Volix
ExclusiveMoviesempat musim pertiwikamila andiniputri marinoarya salokaoscar 2027film indonesia

Dari Bromo ke Oscar: Perjalanan Panjang Empat Musim Pertiwi, Film Putri Marino yang Digarap Delapan Negara

Iqbal Baskari·
Dari Bromo ke Oscar: Perjalanan Panjang Empat Musim Pertiwi, Film Putri Marino yang Digarap Delapan Negara
Via Forka Films

Kamila Andini kembali dengan film yang disebut-sebut sebagai karyanya yang paling ambisius. Empat Musim Pertiwi tampil perdana di program Centrepiece Toronto International Film Festival pada 13 September 2026, lalu tayang di bioskop Indonesia sejak 8 Oktober.

Di antara dua tanggal itu, film ini terpilih sebagai wakil Indonesia untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards ke-99. Putri Marino, Arya Saloka, dan Christine Hakim memimpin jajaran pemainnya, dengan Ifa Isfansyah sebagai produser.

Berikut beberapa serba serbi seputar film ini, didukung oleh beberapa materi yang dikumpulkan Volix setelah bincang-bincang langsung dengan para cast and crew-nya:

Sinopsis Empat Musim Pertiwi

Via Forka Films

Pertiwi (Putri Marino) pulang ke desanya di kawasan Gunung Bromo setelah sekitar 20 tahun mendekam di penjara. Ia dihukum karena membunuh seorang pria, sebuah kasus yang berakar dari kekerasan seksual yang dialaminya saat remaja.

Kepulangannya disambut dingin, karena keluarga dan tetangga masih mengingat masa lalunya. Hanya segelintir orang yang mau menerimanya, di antaranya Mak Ira (Christine Hakim), Bisma (Arya Saloka), dan Niken (Hana Pitrashata Malasan). Pulang juga berarti membuka kembali peristiwa yang membuatnya dipenjara, sambil mencari cara untuk kembali menata hidup.

Film berklasifikasi 17+ ini memuat tema kekerasan seksual dan bahasa-bahasa kasar.

Di Balik Layar: Dari Bromo ke Delapan Negara

Gagasan film ini lahir dari perjalanan keluarga Kamila ke Bromo pada 2017. Lanskapnya seolah menyimpan empat musim, padahal Indonesia tidak mengenal empat musim. “Di titik itu memang dulu ingin sekali cerita tentang empat musim kehidupan perempuan atau fase kehidupan perempuan,” kata Kamila.

Jalan produksinya panjang dan lintas benua. Proyek ini mengikuti pasar proyek di Far East Film Festival, CineMart di Rotterdam, dan Berlinale Co-Production Market, lalu memenangi Tokyo Project Award serta Kongchak Award di Tokyo Gap-Financing Market.

Hasilnya, film ini menjadi produksi bersama Indonesia, Singapura, Belanda, Norwegia, Jerman, Prancis, Polandia, dan Thailand, dengan sutradara Singapura Anthony Chen sebagai salah satu ko-produser.

Di depan kamera, Putri Marino dan Arya Saloka kembali bekerja dengan Kamila setelah serial Gadis Kretek. Film ini juga melibatkan Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, dan Hanna Aretha, aktris tuli.

Putri Marino, Arya Saloka dan Hana Pitrashata Malasan
Putri Marino, Arya Saloka dan Hana Pitrashata Malasan · Via VOLIX

"Pertiwi ini adalah karakter paling kompleks, jauh banget dari Putri. Pertiwi ini masih bernafas, tapi dalamnya mati. Itu jujur belom pernah aku explore di karakter-karakter aku sebelumnya. Jadi emang challenging banget untuk mem-potray seorang yang masih bernafas, tapi dalamnya mati. Mungkin poin itu yang membuat aku 'wah, ini susah banget sih'," ujar Putri Marino saat ditemui Volix pada September lalu.

Sementara itu, Arya bagi kesan memerankan Bisma, seorang koboi Bromo yang memiliki masa lalu bersama Pertiwi. Arya dituntut berlatih naik kuda untuk perannya kali ini yang ia sangat bersyukur dapat mainkan.

"Perasaannya happy ya, karena saya selalu mengkhayal syuting gak harus potong kumis dan jenggot, rambut gak selalu harus rapi dan pakai topi koboi. Karena saya senang film Questin (Tarantino), saya senang Django (Unchained), jadi saya merasa kayak lagi di-direct Quentin Tarantino versi perempuan," ungkap Arya.

Pesan Moral: Ketidakadilan dengan Banyak Wajah

Di balik ceritanya, Empat Musim Pertiwi berbicara tentang trauma dan kekerasan yang diwariskan lintas generasi, patriarki yang menekan perempuan, serta orang-orang yang terpinggirkan di desanya sendiri.

Empat musim dalam judulnya menjadi metafora fase hidup yang tidak berjalan lurus, dari masa gelap hingga kemungkinan untuk pulih. “Di Indonesia itu ketidakadilan wajahnya banyak, bentuknya banyak,” kata Kamila.

“Apa yang terjadi dengan Pertiwi bicara tentang ketidakadilan. Ada trauma-trauma kolektif. Namun dari film ini, dengan mengikuti Pertiwi, kita bisa sedikit melihat bagaimana bahkan dengan kerapuhan, seseorang juga bisa menemukan kekuatan-kekuatan atau bahkan menjadi kekuatan juga untuk orang lain. Bicara tentang trauma kolektif, tapi juga bicara tentang collective power yang bisa didapatkan dari perjalanan Pertiwi."

Jalan Panjang Menuju Oscar

Komite Seleksi Oscar Indonesia memilih Empat Musim Pertiwi sebagai wakil ke-27 Indonesia pada 16 September. Ini menjadi kali kedua karya Kamila dikirim ke Oscar setelah Yuni pada 2021, sementara Indonesia sendiri belum pernah meraih nominasi di kategori ini.

Ifa Isfansyah dan Kamila Andini
Ifa Isfansyah dan Kamila Andini · Via VOLIX

“Saya merasa sangat terhormat bahwa film ini akan mewakili Indonesia di ajang Academy Awards,” kata Kamila.

Strategi kampanyenya sudah disiapkan. Forka Films menggandeng agen penjualan asal Prancis, Goodfellas, dan berencana memusatkan kampanye di Los Angeles setelah pemutaran di Busan International Film Festival.

"Pada saat ke Toronto kemarin, sebenarnya itu sudah merupakan langkah pertama yang kemudian menjadi bagian dari strategi itu. Kemudian, pas sekali announcement perwakilan Oscar itu pas kita ada di sana. Kemudian juga kami punya sales agent yang cukup kuat, dan itu yang kita berkolaborasi bersama," ujar Ifa Isfansyah.

Pemungutan suara awal untuk menentukan daftar pendek berlangsung pada 7 sampai 11 Desember, nominasi diumumkan pada 21 Januari 2027, dan malam puncak Academy Awards digelar pada 14 Maret 2027.

Untuk sekarang, penonton di Indonesia dapat menilai sendiri kemampuan film ini untuk mendobrak pintu Oscars di bioskop.

Baca Juga