Volix
Foodtiramisudessert of the yeartren kuliner 2026dessert viralkafe jakartakopi kenangan

Tiramisu Dinobatkan Dessert of the Year 2026, dari Pemulih Tenaga di Treviso sampai Antrean Blok M

Iqbal Baskari·
Tiramisu Dinobatkan Dessert of the Year 2026, dari Pemulih Tenaga di Treviso sampai Antrean Blok M
Via Pexels/Fatih Sucu

Ada satu kata yang belakangan muncul terus di menu kafe, rak supermarket, dan daftar minuman kedai kopi, yaitu tiramisu. Food Network menobatkannya sebagai dessert of the year 2026, dan penobatan itu bukan sekadar tebakan redaksi.

Data pendukungnya menyusul dari beberapa arah, mulai dari peringkat tren rasa di Amerika Utara sampai angka penjualan ritel di Inggris. Yang menarik, pemenangnya justru bukan menu yang lahir dari satu video viral, melainkan dessert Italia berumur lebih dari setengah abad.

Di Jakarta sendiri, antrean untuk sepotong tiramisu sudah mengular jauh sebelum penobatan itu keluar.

Penobatannya Datang Lengkap dengan Angka

Food Network menggambarkan tiramisu sebagai ekspor Italia dengan aura mewah yang jauh lebih murah daripada tiket pesawat ke Riviera. Penilaian itu tidak berdiri sendiri. Tastepoint by IFF menempatkan tiramisu di peringkat pertama tren rasa Amerika Utara untuk tahun ini, sementara peritel Inggris Marks & Spencer mencatat penjualan tiramisu mereka naik 27 persen.

Bentuknya pun ikut berubah. Tiramisu kini muncul sebagai kue pengantin, sebagian dicetak dengan stensil dan sebagian lagi disendok ke gelas coupe lalu ditumpuk menyerupai menara sampanye.

Lompatan Terbesarnya: dari Piring ke Gelas Kopi

Via about.starbucks.com

Perpindahan paling menentukan terjadi di kedai kopi. Starbucks Reserve memperkenalkan Tiramisu Latte pada awal tahun ini, sementara Dunkin' memasang empat minuman berbasis tiramisu sekaligus di menu musim gugurnya, yaitu Tiramisu Cloud Latte, Tiramisu Shakin' Espresso, Tiramisu Marshmallow Matcha, dan Tiramisu Protein Latte. Hershey's bahkan merilis cokelat batang dengan rasa yang sama.

Permintaannya nyata, bukan sekadar ramai di lini masa. Marrone Café di kawasan Soho, London, yang baru buka pada Agustus, kehabisan stok dalam dua setengah jam pada hari pertamanya.

Di Indonesia, Trennya Sudah Berjalan Duluan

Pasar Indonesia tidak menunggu penobatan itu. Kopi Kenangan, yang jaringannya mencapai 1,351 gerai, menjual Tiramisu Latte mulai Rp23,000 untuk ukuran reguler dan sempat menawarkan seri tiramisu mulai Rp20,000. Rekomendasinya ramai beredar di Threads sepanjang September.

Di sisi dessert, Maiku di Jalan Melawai Nomor 6, Blok M, menjadi contoh paling jelas. Usahanya bermula dari penjualan daring, lalu berkembang menjadi tiga titik di Blok M, Pondok Indah Mall, dan BSD. Tiramisu klasiknya dibanderol sekitar Rp65,000, dengan varian Matcha Jasmine, Earl Grey, Blueberry, dan Pistachio. Antreannya mengular hampir setiap akhir pekan.

Namanya Sendiri Berarti "Angkat Aku"

Kata tiramisu berasal dari frasa Italia tirami sù, yang berarti angkat aku atau buat aku ceria lagi. Akarnya bukan dari dapur restoran, melainkan dari kebiasaan rumahan di Treviso bernama sbatudin, campuran sederhana kuning telur yang dikocok bersama gula. Pada abad ke-19, ramuan itu dipercaya memulihkan tenaga dan biasa diberikan kepada anak-anak serta perempuan setelah melahirkan.

Versi modernnya dikembangkan Roberto “Loli” Linguanotto bersama Alba Campeol di restoran Le Beccherie, Treviso, sekitar akhir 1960-an, dan resmi masuk daftar menu pada 1972. Klaim tersebut punya penantang. Wilayah Friuli-Venezia Giulia juga mengaku sebagai asalnya lewat restoran Il Vetturino di Udine pada 1950-an, dengan resep yang memakai sponge cake dan marsala, bukan savoiardi dan espresso seperti versi Treviso.

Kenapa Justru Sekarang?

Jawabannya ada pada kombinasi yang jarang dimiliki menu viral, yaitu familiar sekaligus lentur. Tiramisu sudah dikenal lintas generasi, sehingga tidak perlu dijelaskan lebih dulu sebelum dicoba. Di saat yang sama, empat bahan intinya, yaitu mascarpone, savoiardi, espresso, dan bubuk kakao, mudah dipindahkan ke bentuk apa pun, dari latte sampai cokelat batang.

Faktor keduanya adalah pergeseran selera. Menjelang tahun ini, minat terhadap makanan yang dibesarkan media sosial mulai mendingin, dan konsumen kembali memilih rasa yang sudah mereka kenal. Tiramisu berada persis di titik itu, yaitu nostalgia yang tetap layak difoto, sekaligus manis yang tidak menuntut penjelasan.

Via Pexels/Belal Alshugri

Baca Juga