Volix
Moviesdokumenter nazanazayuval abrahamthe guardianfestival film venesiafilm dokumenter

Serba-serbi Dokumenter NAZA yang Gratis Online November, dari Rekor Ovasi Venesia sampai Bantahan Militer Israel

Iqbal Baskari·
Serba-serbi Dokumenter NAZA yang Gratis Online November, dari Rekor Ovasi Venesia sampai Bantahan Militer Israel (1)Serba-serbi Dokumenter NAZA yang Gratis Online November, dari Rekor Ovasi Venesia sampai Bantahan Militer Israel (2)
Via The Guardian, Reuters

Sebuah dokumenter berdurasi 80 menit memecahkan rekor ovasi terpanjang dalam sejarah Festival Film Venesia, lalu membuat kedua sutradaranya dituduh melakukan pengkhianatan di negaranya sendiri.

Film itu adalah NAZA, karya sineas Israel Yuval Abraham dan Rachel Szor, yang diproduksi bersama surat kabar Inggris The Guardian. Mulai akhir November 2026, dokumenter NAZA akan bisa ditonton gratis di situs The Guardian, tanpa batas waktu, setelah edaran bioskopnya selesai. Judulnya sendiri merupakan akronim bahasa Ibrani untuk collateral damage, atau kerusakan sampingan.

Berikut serba-serbi proses pembuatan, isi tuduhan, dan kontroversi yang menyusul filmya:

Rilisnya Gratis, Tanpa Batas Waktu

Perilisan bebas biaya itu bukan keputusan komersial biasa. Abraham menyatakan filmnya dipublikasikan gratis “karena kepentingan dan signifikansi publik”. Para produsernya juga menawarkan film tersebut tanpa biaya kepada jaringan bioskop di Israel sebelum tayang daring, sesuatu yang menurut Abraham menuntut “keputusan berani di hadapan kekerasan besar yang berupaya menguburnya”.

Still dari Trailer Dokumenter 'NAZA'
Still dari Trailer Dokumenter 'NAZA' · Via The Guardian

Sebelum masuk ke jalur gratis, filmnya menempuh edaran bioskop lebih dulu. Premier dunianya berlangsung di Venesia pada 10 September, pemutaran komersialnya dimulai akhir September, dan penayangan Amerika Serikat dibuka di IFC Center, New York, lalu meluas ke Los Angeles serta pasar utama lain pada 9 Oktober.

Distribusinya ditangani MK2 dan sudah mengamankan distributor di 56 teritori, termasuk Indonesia. Meski demikian, tanggal tayang dan jaringan bioskop untuk Indonesia belum diumumkan, sehingga masuknya Indonesia ke daftar itu belum berarti tiketnya tersedia.

Proses Pembuatan: Rooftop Tel Aviv dan Wajah yang Disamarkan

Filmnya tidak dimulai sebagai film. Dasarnya adalah rangkaian investigasi jurnalistik Abraham yang terbit di +972 Magazine dan Local Call, dua media Israel, dengan proses penelusuran yang berjalan hampir tiga tahun.

Materi utamanya berupa wawancara dengan 24 tentara dan perwira intelijen Israel. Perekamannya dilakukan secara diam-diam pada malam hari di atap gedung-gedung Tel Aviv, dan identitas seluruh narasumber disamarkan secara digital.

Di kursi produser ada James Wilson dari JW Films, dengan The Guardian sebagai produser bersama dan Harry Davies, koresponden investigasi surat kabar tersebut, ikut tercatat sebagai produser. Abraham dan Szor sendiri bukan nama baru, keduanya sebelumnya terlibat sebagai sutradara No Other Land, dokumenter yang memenangi Academy Award.

Reaksi Penonton: Ovasi 24,5 Menit

Kru Dokumenter 'NAZA' di Venice Film Festival 2026
Kru Dokumenter 'NAZA' di Venice Film Festival 2026 · Via Scott A Garfitt/Invision/AP

Reaksi paling terdokumentasi datang dari Venesia. Pemutaran perdananya diakhiri ovasi berdiri selama 24,5 menit, yang tercatat sebagai yang terpanjang dalam sejarah festival tersebut dan melewati rekor 22 menit milik The Voice of Hind Rajab tahun lalu. Jonathan Glazer, sutradara The Zone of Interest yang menjadi produser eksekutif film ini, memeluk Abraham dan Szor sepanjang tepuk tangan berlangsung.

Dokumenter NAZA kemudian membawa pulang Special Jury Prize dari Venesia, dan menerima ulasan awal yang kuat dari para kritikus. Di Israel, penerimaannya berjalan ke arah sebaliknya.

Isi Tuduhan-TUDUHANnya

Menurut sinopsis resminya, dokumenter NAZA memaparkan secara rinci sistem di balik pembunuhan massal warga sipil Palestina di Gaza yang disebutnya terencana. Kesaksian di dalamnya menyoroti pemakaian sistem pengolahan data dan kecerdasan artifisial bernama Lavender serta Habsora dalam proses penentuan target.

Dua klaim yang paling banyak dikutip media: tingkat kesalahan sistem tersebut disebut mencapai 10 persen, dan terdapat satu kasus ketika kemungkinan 500 korban sipil telah diketahui sebelum sebuah serangan disetujui.

Kontroversinya: Bantahan Militer dan Tuduhan Pengkhianatan

Militer Israel membantah tuduhan utama dokumenter NAZA. Juru bicara IDF menyatakan pihaknya “menolak tuduhan-tuduhan tersebut secara kategoris” dan menegaskan bahwa keputusan pemilihan serta persetujuan serangan dibuat oleh personel manusia sesuai pedoman IDF, bukan oleh kecerdasan artifisial.

IDF mengakui Lavender memang ada, namun menyebutnya basis data serbaguna yang menyusun dan menyilangkan lapisan sumber intelijen yang sudah tersedia, bukan daftar target yang sudah disetujui untuk diserang. Terkait klaim 500 korban sipil, pihak militer menyatakan hal itu tidak dapat diverifikasi dan tidak memiliki bukti pendukung yang nyata. Sejumlah pihak juga mempersoalkan kredibilitas narasumber anonim film tersebut.

Tekanan berikutnya datang dari ranah politik. Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar menuduh Abraham dan Szor melakukan pengkhianatan serta menyerukan pencabutan kewarganegaraan keduanya, sementara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengusulkan legislasi untuk mencabut kewarganegaraan warga Israel yang mencemarkan nama IDF di luar negeri.

Kedua sutradara menolak kerangka tersebut. “Jurnalisme bukan pengkhianatan. Kritik bukan pengkhianatan,” kata Abraham. Dalam pernyataan bersama, keduanya menyebut film ini dibuat atas dasar kewajiban untuk memakai posisi mereka sebagai warga Israel guna memeriksa sistem yang berada di balik peristiwa yang menjadi tanggung jawab negara mereka.

Baca Juga