Volix
Moviesyou can see everythingnathan fielderelizabeth holmesletterboxda24film dokumenter

Sempat Tembus 4,8 di Letterboxd, Dokumenter Elizabeth Holmes You Can See Everything Banjir Pujian

Iqbal Baskari·
Sempat Tembus 4,8 di Letterboxd, Dokumenter Elizabeth Holmes You Can See Everything Banjir Pujian
Via A24

Dokumenter You Can See Everything menjadi perbincangan hangat pencinta film sejak dirilis di Amerika Serikat pada 16 Oktober 2026. Film garapan Nathan Fielder dan Lance Oppenheim yang mengikuti pendiri Theranos, Elizabeth Holmes, ini meraih skor nyaris sempurna di berbagai platform.

Di Letterboxd, rata-ratanya sempat menyentuh 4,8 dari 5 dan menjadikannya film panjang berating tertinggi sepanjang masa di platform tersebut. Skornya juga mencapai 99 persen di Rotten Tomatoes dan 99 di Metacritic. Di box office, film produksi A24 ini meraup 15 juta dolar AS pada akhir pekan pembukaan, jauh melampaui proyeksi.

Berikut sinopsis, skor, alasan film ini menuai pujian, hingga cerita di balik pembuatannya:

Sinopsis You Can See Everything

Pada 2023, 34 hari sebelum Elizabeth Holmes mulai menjalani hukuman penjara sekitar 11 tahun karena menipu investor lewat perusahaannya, Theranos, ia dan pasangannya, Billy Evans, mengundang Nathan Fielder dan Lance Oppenheim untuk merekam kehidupan mereka.

Via A24

Kru film tinggal bersama keduanya di sebuah rumah pantai sewaan di Del Mar, California. Meski diberi akses yang sangat luas, Fielder mulai curiga pasangan itu menyembunyikan sesuatu. Holmes tetap membantah pernah sengaja menyesatkan siapa pun soal alat tes darah Theranos, sementara ia dan Evans justru terus menghubungi calon investor untuk versi baru alat tersebut.

Dokumentasi Fielder dan Oppenheim hadir sebagai pintu bagi masyarakat untuk mengenal sosok Holmes sebenarnya di balik semua skandal yang melibatkannya. Apakah ia jelas-jelas seperti yang telah diduga selama ini. Namun, dokumenter ini tidak memberi jawaban tersebut sesederhana yang orang mungkin kira.

Skor Nyaris Sempurna di Banyak Platform

Lonjakan paling mencolok terjadi di Letterboxd. Per 18 Oktober, You Can See Everything mencatat rata-rata 4,8 dari lebih dari 144,000 ulasan, dengan 73 persen di antaranya memberi bintang lima.

Skor itu melewati deretan film legendaris seperti Harakiri, 12 Angry Men, dan Come and See. Angkanya masih bergerak seiring bertambahnya penonton, dan per 19 Oktober berada di kisaran 4,7 dari lebih dari 182,000 rating.

Di Rotten Tomatoes, film ini sempat meraih 100 persen dari lebih dari 80 ulasan kritikus sebelum turun tipis menjadi 99 persen, dengan skor penonton 98 persen. Metacritic memberinya nilai 99 dari 100 berdasarkan 37 ulasan, atau kategori "universal acclaim".

“Bukan hanya film terbaik tahun ini, ini adalah dokumenter yang sejajar dengan karya-karya terbaik sepanjang masa,” tulis Nick Schager dari The Daily Beast.

Meski begitu, tidak semua kritikus sepakat. Stephanie Zacharek dari Time memuji paruh keduanya, namun mengkritik nada filmnya yang terasa mengejek dan menilai pertanyaan besarnya soal hubungan pembuat dokumenter dengan subjek bukanlah hal baru.

Rekor di Box Office

Dengan bujet sekitar 7 juta dolar AS, film berdurasi 174 menit ini meraup 15 juta dolar AS dari 855 bioskop pada akhir pekan pertamanya.

Angka itu dua kali lipat proyeksi awal dan menjadi pembukaan terbaik untuk film dokumenter nonkonser sejak Fahrenheit 9/11 pada 2004. Di akhir pekan tersebut, hanya Street Fighter yang meraih pendapatan lebih besar.

Kenapa Menuai Pujian

Via A24

Banyak kritikus sepakat bahwa You Can See Everything sulit dikategorikan. Lindsey Bahr dari Associated Press menyebutnya karya seni pertunjukan yang memukau dari semua pihak yang terlibat, sekaligus sangat menghibur, bahkan durasi hampir tiga jamnya terasa cepat berlalu.

Kekuatan pertamanya ada pada cara Fielder, yang dikenal lewat serial Nathan for You dan The Rehearsal, menghadapi subjeknya. Ia tidak berpura-pura menjadi jurnalis, namun terus bertanya "mengapa" hingga jawabannya masuk akal, dan tidak takut membiarkan keheningan berlangsung lama. Holmes sendiri tampil penuh percaya diri. “Untuk apa saya menipumu?” tanyanya kepada Fielder dalam salah satu percakapan.

Strukturnya juga dipuji. Sekitar 90 menit berjalan, saat Holmes masuk penjara, film ini berbelok menjadi rangkaian rekonstruksi dan tafsir ulang atas rekaman sebelumnya.

Sean Burns dari WBUR membandingkannya dengan F for Fake karya Orson Welles dan menyebutnya “komedi canggung yang mengocok perut sekaligus penyelidikan filosofis yang berbobot tentang hakikat persepsi.” Gaya visualnya pun tidak seperti dokumenter pada umumnya, dengan pencahayaan tertata, kamera di atas tripod, dan bidikan wajah yang sangat dekat.

Di Balik Layar

Proyek ini berawal ketika Holmes dan Evans menghubungi A24 untuk membuat dokumenter tentang mereka. Oppenheim, yang berteman dengan Fielder sejak mengirim surel soal dokumenternya, Some Kind of Heaven, lalu mengajak Fielder bergabung. Judulnya diambil dari janji Holmes kepada para pembuat film.

Syuting berlangsung selama 34 hari pada 2023, sebelum Holmes masuk penjara pada 30 Mei. Fielder awalnya menolak tawaran menginap, namun akhirnya ikut tinggal di sana sekitar hari ke-20.

Kru yang terlibat hanya tujuh sampai delapan orang, dan A24 membebaskan mereka menghentikan proyek jika ternyata tidak ada cerita. Film ini dirahasiakan sekitar tiga tahun sebelum diputar mendadak di Telluride Film Festival pada 6 September.

“Saya benar-benar masih kesulitan sampai hari ini untuk memahami apa yang saya alami,” kata Fielder seusai pemutaran itu.

Amanda Seyfried, pemeran Holmes dalam serial The Dropout, ikut tampil, sementara Christopher Abbott memerankan Evans dalam adegan rekonstruksi. Musik garapan Ari Balouzian meminjam unsur skor Bernard Herrmann untuk Vertigo (1958) karya Alfred Hitchcock.Film ini juga meraih lima nominasi Critics' Choice Documentary Awards, termasuk Dokumenter Terbaik.

Hingga kini, belum ada informasi resmi soal jadwal tayangnya di Indonesia.

Baca Juga