Recap Ideafest 2026, dari Perdebatan AI sampai Empat Musim Pertiwi


Ada ironi yang sulit dilewatkan dari Ideafest 2026. Festival ini mengusung tema Re:Humanize, sebuah ajakan untuk menempatkan kembali manusia sebagai pusat, tetapi hampir setiap panggungnya berakhir membicarakan mesin.
Edisi ke-15 ini berlangsung pada 4 sampai 6 September 2026 di Jakarta International Convention Center, Senayan, dan menghadirkan lebih dari 500 pembicara dalam lebih dari 160 sesi IdeaTalks. Pertanyaan yang menggantung di banyak ruangan kurang lebih sama, yaitu apa yang masih benar-benar menjadi milik manusia ketika kecerdasan buatan sudah bisa mengerjakan sebagian besar pekerjaan.
Tiga momen berikut adalah yang paling menjawab pertanyaan itu, ditambah lagi panel film persembahan seniman-seniman yang masih peduli akan kemampuan artistik manusia.
Lima Belas Tahun dan Satu Tema yang Tidak Nyaman

Angka Ideafest tahun ini besar, tetapi yang lebih menarik justru pilihan temanya. Re:Humanize bukan tema yang menjual optimisme teknologi, melainkan tema yang mengaku ada yang sedang hilang. Co-Chair Ideafest Ben Soebiakto menyebut niatnya adalah mengajak publik melihat kembali apa yang membuat manusia tetap penting di tengah perkembangan AI.
Ia juga menyinggung hal yang jarang dikatakan terbuka dalam forum sebesar ini, yaitu bahwa generasi muda kini sangat bergantung pada AI hingga perangkat itu berfungsi layaknya rekan kerja. Sepanjang 15 tahun, festival ini sudah menampung lebih dari 2,500 pembicara dan menjangkau lebih dari 200,000 pengunjung. Daftar pengisi tahun ini pun sengaja dibuat melebar, mulai dari Tom Lembong, Tony Fernandes, dan Herald van der Linde di sisi bisnis, sampai Dian Sastrowardoyo, Jovial da Lopez, dan Sherina Munaf di sisi kreatif.
AI Jadi Topik yang Tidak Bisa Dihindari
Pembahasan AI di Ideafest 2026 tidak berhenti di sisi teknis. Ia masuk ke ranah kreativitas, budaya, bisnis, sampai cara orang bekerja sehari-hari. Nada umumnya bukan penolakan, melainkan pembagian tugas: teknologi memperluas kemampuan, sementara arah tetap ditentukan manusia.

President Director sekaligus CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan bahwa AI kini bisa dipakai siapa saja tanpa harus menjadi programmer atau insinyur. Ia mencontohkan seorang dokter di Tarakan yang kemampuannya bisa setara dengan dokter di New York berkat akses yang sama. SVP sekaligus Head of Corporate Communications Indosat, Ovidia Nomia, menambahkan bahwa AI memang membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi penentu arahnya tetap manusia.
Argumen itu juga hadir dalam bentuk fisik. Indosat bersama seniman Sarkodit memasang instalasi bertajuk Peran-Tara, yang mengingatkan bahwa rasa ingin tahu, imajinasi, dan kebijaksanaan tidak bisa dipindahkan ke perangkat.
Najwa Shihab dan Pandji Pragiwaksono di Assembly 1
Sesi bertajuk The Future is Undeniably Human digelar pada 5 September di panggung Assembly 1, mempertemukan Vikram Sinha dengan jurnalis sekaligus pendiri Narasi, Najwa Shihab, dan Pandji Pragiwaksono.

Bagian paling tajam datang dari Najwa. Menurutnya, yang menentukan nilai seseorang bukan kemampuan menjawab, melainkan kemampuan bertanya. Cara seseorang memakai AI yang membedakan hasilnya, yaitu apakah ia berakhir menjadi mesin jawaban atau justru menjadikan AI sebagai teman berpikir. Pembeda itu terdengar sederhana, tetapi menjelaskan keseluruhan tema festival lebih baik daripada sebagian besar sesi lain.
Empat Musim Pertiwi dan Jalan Menuju Toronto
Kamila Andini termasuk pembicara di Ideafest 2026, dan namanya datang bersama karya yang sedang menuju panggung besar. Film terbarunya, Empat Musim Pertiwi, menjalani pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival yang berlangsung pada 10 sampai 20 September, masuk dalam program Centrepiece.
Ceritanya mengikuti Pertiwi, diperankan Putri Marino, seorang perempuan yang kembali ke kampungnya setelah menjalani hukuman penjara karena membunuh laki-laki yang berusaha memperkosanya. Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Pitrashata Malasan melengkapi jajaran pemainnya.
Film produksi Forka Films ini digarap sebagai koproduksi delapan negara, dengan Ifa Isfansyah sebagai produser. Penayangan di bioskop Indonesia dijadwalkan mulai 8 Oktober, sementara teaser perdananya sudah beredar sejak 19 Agustus. Kamila Andini sendiri menggambarkan filmnya sebagai benturan antara modernitas dan trauma pribadi yang terus berulang dalam keseharian.
Lewat panel ini, tampak jelas bagaimana visi kreatif seniman-seniman berperan dalam membangun worldbuilding film, mulai dari busana hingga budaya yang diangkat. Nuansa "western dengan kearifan lokal" membalut film ini, dan proses pengembangannya dilakukan dengan penuh riset, seperti yang dijelaskan oleh Hagai Pakan (Penata Busana) dan Dita Gambiro (Desainer Produksi).





