Volix
ExclusiveSportsjeka saragihufcbyon combatmma indonesiasimalungun

Jeka Saragih: Pasang Surut UFC, Debut BYON Combat dan Membangun Generasi Penerus

Iqbal Baskari·
Jeka Saragih: Pasang Surut UFC, Debut BYON Combat dan Membangun Generasi Penerus
Via IG/jekasaragih

Nama Jeka Saragih sempat jadi milik semua orang Indonesia pada awal 2023. Ia petarung pertama dari negeri ini yang menembus UFC, organisasi seni bela diri campuran paling bergengsi di dunia, dan setahun kemudian jadi orang Indonesia pertama yang menang di sana.

Tiga tahun berselang, ceritanya jauh lebih berlapis. Ada kemenangan bersejarah, ada pencoretan dari roster, ada debut di panggung baru yang berakhir kurang dari semenit, dan ada satu hal yang justru terus tumbuh di kampung halamannya.

Volix berkesempatan berbincang langsung dengan Jeka Saragih pada Jumat (28/8) menjelang debutnya di ajang Byon Combat Showbiz Vol.4. Dari obrolan ini, lebih tampak jelas sisi lain dari sosok Jeka yang garang dan tengil di atas ring.

Jeka Saragih Saat Ditemui H-1 Debut BYON Combat Showbiz Vol.8 di Kawasan Senayan pada Jumat (28/8)
Jeka Saragih Saat Ditemui H-1 Debut BYON Combat Showbiz Vol.8 di Kawasan Senayan pada Jumat (28/8) · Via VOLIX

Latar Belakang Jeka di Sumatera

Jeka Asparido Saragih lahir pada 1995 di Dusun Bah Pasunsang, Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Ia berdarah Batak Simalungun, dan sejak awal kariernya dijuluki Si Tendangan Maut karena tendangan kakinya yang jadi senjata utama.

Titik masuknya bukan MMA, melainkan wushu. Pada 2013 ia menjuarai kejuaraan nasional di Yogyakarta dan mewakili Sumatera Utara di Pekan Olahraga Nasional. Dari sana ia bergabung dengan Batam Fighter Club di bawah asuhan Yakop Sutjipto.

Debut MMA profesionalnya datang di One Pride pada September 2016. Hanya tujuh bulan kemudian ia sudah merebut sabuk kelas ringan lewat TKO ronde pertama atas Ngabdi Mulyadi, lalu mempertahankannya empat kali sebelum akhirnya lepas pada Februari 2020. Ia merebut sabuk interim lagi pada Mei 2022.

Mengukir Sejarah di UFC, DAN PASANG SURUTNYA

Jalan menuju UFC ia tempuh lewat turnamen Road to UFC musim pertama. Di perempat final pada 9 Juni 2022, ia menumbangkan Pawan Maan Singh lewat spinning backfist di ronde ketiga. Di semifinal pada 23 Oktober, Ki Won-bin ia jatuhkan hanya dalam satu ronde.

Via Getty Images/Chris Unger

Finalnya pada 4 Februari 2023 justru berakhir pahit. Anshul Jubli menghentikannya lewat TKO di ronde kedua. Meski begitu, UFC tetap memberinya kontrak, dan status petarung Indonesia pertama di sana resmi jadi miliknya.

"Latihan di sana, saya yang pasti disiplin akan waktu. Di MMA, ada latihan ground fighting, conditioning, dan MMA. Semua ini digabung sama pelatihnya. Itu yang kita pelajari di sana, dan juga daya juang karena kita membawa nama Indonesia," jelas Jeka tentang pengalamannya latihan selama di UFC.

Puncaknya datang pada 18 November 2023. Jeka Saragih menumbangkan Lucas Alexander lewat KO pada menit 1:31 ronde pertama, sekaligus membawa pulang bonus Performance of the Night. Malam itu ia jadi orang Indonesia sekaligus Asia Tenggara pertama yang menang di oktagon UFC.

Sayangnya setelah itu, grafiknya menurun. Pada 15 Juni 2024 ia kalah lewat kuncian armbar dari Westin Wilson di ronde pertama. Setahun kemudian, di UFC 316 pada 7 Juni 2025, Yoo Joo-sang menjatuhkannya hanya dalam 28 detik. Momen ketok palunya yaitu pada 14 Juli 2025, saat namanya dicoret dari daftar petarung UFC.

Sorotan di BYON Combat, MASUK MAIN CARD

Panggung berikutnya datang dari dalam negeri. Pada 29 Agustus 2026, Jeka Saragih menjalani debutnya di BYON Combat Showbiz 8 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, langsung sebagai main event melawan Ammarul Shafiq dari Malaysia.

Via IG/jekasaragih

Jeka mengaku bahwa debutnya di ajang tersebut berakar dari obrolannya dengan Presiden BYON Combat, Yoshua Marcellos alias Celloszxz

"Kebetulan saya dekat juga sama Cellos, terus dia juga sudah pernah ke camp binaan saya di Siantar. Sharing-sharing lah kita di Malaysia kemarin, dia bilang 'Bang, mainlah di Byon, kickstriking...' Kita ada sejam lah ngobrol, tawar menawar," jelas Jeka.

"Sebenarnya saya gak pengen main, tapi saya juga mau jadi bagian dari BYON Combat ini sebagai salah satu yang bisa memajukannya. Menunjukkan kepada masyarakat Indonesia, gimana combat sports itu. Ayolah kita belajar, ikuti saja ritme combat sports ini."

Taruhannya besar. Ada sabuk BYON Kickstriking Asia sekaligus satu tiket menuju BYON World Grand Prix 2026. Statusnya sebagai petarung Indonesia pertama yang menembus UFC membuat laga itu jadi magnet utama sepanjang malam. Ia instan menjadi daya tarik utama Byon Combat edisi tersebut.

Hasilnya justru paling singkat dari 13 duel malam itu. Serangan lutut Ammarul Shafiq mengenai ulu hatinya sebelum ronde pertama genap 50 detik, dan pertandingan langsung dihentikan. Jeka harus mengakui keunggulan Ammarul yang mendapatkan kehormatan untuk tanding di BYON World Grand Prix pada Desember mendatang.

Via IG/jekasaragih

Dedikasi untuk Kampung Halaman

Di luar semua naik turun itu, ada satu hal yang jalannya justru konsisten menanjak. Sejak 2019, Jeka Saragih membangun tempat latihan gratis di kampungnya sendiri.

Yang awalnya satu tempat kini berkembang jadi empat camp di Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun, dan dinaungi yayasan bernama Pertarungan Simalungun Siantar Club atau PSSC. Latihannya tidak dipungut biaya, karena tujuannya untuk membina atlet-atlet berimpian besar yang tidak mempunyai dana. Anak binaannya pun kini sudah ratusan jumlahnya.

"Saya bangun tempat latihan, saya kumpulkan anak-anak kampung sampai 400-an lebih, supaya mereka bisa ngikutin Saya. Saya kasih matras, saya sumbang sarung tinju. Saya lakukan itu di daerah saya karena saya tahu kalau enggak mereka yang bantu, siapa lagi? Karena di daerah kami itu, GOR aja gak ada, lalu siapa yang peduli sama mereka?" jelas Jeka.

Ia lanjut memberi komentar seputar kesannya di depan kamera yang buat banyak orang terasa "tengil dan sombong", tapi Jeka ingin mengklarifikasi bahwa itu tidak mencerminkan karakter aslinya di dunia nyata.

"Jadi saya itu orangnya ya 'ayo sama-sama maju.' Gak peduli dipandang orang saya gimana-gimana...orang cuma melihat saya di depan kamera doang. Mungkin nanti teman-teman bisa lihat di media-media saya, kalo enggak datang ke kampung saya."

Via IG/jekasaragih

Hasil upaya Jeka sudah mulai kelihatan. Lima atletnya tampil di PON XXI/2024 Aceh-Sumatera Utara, dan Jon Setiawan Saragih sempat bertanding di ajang Cage Warriors di San Diego, Amerika Serikat. Pelatihannya juga terus melebar ke desa lain, terbaru sampai ke Tiga Runggu, Kecamatan Purba.

Buat Jeka, fungsi camp itu bukan cuma mencetak atlet. Ia berkali-kali menyebut tempat latihan sebagai cara menjauhkan anak muda kampung dari narkoba dan pergaulan yang merugikan.

Perjalanan Jeka Saragih masih jauh dari kata selesai. Kekalahan memang sering menjumpainya baru-baru ini, tapi ia tidak membiarkan hal tersebut mendefinisikannya sebagai seorang fighter. Usaha Jeka untuk mengangkat anak-anak binaannya merupakan contoh konkret bahwa ia tidak hanya mementingkan diri sendiri.

Pada akhirnya, prestasi menggunung Jeka hanyalah sebuah batu pijakan buat dirinya untuk membangun generasi penerus. Harapannya, mereka bisa menyusul jejaknya kelak, dan mungkin bahkan melampauinya.

Baca Juga