Kung Fu Soccer Tembus Rp5 Triliun, Ada Studio VFX Jakarta di Balik Layarnya

Ada satu detail dari Kung Fu Soccer yang mungkin terlewat penonton Indonesia. Film terbaru Stephen Chow ini sudah mengumpulkan lebih dari Rp5 triliun dengan 63 juta penonton sejak tayang di China pada 11 Juli 2026, dan di antara deretan studio yang menggarap efek visualnya ada satu nama dari Jakarta. Studio itu bernama LMN VFX, dan mereka menangani lebih dari 100 shot di film tersebut. Di bioskop Indonesia sendiri, filmnya sudah tayang sejak 12 Agustus.
Berikut hal-hal yang bikin proyek ini menarik, termasuk cerita di balik keterlibatan studio lokal tadi.
Comeback Stephen Chow Setelah 25 Tahun

Kung Fu Soccer adalah sekuel spiritual dari Shaolin Soccer yang rilis pada 2001, dan sekaligus film pertama yang disutradarai Chow sejak 2019. Kali ini fokusnya pindah ke sepak bola putri. Ceritanya mengikuti tim Emei, kumpulan perempuan pekerja biasa yang dianggap sudah lewat masa jayanya, lalu nekat masuk turnamen antarklub Asia dengan modal solidaritas dan jurus bela diri seperti Wing Chun dan Tai Chi.
Ongkos produksinya menyentuh 380 juta yuan, angka termahal sepanjang karier penyutradaraan Chow. Zhang Xiaofei berperan sebagai kapten Shuangshuang, Dilraba Dilmurat sebagai striker Yu Long, dan Lay Zhang sebagai mentor tim. Ada juga Carina Lau, aktor Jepang Takeru Satoh sebagai pelatih tim lawan, serta pesepak bola timnas putri China Zhao Lina yang tampil sebagai dirinya sendiri. Dilraba dikabarkan menjalani sekitar 90 persen adegan laganya tanpa stunt double.
Proses syutingnya sendiri berlangsung dari Maret sampai Juni 2025 di Shenzhen dan Huizhou, menghasilkan film berdurasi 106 menit.
Ada Studio VFX Jakarta di Balik Layarnya

Inilah bagian yang paling relevan buat penonton lokal. LMN VFX, studio efek visual yang berbasis di Jakarta, masuk ke daftar vendor yang menggarap film sebesar ini. Kontribusinya lebih dari 100 shot.
Co-Founder LMN VFX Fabian Loing menyebut proyek ini sebagai penanda babak baru buat studionya. “Keterlibatan LMN VFX dalam Kung Fu Soccer menjadi milestone lanjut bagi kami, dalam mengadopsi cara kerja dan standar produksi internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, proyek ini juga jadi kesempatan belajar dari industri visual Asia yang menurutnya sedang berada di depan dalam banyak aspek.

Ini bukan proyek internasional pertama mereka. LMN VFX sebelumnya ikut menggarap serial Moving, Alice in Borderland, dan One Piece, plus sederet judul lokal seperti Ratu Ratu Queens, Kabut Berduri, dan Dear David. Sekarang mereka sedang mengerjakan film fantasi Dragonlord arahan David Sandberg. VFX Editor mereka, Fadil Zamroni, merangkumnya dengan kalimat yang cukup mengena, bahwa pengalaman semacam ini dulu ia kira harus dikejar ke luar negeri.
Efeknya juga terasa ke lapangan kerja. Founder sekaligus CEO LMN VFX Andi Wijaya menyebut studionya sedang mencari talenta baru untuk posisi seperti Houdini FX, 3D environment, look development, sampai compositor. Kriterianya bukan cuma kemampuan teknis, tapi juga kesiapan mengikuti cara kerja standar produksi internasional.
Angka Box Office dan Respons Penonton
Dari sisi bisnis, filmnya jelas sukses. Kung Fu Soccer membuka penayangan di China dengan 260,6 juta yuan pada hari pertama, lalu mengumpulkan 73,6 juta dolar AS di akhir pekan pembukanya dan langsung menempati posisi teratas. Totalnya kini sudah melewati 321 juta dolar AS.
Responsnya sendiri terbelah. Sejumlah kritikus internasional menilai ceritanya kurang rapi dan sekuens sepak bolanya biasa saja, dengan efek visual ikut jadi sasaran kritik. Di sisi lain, resensi CNN Indonesia menyebutnya tetap terasa sebagai paket nostalgia yang menyenangkan buat penggemar lama Chow.
Buat penonton Indonesia, ada satu alasan tambahan untuk menonton, yaitu tahu bahwa sebagian yang muncul di layar dikerjakan tim dari Jakarta.




