Profil Mikhayla Shanum Caya, Atlet Termuda Indonesia di Asian Games 2026 yang Masih Berusia 11 Tahun

Di antara 432 atlet kontingen Indonesia di Asian Games 2026, ada satu nama yang usianya bahkan belum menyentuh dua digit tahun latihan.
Mikhayla Shanum Caya, skateboarder kelahiran 30 September 2014, tercatat sebagai atlet termuda kontingen Indonesia di Aichi-Nagoya pada usia 11 tahun 11 bulan. Ia turun di nomor skateboard park putri, mewakili Papua Pegunungan, dan pada Kamis, 24 September, menjalani babak penyisihan di Aichi Sky Expo Hall B, Tokoname. Jaraknya dengan atlet tertua kontingen, penembak Woli Hamsan yang berusia 47 tahun, mencapai sekitar 36 tahun.
Berikut profil singkat dan hal-hal yang membuat ceritanya menarik:
Dari Menemani Ayah Latihan sampai Masuk Pelatnas
Perjalanannya dimulai dari hal sederhana: ikut ayahnya ke skatepark sejak umur lima tahun. Ayahnya, Anthony Adam Caya, adalah mantan atlet sekaligus pelatih skateboard nasional, dan kini menjadi pelatih yang mendampingi kariernya. Dari situ ia mulai diikutkan ke lomba antarkomunitas, lalu naik ke tingkat provinsi.
Nomor park yang ia tekuni dilombakan di arena berbentuk cekungan beton, dengan penilaian berdasarkan rangkaian trik yang dirangkai dalam beberapa kali run. Latihannya berbasis di komunitas Green Skate Lesson, Bintaro.
Titik baliknya datang pada 2024, ketika ia tampil di nomor ekshibisi skateboard PON XXI Aceh-Sumut mewakili Papua. Setahun berikutnya ia masuk pelatnas, dan demi jadwal latihan itu sekolahnya dipindah ke sistem daring mulai Januari 2025.
Rekam Jejak Sebelum Asian Games

Debut internasionalnya terjadi di SEA Games Thailand 2025. Di usia 11 tahun, Mikhayla Shanum Caya menjadi atlet termuda kontingen Indonesia di ajang itu, dan ia langsung menembus final nomor park putri setelah finis ketujuh di penyisihan dengan skor 45,93. Di final pada 13 Desember 2025 di Bangkok, skornya 34,29 dan ia belum meraih medali, namun keberadaannya di partai puncak bersama para senior sudah jadi cerita tersendiri.
Pada April 2026 ia melangkah ke Asian Skateboarding Championships di Meishan, China, dan finis di posisi keenam. Hasil itulah yang mengantarnya ke Asian Games, ajang terbesar yang pernah ia ikuti sejauh ini.
Hasil di Aichi-Nagoya
Penyisihan park putri berlangsung Kamis, 24 September, dan hanya delapan peserta terbaik yang lolos ke final. Mikhayla Shanum Caya turun di heat kedua, meraih 36,35 poin, dan finis keenam di heatnya atau peringkat ke-12 secara keseluruhan.
Rekan senegaranya, Nyimas Bunga Cinta, berada di posisi ke-10 dengan 52,68 poin, sehingga Indonesia tidak menempatkan wakil di final. Nasib serupa dialami nomor putra, ketika Firdausy Nuzula finis ke-13 dengan 45,65 poin.

Finalnya sendiri digelar Jumat, 25 September, dan dikuasai tuan rumah. Mizuho Hasegawa merebut emas dengan 94,03 poin, Lin Yi-fan dari Chinese Taipei meraih perak dengan 85,15, sementara perunggu jatuh ke Misugu Okamoto yang juga dari Jepang.
Satu hal yang menarik dari daftar finalis itu, peringkat keempat diisi Cao Shiqi asal China yang juga berusia 12 tahun, gambaran bahwa nomor ini memang diisi atlet-atlet yang sangat muda.
Lima Fakta Menarik tentang Mikhayla Shanum Caya
1. Ia dipanggil Keke, dan akun Instagramnya memakai nama kekesrintil.
2. Jarak usianya dengan atlet tertua kontingen Indonesia sekitar 36 tahun, dua-duanya berada di pesta olahraga yang sama.
3. Ia bukan yang pertama. Rekor atlet termuda Indonesia di Asian Games masih dipegang Aliqqa Kayyisa Noverry, skateboarder yang tampil di usia sembilan tahun pada 2018.
4. Idolanya lintas generasi: Sky Brown, Arisa Trew, dan Bryce Ava Wettstein, ditambah legenda skateboard Tony Hawk.
5. Ia jujur soal rasa gugupnya. "Senang tapi juga deg-degan. Karena aku mau dapat medali, tapi lawan-lawannya juga lebih bagus, lebih tua," ujarnya sebelum tampil.
Dengan usia 11 tahun, jalannya masih panjang. Skateboard termasuk cabang yang atletnya matang lebih awal, dan edisi Asian Games berikutnya digelar empat tahun lagi, ketika usianya baru pertengahan belasan. Untuk saat ini, satu hal dari penyisihan Kamis sudah cukup menjelaskan: ia bersaing di level Asia ketika sebagian besar teman seusianya masih ada di bangku sekolah dasar.




