Makanan nabati bukan cuma buat vegan atau vegetarian. Sekarang, banyak orang yang makan lebih banyak protein dari tumbuhan demi jaga kolesterol, berat badan, sampai keberlanjutan lingkungan. Telur memang sumber protein populer, tapi ada beberapa pilihan nabati yang kandungan proteinnya bisa menyaingi telur, bahkan lebih fleksibel diolah.
Rekomendasi Makanan Nabati dengan Protein Setara Telur
Di bawah ini ada lima bahan makanan nabati tinggi protein yang mudah lo temukan, cocok buat menu harian, dan bisa lo kombinasikan dengan pola makan apa pun.
1. Tahu

Tahu itu andalan protein dari kedelai yang sudah akrab banget di dapur Indonesia. Dalam satu porsi sekitar 100 gram, kandungan proteinnya bisa mendekati protein satu butir telur, tergantung jenis tahunya.
Keunggulan tahu:
- – Teksturnya lembut, mudah menyerap bumbu.
- – Rendah lemak jenuh dan tanpa kolesterol.
- – Bisa diolah jadi tumis, sop, scrambled ala tahu orak-arik, sampai dessert.
- Tahu juga mengandung kalsium, zat besi, dan isoflavon dari kedelai yang sering dikaitkan dengan kesehatan tulang dan jantung. Kalau lo lagi mengurangi produk hewani, tahu bisa jadi “bintang utama” pengganti lauk.
2. Tempe
Masuk kategori makanan nabati fermentasi, tempe punya nilai plus soal gizi. Karena kedelai utuh masih ada di dalamnya, kandungan serat dan proteinnya cenderung lebih tinggi dibanding tahu.
Kenapa tempe spesial:
- – Sumber protein lengkap dengan asam amino esensial.
- – Kaya serat, bikin kenyang lebih lama.
- – Fermentasi membantu pencernaan dan bisa mendukung kesehatan usus.
Baca Juga: 5 Makanan Sumber Protein Setelah Gym untuk Recovery
100 gram tempe bisa menyumbang protein yang sebanding dengan telur, apalagi kalau digabung dengan sumber karbohidrat kompleks seperti nasi merah atau quinoa. Lo bisa olah tempe jadi bacem, oseng pedas manis, sambal tempe, atau dipotong tipis jadi “tempe chips” versi rumahan.
3. Lentil (Miju-miju)
Lentil mungkin belum sepopuler kacang hijau di sini, tapi di luar negeri, lentil adalah bintang di dunia plant-based protein. Bentuknya mirip biji kecil pipih dengan warna beragam, dari hijau, coklat, sampai merah.
Kelebihan lentil:
- – Tinggi protein dan serat, cocok buat menu diet seimbang.
- – Mengandung zat besi, folat, dan magnesium.
- – Bisa dipakai untuk sup, salad, curry, atau dijadikan isian wrap.
- Dalam 100 gram lentil yang sudah dimasak, proteinnya bisa bersaing dengan telur rebus. Lentil juga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, sehingga banyak dipakai dalam meal prep gaya hidup sehat.
4. Kacang Edamame
Edamame adalah kedelai muda yang biasanya lo lihat sebagai camilan di restoran Jepang. Rasanya gurih ringan dengan tekstur empuk, enak dimakan polosan dengan sedikit garam atau dicampur ke hidangan lain.
Edamame menarik karena:
- – Sumber protein nabati dengan lemak sehat.
- – Mengandung serat, vitamin K, dan folat.
- – Bisa jadi snack tinggi protein atau topping salad, nasi, dan mi.
- Satu porsi edamame rebus bisa menyumbang protein yang lumayan besar, mendekati protein telur. Buat lo yang suka ngemil tapi pengen lebih mindful, edamame bisa menggantikan keripik atau cemilan tinggi natrium.
5. Biji Chia (Chia Seeds)
Biji chia memang kecil, tapi isi nutrisinya serius. Chia seeds dikenal sebagai superfood karena kandungan protein, serat, dan asam lemak omega-3 nabatinya.
Keunggulan chia:
- – Tinggi serat, bantu rasa kenyang dan pencernaan.
- – Mengandung protein nabati, kalsium, dan antioksidan.
- – Bisa dicampur ke smoothie, oatmeal, yogurt, atau dijadikan chia pudding.
Kalau lo bandingkan per 100 gram, kandungan proteinnya bisa menyaingi banyak sumber protein hewani. Walau dipakai dalam jumlah kecil per porsi, chia seeds jadi booster nutrisi yang menarik untuk pola makan berbasis tumbuhan.
Jadi, Mana Makanan Nabati yang Mau Lo Coba Duluan?
Telur masih oke sebagai sumber protein, tapi lima makanan nabati di atas kasih lo pilihan yang lebih beragam. Tahu dan tempe cocok buat menu rumahan, lentil bisa bikin hidangan berasa lebih global, edamame pas buat camilan sehat, dan chia seeds jadi tambahan nutrisi di makanan harian.
Kuncinya bukan cuma ganti telur, tapi belajar memadukan berbagai sumber protein nabati dalam satu pola makan. Dengan kombinasi yang tepat, kebutuhan protein tetap tercukupi, sambil lo menikmati variasi rasa dan tekstur yang lebih seru di piring.
Baca Juga: 3 Makanan yang Terbukti Turunkan Hormon Kortisol untuk Redakan Stress







































