Volix
ExclusiveMusicgirl group marblesmarbleshompimpaa-list entertainmentcatch me

Kenalan dengan MARBLES, Girl Group Baru dengan Lagu Debut Unik “Hompimpa”

Iqbal Baskari·
Kenalan dengan MARBLES, Girl Group Baru dengan Lagu Debut Unik “Hompimpa”
Via Marbles

Ada satu hal yang langsung terasa aneh, dalam pengertian yang baik, begitu mendengar nama lagu debut girl group MARBLES.

Kelompok asal Indonesia ini memulai kariernya pada 12 Juni 2026 dengan single berjudul Hompimpa, diambil dari permainan yang dipakai anak-anak untuk menentukan siapa yang kalah. Pilihan itu terdengar main-main, tetapi ternyata tidak. Di belakangnya ada tiga tahun pelatihan tertutup, sebuah label baru yang menjadikan mereka artis pertamanya, dan satu pola yang baru benar-benar terlihat setelah single kedua keluar.

Volix berkesempatan berbincang langsung dengan kelimanya untuk mengenal lebih dekat para personil-nya, motivasi mereka secara kolektif dan apa harapannya dengan kehadiran Marbles di industri musik Tanah Air.

Para Member dan Masa Inkubasi Grup

MARBLES terdiri dari lima personel: Daniella Jahzara Tumiwa, Beverly Suryadinata, Laetitia Tiffany Idanawang, Kyka Amara, dan Quilla Maleeka. P

Pintu masuk mereka ke industri ini berbeda-beda. Contohnya, Daniella sudah lebih dulu berakting lewat Cinta Bete pada 2021 dan Rangga & Cinta pada 2025. Lain cerita dari Beverly yang berangkat dari kebiasaan mengunggah video tari cover ke YouTube. Sementara itu, Tiffany sebelumnya sudah duluan menjalani masa latihan di SM Entertainment.

Via VOLIX

Yang jarang dibahas justru bagian sebelum semua itu terlihat publik. A-List Entertainment bersama Trinity Optima Production menjalankan inkubasi selama kurang lebih tiga tahun di bawah pelatih asal Korea Selatan, Kim Hyung-Kyu.

Materinya tidak berhenti di vokal dan tari, melainkan juga mencakup penampilan panggung, komunikasi publik, pembentukan karakter, sampai keterlibatan dalam penulisan lagu dan arah musik. Pencarian bakatnya dilakukan di sejumlah kota besar tanpa tenggat yang kaku.

"Kita masuk dengan kekuatan yang kita bawa untuk grup-nya, dan masa inkubasi itu bagaimana kita bisa tampil satu warna tapi somehow identitas kita sendiri-sendiri tidak hilang. Masa training itu lebih fokus ke menggarap karakter dan keunikan masing-masing. Jadi unity in diversity," ungkap para personilnya.

Apa yang Bikin Marbles Berbeda

MARBLES merupakan sebuat komitmen jangka panjang. Sebagian besar talentanya direkrut pada usia 13 sampai 15 tahun, sementara debut baru dijadwalkan ketika mereka berusia 18 sampai 19 tahun. Itu keputusan yang ada ongkosnya, karena artinya label menanggung tiga tahun pengeluaran tanpa pemasukan apa pun dari grup ini.

Ongkos itu masuk akal jika dilihat posisinya. A-List Entertainment adalah usaha patungan Trinity Optima Production, KVIBES, dan Surya Citra Media, dan girl group MARBLES adalah artis pertama mereka. Grup ini bukan sekadar rilisan baru, melainkan pembuktian pertama dari seluruh model kerjanya.

Metodenya memang meminjam standar industri Korea, tetapi bahan bakunya diambil dari halaman rumah sendiri. Penampilan dan latihan standar internasional, namun dengan pengemasan yang betul-betul mencerminkan Indonesia sehingga tetap bisa merangkul market kampung halaman.

Hal ini dibuktikan langsung dengan karya debut mereka yang bertajuk "Hompimpa". Walau kesannya main-main, Marbles memiliki alasan kuat sendiri kenapa mereka memilih untuk mengenalkan diri kepada publik lewat judul ini.

Lagu “Hompimpa” Cerminkan Identitas Grup

Dalam permainan tradisional aslinya, hompimpa alaium gambreng menyerahkan hasil sepenuhnya kepada keberuntungan. Telapak tangan dibalik, dan siapa yang tersisih ditentukan oleh kebetulan. Lagunya justru membalik logika itu. Di konteks ini, MARBLES bukan pihak yang menunggu untuk dipilih, melainkan pihak yang memilih.

Pesannya berdiri di atas premis itu, yaitu percaya pada nilai diri tanpa menggantungkannya pada validasi orang lain. Konsep yang mereka pakai untuk menggambarkan diri sendiri sejalan dengan itu, yakni sebagai pengingat harian yang menyenangkan bagi pendengarnya.

Para personil awalnya diarahkan untuk membawakan lagu ini yang kemudian mereka bangun lebih lanjut dengan pesona karakter masing-masing.

"Kita mulai build konsep apa yang kita inginkan, feel-nya kayak gimana, estetika dan jalan ceritanya juga, which is basically main-main kayak anak kecil," ungkap para personil tentang penggarapannya.

Single Susulan dan HARAPAN KE DEPAN

Single kedua, "Catch Me", rilis pada 12 Agustus, tepat dua bulan setelah debut dan pada tanggal yang sama. Kali ini yang dipakai adalah petak umpet, dipinjam sebagai perumpamaan rasa suka yang belum berani diucapkan. Lagunya lagi-lagi terinspirasi dari permainan tradisional, tapi yang juga dikenal orang luar yakni petak umpet.

Liriknya mencampur bahasa Indonesia dan Inggris, dan lagunya sempat dibawakan lebih dulu di panggung showcase Bernadya di Tennis Indoor Senayan pada 25 Juli.

"Kita suka Catch Me karena itu genre baru yang kita bawakan yaitu Hipdut (Hip-hop Dangdut). Kalau Hompimpa kan menarik nostalgia orang-orang Indonesia secara literal, Catch Me gak secara literal unsur lokalnya, jadi lebih terdengar di musiknya. Karena kan petak umpet dimainkan seluruh orang di dunia, tapi ini gimana caranya kita bikin petak umpet ini khas Indonesia," jelas MARBLES.

Dua single, dua permainan anak-anak, satu cara pandang yang konsisten. Itu bukan gimmick sekali pakai, melainkan sistem yang bisa diteruskan.

Lewat dua rilisan pertama ini, MARBLES sudah mencuri perhatian lewat gaya mereka yang penuh energi dan warna. Lima orang dengan misi untuk mengangkat musik Indonesia ke panggung yang lebih jauh. Upaya ini dibangun dengan penuh komitmen dari berbagai pihak.

Harapannya untuk menghasilkan talenta-talenta muda berbakat baru yang mampu menemani masyarakat dengan karya unik mereka yang asyik dan penuh makna.

"Harapannya kita bisa memberi warna baru buat industri musik Indonesia, dan juga membawa musik Indonesia ke ranah yang lebih luas lagi which is international," tutup Marbles.

Baca Juga