Mark Ruffalo, Salah Satu Bintang Hollywood Paling Vokal: Timeline Dukungan Palestina dan Perlawanan Trump

Di layar, Mark Ruffalo dikenal sebagai Bruce Banner, ilmuwan yang berubah menjadi Hulk ketika marah. Di luar layar, ia salah satu bintang Hollywood yang paling konsisten bersuara soal isu sosial dan politik, sering kali dengan risiko kehilangan simpati sebagian publik.
Pada Minggu, 4 Oktober 2026, ia kembali naik panggung, kali ini di acara Hands Off Our Vote di New York, dan memakai lelucon tentang karakternya sendiri untuk menyerang kebijakan Presiden Donald Trump.
Berikut timeline sikapnya, dari isu air bersih sampai Palestina dan Gedung Putih:
Berawal dari Isu Air Bersih
Aktivisme Mark Ruffalo tidak dimulai dari politik luar negeri. Pada 2010 ia mendirikan Water Defense, organisasi yang berkampanye untuk air bersih dan menentang fracking di New York.
Dua tahun kemudian ia ikut mendirikan Artists Against Fracking. Isu itu terbawa ke kariernya, termasuk lewat Dark Waters (2019), saat ia memerankan pengacara Rob Bilott yang membongkar pencemaran bahan kimia PFAS oleh DuPont.
Timeline Sikapnya soal Palestina

Mei 2021: Kritik Keras, lalu Permintaan Maaf
Di tengah eskalasi Israel dan Hamas, Ruffalo menyerukan sanksi terhadap Israel dan menyebut negara itu melakukan genosida. Beberapa hari kemudian ia menarik istilah tersebut. “Itu tidak akurat, provokatif, tidak menghormati, dan dipakai untuk membenarkan antisemitisme di sini maupun di luar negeri,” tulisnya pada 24 Mei.
Oktober 2023: Bergabung dengan Artists4Ceasefire
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober dan dimulainya perang di Gaza, Ruffalo menjadi salah satu dari 55 pelaku industri hiburan yang menandatangani surat terbuka Artists4Ceasefire kepada Presiden Joe Biden. Surat itu menuntut gencatan senjata segera dan permanen, sekaligus mengecam pembunuhan warga sipil Palestina maupun Israel.
2024: Pin Merah di Panggung Penghargaan
Di Directors Guild Awards pada Februari, ia mengenakan pin Artists4Ceasefire dan berkata, “We’re not going to bomb our way to peace.” Sebulan kemudian pin yang sama ia kenakan di karpet merah Academy Awards. Pada September, ia ikut kampanye Stop Weapons, Save Lives yang menuntut embargo senjata Amerika Serikat.
September 2025: Mendukung Boikot
Ruffalo menyatakan dukungan terhadap gerakan boikot, divestasi, dan sanksi terhadap Israel, lalu menandatangani ikrar bersama lebih dari 5,500 pekerja film untuk memboikot institusi film Israel yang mereka nilai terlibat dalam apa yang mereka sebut genosida dan apartheid. Langkah itu menandai pergeseran yang jelas dari permintaan maafnya empat tahun sebelumnya.
Agustus 2026: Bentrok dengan Paramount
Lewat unggahan Instagram, Ruffalo menuding Oracle, yang salah satu pendirinya, Larry Ellison, bersama putranya mengendalikan Paramount, ikut terlibat dalam tindakan Israel di Gaza. Ia juga mengaitkan rencana akuisisi Warner Bros. oleh Paramount senilai US$111 miliar dengan dukungan Ellison terhadap Israel.
Paramount menyatakan pihaknya “terganggu ketika kiasan antisemit dipakai dengan dalih sengketa bisnis.” Ruffalo membalas bahwa tuduhan itu “mengerikan dan pada dasarnya tidak jujur,” karena kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel bukan kritik terhadap orang Yahudi. Lebih dari 180 tokoh Yahudi, sebagian besar dari industri hiburan, kemudian menyatakan dukungan untuknya.
Timeline Perlawanannya terhadap Trump

Sikapnya terhadap Donald Trump sudah keras sejak masa jabatan pertama, dan makin sering terdengar pada periode kedua.
2025: Deportasi dan Project 2025
Ketika podcaster Joe Rogan ikut mengkritik razia imigrasi ICE, Ruffalo menanggapinya dengan sinis. Menurutnya, sudah terlambat untuk berpura-pura bahwa Project 2025, cetak biru kebijakan konservatif yang disusun sebelum pemilu 2024, tidak pernah menjadi buku panduannya sejak awal.
Februari 2026: Pajak untuk Orang Super Kaya
Pada 24 Februari, ia bergabung dengan hampir 400 jutawan dan miliarder dalam koalisi Patriotic Millionaires yang menuntut pajak lebih tinggi bagi orang super kaya.
“Working families shouldn’t foot the bill for billionaire tax breaks,” tulisnya. Langkah itu sekaligus memancing tuduhan munafik dari pengkritik yang menilai ia seharusnya lebih dulu membayar lebih.
Oktober 2026: Hands Off Our Vote
Di panggung New York pada 4 Oktober, ia menentang upaya Trump membatasi pemungutan suara lewat pos menjelang pemilu sela. Ia memakai karakternya sendiri sebagai peringatan.
“I’m gonna Hulk out,” katanya, lalu menambahkan kalimat terkenal milik Bruce Banner, “You won’t like me when I’m angry.”
Kenapa Suaranya Selalu Memancing Reaksi
Konsistensi itulah yang membuat Mark Ruffalo menonjol, sekaligus yang membuatnya terus menjadi sasaran. Di isu Palestina ia dituduh antisemit, dan di isu pajak ia dituduh munafik. Ia juga pernah menarik ucapannya sendiri, lalu kembali ke posisi yang lebih keras beberapa tahun kemudian.
Bagi pendukungnya, itu bukti ia mau belajar dan tetap bersuara. Bagi pengkritiknya, itu bukti sikapnya berubah mengikuti arus. Yang jelas, tidak banyak bintang dengan profil sebesar itu yang memilih terus bicara sambil menanggung ancaman terhadap karirnya sendiri.





