Ye Live in Jakarta: Panggung Bumi Raksasa di GBK Hingga Momen "Rock and Roll" Heartless


Ye, musisi yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West, akhirnya menggelar konser perdananya di Indonesia lewat Ye Live in Jakarta pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).
Jakarta menjadi satu-satunya perhentian Asia Tenggara dalam tur yang mengusung album terbarunya, Bully. Selama hampir dua jam, Ye membawakan lebih dari 30 lagu dari dua dekade kariernya di atas Globe Stage, panggung berbentuk kubah di tengah stadion.
Namun, momen yang paling ramai dibicarakan justru datang dari penonton, saat puluhan ribu suara menyanyikan Heartless tanpa iringan musik. Momen itu bahkan membuat Ye turun tangan menjawab warganet.
Berikut rangkuman momen-momen sorotannya:
Dibuka dengan King di Atas Globe Stage
Konser dimulai sekitar pukul 21.00 WIB. Ye berjalan dari sisi stadion menuju panggung di tengah lapangan tanpa menyapa penonton, lalu muncul dari puncak kubah dengan kostum longgar dan penutup kepala penuh. Lagu King menjadi pembuka, disambut kembang api dari tepi panggung.


Globe Stage menjadi bintang visual malam itu. Kubah raksasa yang menurut promotor didatangkan langsung dari luar negeri ini dijadikan kanvas proyeksi, mulai dari gambar bumi, bulan, hingga warna merah menyala saat Blood on the Leaves dibawakan. Konsep 360 derajat membuat tidak ada "barisan depan" dalam arti biasa, karena penonton mengelilingi panggung dari segala sisi.
Sepanjang konser, Ye nyaris tidak berbicara. Ia hanya sesekali mengajak penonton melompat dan mengangkat tangan. Udara lembap Jakarta pun akhirnya membuatnya melepas penutup kepala di tengah pertunjukan.
Lintas Era, dari The College Dropout hingga Bully
Daftar lagunya bergerak bebas lintas album. Father Stretch My Hands, Pt. 1 dan Can't Tell Me Nothing muncul di awal, disusul deretan lagu dari Yeezus seperti Black Skinhead dan On Sight. Power, Bound 2, Gold Digger, Touch the Sky, Flashing Lights, hingga Stronger ikut mengisi malam. Bagi penggemar lama, Jesus Walks, All Falls Down, dan Through the Wire menjadi bagian paling emosional.
Media mencatat jumlah lagu yang berbeda, antara 30 hingga 37 lagu, karena sebagian besar tidak dibawakan secara utuh. Kejutan datang saat André Troutman, pemain talk box yang terlibat di album Bully, naik ke panggung untuk membawakan All the Love.
Dua hari sebelumnya, ia sudah memberi pesan kepada penonton. “Kalian harus bernyanyi dengan sangat keras, karena saya juga akan ikut berteriak lantang,” kata Troutman.
Heartless JADI Milik Penonton
Momen paling kuat malam itu justru minim produksi. Saat Heartless, Ye berkali-kali meminta penonton mengulang bagian reff, menghentikan, lalu memulainya lagi. Ribuan suara akhirnya membawakan bagian itu tanpa iringan instrumen, mengubah lagu tentang patah hati menjadi nyanyian massal.

Potongan video Heartless itu kemudian viral di X. Sebuah akun penggemar menyebut Ye sedang berusaha memancing emosi penonton, karena ekspresinya yang datar saat menghentikan nyanyian berulang kali.
Ye membalas langsung unggahan tersebut. “Bro, suasananya seru sekali. Penontonnya sangat riuh. Itu namanya rock and roll,” tulis Ye.
Sejumlah penggemar juga membagikan video Ye yang menyempatkan diri menandatangani kaus penonton sambil tersenyum saat meninggalkan arena. Ia bertolak dari Bandara Halim Perdanakusuma pada Minggu pagi, 25 Oktober.
Runaway dan Kembang Api sebagai Penutup
Penutupnya bergerak lewat Ghost Town dan Moon sebelum tiba di Runaway. Ye sempat menghilang ke dalam kubah, lalu kembali dengan sebuah piano kecil untuk memainkan nada pembuka lagu tersebut.
Setelah lagu terakhir, ia kembali mengenakan penutup wajah dan meninggalkan stadion tepat sebelum kembang api penutup meletus sekitar pukul 22.50 WIB. Antrean penonton kemudian mengular di Stasiun MRT Istora Mandiri, sementara MRT Jakarta memperpanjang jam operasional hingga pukul 01.30 WIB.
Separuh Penonton dari Luar Negeri
Jumlah penonton Ye Live in Jakarta berbeda antar sumber. Promotor dikutip memperkirakan sekitar 50,000 penonton, sementara Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut angka sekitar 60,000, dengan separuhnya berasal dari luar negeri.
Sebelum konser, Raw Vision Collective mencatat 20,500 pembeli tiket dari mancanegara. Pramono memperkirakan dampak ekonomi konser ini mencapai Rp450 miliar, termasuk Rp328 miliar dari penjualan tiket.
Rangkaian tur Ye Live sendiri merupakan tur pertama Ye sejak 2016. Lewat Ye Live in Jakarta, GBK kini masuk daftar panggung yang pernah disinggahi salah satu musisi paling berpengaruh sekaligus paling sulit ditebak di dunia hip-hop.






