyebut pelibatan itu bertujuan mempertajam penyaringan berdasarkan kepakaran masing-masing asosiasi.
Lima belas film tersebut adalah Abadi Nan Jaya, Badut Gendong, Dopamin, Ghost in the Cell, Ikatan Darah, Monster Pabrik Rambut, Na Willa, Nobody Loves Kay, Operasi Pesta Copet, Para Perasuk, Semua Akan Baik-Baik Saja, Senin Harga Naik, Surat Untuk Masa Mudaku, Tukar Takdir, dan Tunggu Aku Sukses Nanti.
Kritik, Respons, dan Agenda Berikutnya

Hasil seleksi itu tidak lepas dari kritik. Sejumlah warganet mempersoalkan tersingkirnya beberapa judul di tahap awal, di antaranya Aku Sebelum Aku dan Legenda Kelam Malin Kundang, yang dinilai unggul secara teknis.
Ario Bayu menanggapi bahwa komite berperan sebagai fasilitator yang menyediakan sistem, bukan pihak yang menentukan film mana yang layak, dan menegaskan prosesnya dijalankan secara adil, objektif, serta bersandar pada para ahli di bidangnya.
Agenda berikutnya adalah pengumuman nominasi pada Oktober, diikuti Nomination Week yang memutar film-film nominasi untuk publik, program baru lain dari FFI 2026. Puncaknya, Malam Anugerah Piala Citra digelar pada 20 November.
Sambil menunggu, Masterclass FFI tetap berjalan setiap minggu di YouTube, dan itu bagian paling mudah diakses dari festival ini.




