Joanna Wietrzyk Jadi Juara Walau Buang Air Saat Lomba Hyrox Beijing, Panitia Minta Maaf

Dunia fitness punya bahan obrolan yang tidak enak, tetapi tidak bisa dihindari pekan ini. Pada Sabtu, 12 September 2026, Joanna Wietrzyk, atlet Australia yang memegang rekor dunia Hyrox putri, mengalami diare di tengah lomba Hyrox Beijing.
Ia tidak berhenti. Ia terus berlari, memakai alat yang sama dengan peserta lain, dan finis pertama dengan catatan 1:01:23. Wasit tidak menghentikannya, dan hasilnya tetap sah. Video kejadiannya menyebar dalam hitungan jam, tagar soal insiden ini ditonton 27 juta kali di Weibo, dan dalam dua hari Hyrox mengaku salah, meminta maaf, lalu mengubah aturannya.
Berikut rangkumannya, dari kejadian sampai tanggapan yang datang dari segala arah:
Apa yang Terjadi di Beijing
Hyrox adalah lomba fitness dalam ruangan yang memadukan delapan kali lari 1 km dengan delapan stasiun latihan seperti sled push, rowing, dan wall ball. Wietrzyk adalah salah satu nama terbesar di cabang ini. Pada April lalu, ia mencatat rekor dunia putri 54:25 di Warsaw Major, finis pertama perempuan di bawah 55 menit, setelah sebelumnya menjadi runner-up Kejuaraan Dunia 2025.


Di Beijing, Joanna Wietrzyk turun di nomor elite putri. Menurut laporan ABC News dan Canadian Running, ia mengalami inkontinensia di tengah lomba, tetapi tetap menyelesaikan seluruh stasiun dalam kondisi terlihat kotor. Tidak ada aturan yang bisa dipakai wasit untuk menghentikannya. Hyrox memang memberi penalti waktu untuk peserta yang membuang sampah, meludah, atau membuang ingus di lintasan, tetapi tidak ada satu pasal pun soal kondisi seperti ini.
Setelah lomba, Joanna Wietrzyk mengunggah Instagram Story berupa swafoto dengan selang infus di tangan. "Go hard or go home, they say. A win is a win," tulisnya, lalu berterima kasih atas dukungan yang masuk dan berjanji segera kembali. Unggahan itu kini sudah dihapus.
Hyrox: Dari Ganti Karpet sampai Minta Maaf
Tanggapan pertama datang dari Hyrox China lewat Weibo. Alat yang terkontaminasi dibuang, jalur yang terdampak ditutup untuk disterilkan, karpet diganti, dan arena dibersihkan menyeluruh semalaman.
Global Times mencatat pernyataan itu tidak memuat permintaan maaf, dan sejumlah peserta yang memakai lintasan yang sama setelahnya menuntut permintaan maaf sekaligus pengembalian biaya pendaftaran. Salah satunya, Joe Ho, menulis bahwa ia membayar Hyrox untuk menyediakan lomba yang profesional dan aman.
Hyrox pusat menyusul dengan pernyataan bahwa prosedur untuk kompetisi elite dan peserta massal "menjadi kabur" pada kejadian ini, disertai peringatan bahwa ancaman kekerasan terhadap atlet akan berujung larangan permanen. Baru pada Senin, 14 September, salah satu pendiri Hyrox, Moritz Fürste, meminta maaf lewat Instagram.

"Hyrox membuat kesalahan karena tidak bereaksi segera selama lomba. Pada akhirnya, tugas sayalah untuk mengantisipasi insiden seperti ini, dan saya tidak melakukannya," kata Fürste.
Aturan barunya langsung berlaku. Jika darah, muntah, urine, atau tinja seorang peserta berisiko bagi dirinya atau peserta lain, direktur lomba kini berwenang menariknya keluar atas alasan medis, dan hasilnya dicatat sebagai DNF. Hyrox China secara terpisah mengakui buku aturan lama tidak punya pasal untuk itu, wasit hanya mengandalkan pengalaman lomba sebelumnya, dan usulan aturan soal intervensi lomba sudah dikirim ke kantor pusat.
Netizen Terbelah, Pelatihnya Angkat Bicara
Di Weibo, tagar yang kira-kira berbunyi "peserta Hyrox yang inkontinensia tidak dihukum" tembus 27 juta views, dan berita ini menjadi yang paling banyak dibaca di Global Times pada Senin. Nada komentarnya keras, salah satunya menyebut Joanna Wietrzyk egois karena terus berlari. Di media sosial berbahasa Inggris, seorang atlet menyebut situasinya merendahkan semua orang, terutama petugas yang harus membersihkan lintasan.
Pembelanya juga ada. Sebagian menilai menuntaskan lomba dalam kondisi itu adalah pencapaian tersendiri, apalagi hanya ada 15 atlet di nomor elite tersebut. Pelatihnya, Chris Bayens, menyebut kejadian itu "rangkaian keadaan luar biasa yang tidak terduga, berkembang cepat, dan hampir mustahil dipahami sepenuhnya saat itu juga", lalu menegaskan bahwa diskusi boleh, tetapi kebencian dan serangan pribadi tidak.
Yang jarang disebut di tengah keributan ini: gangguan pencernaan saat olahraga intensitas tinggi bukan hal langka. Kasus serupa pernah menimpa atlet triatlon Taylor Knibb pada T100 tahun 2024, dan sejumlah pelari maraton elite. Bedanya, kejadian itu di luar ruangan, bukan di arena tertutup dengan alat yang dipakai bergantian.
Sampai artikel ini ditulis, Joanna Wietrzyk belum mengeluarkan pernyataan resmi selain unggahan yang sudah dihapus itu, dan belum ada kabar kapan ia kembali berlomba. Gelarnya di Beijing tetap tercatat.




