Mengenal Curry Barker, Sutradara di Balik Film Horor 'Obsession'

Di tengah dominasi film-film studio berbujet ratusan juta dolar, sebuah film horor garapan mantan kreator YouTube justru menjadi salah satu kejutan terbesar di box office 2026. Film itu adalah Obsession, dan sosok di baliknya, Curry Barker, kini menjelma menjadi salah satu nama paling diburu di Hollywood.
Menariknya, perjalanan Barker menuju puncak tidak berawal dari sekolah film ternama atau koneksi industri, melainkan dari sebuah kanal YouTube dan film-film berbujet seadanya.
Berawal dari Kanal Komedi YouTube

Curry Barker bukanlah nama yang lahir dari sistem studio Hollywood. Pria kelahiran Mobile, Alabama, ini justru memulai kariernya sebagai komedian di YouTube. Bersama sahabatnya, Cooper Tomlinson, ia membangun kanal komedi sketsa bernama 'that's a bad idea' yang kini memiliki lebih dari satu juta subscribers.
Namun, di balik konten-konten kocaknya, Barker menyimpan kecintaan mendalam pada genre horor sejak kecil. Ia bahkan mengaku ketertarikannya pada horor tumbuh sejak menonton film horor klasik saat masih berusia 11 tahun.
Titik baliknya datang pada 2023, ketika ia mengunggah film pendek horor berjudul The Chair ke YouTube. Film itu meledak dan ditonton lebih dari 10 juta kali, sekaligus menarik perhatian sejumlah produser Hollywood yang mulai melirik bakatnya.
Jalan Menuju Layar Lebar

Modal nekat Barker semakin terlihat lewat Milk & Serial, film horor found-footage yang ia garap pada 2024 hanya dengan bujet sekitar USD 800. Ia bahkan mengerjakan hampir semuanya sendiri, mulai dari menulis, menyutradarai, menyunting, hingga mengisi musik.
Setelah setahun gagal mendapatkan distributor, ia memilih merilis film tersebut secara gratis di YouTube. Keputusan itu berbuah manis. Milk & Serial viral hingga ditonton jutaan kali dan mengantarkannya pada kontrak dengan agensi bakat ternama, United Talent Agency, pada awal 2025.
Momentum itu berlanjut ketika film panjang berikutnya, Obsession, tayang perdana di Festival Film Toronto (TIFF) 2025. Penayangannya memicu perang tawaran sengit antar-studio, hingga akhirnya Focus Features memenangkannya dengan nilai sekitar USD 15 juta, yang dilaporkan sebagai harga tertinggi yang pernah dibayar untuk sebuah film genre dalam sejarah TIFF. Rumah produksi spesialis horor, Blumhouse, lalu ikut bergabung dengan Jason Blum sebagai produser.
Menariknya, meski terbiasa membintangi film-filmnya sendiri, kali ini Barker sengaja memilih fokus menyutradarai demi memperkenalkan dirinya ke industri sebagai seorang sutradara.
Obsession dan Rekor yang Dipecahkan

Setelah dirilis di bioskop Amerika Serikat pada pertengahan Mei lalu, Obsession berubah menjadi fenomena.
Film ini mengangkat kisah Bear (Michael Johnston), seorang pegawai toko musik kesepian yang menggunakan benda misterius bernama 'One Wish Willow' untuk membuat sahabat yang ia taksir, Nikki (Inde Navarrette), jatuh cinta padanya. Keinginannya terkabul, namun bukan tanpa konsekuensi yang membuatnya menyesal setengah mati.
Konsepnya merupakan tafsir kelam atas dongeng klasik 'Monkey's Paw', ide yang menurut Barker justru terinspirasi dari sebuah episode Halloween serial animasi The Simpsons. Dibuat hanya dengan bujet USD 750.000, Obsession kini telah meraup lebih dari USD 300 juta di seluruh dunia, atau sekitar 400 kali lipat dari biaya produksinya.
Yang membuatnya semakin langka, pendapatan film ini justru terus menanjak dari pekan ke pekan, bukan menurun seperti kebanyakan film. Produser Jason Blum bahkan menyebut belum ada film yang mampu naik dua akhir pekan berturut-turut sejak E.T. the Extra-Terrestrial. Tidak hanya laris, film ini juga menuai pujian kritikus dan menempatkan Obsession sebagai salah satu film paling menguntungkan sepanjang masa.
Buat penonton Indonesia, untungnya film ini akhirnya sudah tayang di bioskop setelah penantian lama. Penonton bisa menilai sendiri karya terkini Barker yang sudah lebih dulu membuat dunia terkesan sejak Mei lalu.
Apa Selanjutnya untuk Curry Barker?
Kesuksesan Obsession membuka pintu lebar-lebar bagi Barker. Bahkan sebelum film itu tayang, ia sudah syuting proyek berikutnya, Anything But Ghosts, yang ia sutradarai sekaligus bintangi bersama Cooper Tomlinson. Film tentang sekelompok penipu yang berpura-pura menjadi pemburu hantu ini turut menggandeng aktor papan atas Aaron Paul dan Bryce Dallas Howard, dengan Jason Blum dan Roy Lee sebagai produser.
Tidak berhenti di situ, A24 telah mempercayakan Barker untuk menggarap ulang waralaba horor legendaris The Texas Chainsaw Massacre. Yang terbaru, ia bahkan dipercaya Universal Pictures untuk menggarap sebuah film horor orisinal, sembari mengembangkan film pendeknya, The Chair, menjadi film panjang. Barker pun melengkapi gelombang baru sineas yang merintis karier dari YouTube sebelum melompat ke Hollywood, sederet nama yang juga mencakup Kane Parsons lewat Backrooms dan Markiplier lewat Iron Lung.
Dari film berbujet USD 800 yang diunggah gratis ke YouTube hingga menjadi salah satu sutradara horor paling dicari di Hollywood, perjalanan Curry Barker membuktikan bahwa kamera dan ide yang kuat kadang lebih berharga daripada bujet besar. Di tengah industri yang sedang mencari wajah-wajah baru, ia hadir sebagai bukti bahwa generasi sineas internet kini siap mengambil alih layar lebar.





