Sambadha: Mengawali Karir Solo dan Makna Suatu Keluarga Baginya

Satu lagi musisi Indonesia yang memilih untuk mengenalkan suara pribadinya di luar naungan band-nya yaitu Sambadha Wahyadyatmika atau Sambadha, vokalis dan gitaris Coldiac. Ia resmi merilis EP solo perdananya yang berjudul ‘Si Bungsu’ pada Jumat, 3 Maret 2026.
Mengawali karir solo tidak akan melepas Sambadha dari tanggung jawabnya sebagai suara vokal Coldiac, namun kesempatan ini menjadi wadah baginya untuk lebih bebas berkreasi sesuai isi hatinya. Maka dari itu, 'Si Bungsu' terasa begitu personal dan mencerminkan siapa Sambadha sebenarnya tanpa mewakilkan teman-temannya di Coldiac.
Dari judul lagunya sendiri sudah jelas. Sambadha yang merupakan anak bungsu dalam keluarganya ingin mematahkan stigma bahwa orang-orang di posisinya itu harus selalu menjadi yang paling dilindungi dan ringan beban. Ia memiliki pandangannya sendiri sebagai yang terkecil dan apa dampaknya bagi relasi antara dirinya dan keluarganya.
Volix berkesempatan untuk ngobrol bareng dengan Sambadha untuk lebih jauh mengetahui seputar penggarapan EP ini dan kesan dirinya setelah memutuskan untuk berkarya sebagai solois.
Dari perbincangan ini, terasa jelas bahwa renungan hati Sambadha yang menghargai keluarganya, walau sering merasa tidak sedekat itu juga dengan mereka karena tuntutan karir, menjadi intisari penggarapan EP ini. Dari sini pula, terlihat bagaimana Sambadha memaknai suatu keluarga berdasarkan pengalamannya berkarir di luar rangkulan ayah dan ibunya.

Wawancara ini telah diedit untuk keringkasan dan kejelasan
VOLIX: Kenapa tiba-tiba memutuskan untuk solo?
SAMBADHA: Sebenarnya dari awal belum kepikiran buat solo. Punya band satu aja puyeng gitu, kenapa gue harus bikin satu proyek berbeda? Tapi setelah gue berjalan bersama Coldiac 12 tahun, gue belajar banyak hal di Coldiac, terus ada satu yang gue lupa: mendokumentasikan hidup gue sebagai seniman. Terutama rumah gue, keluarga gue.
Gue takut ketika gue sudah kehilangan visual tentang rumah gue, karena rumah itu berevolusi terus menerus, jadi makin sepi makin gak ada orangnya. Sebelum itu terjadi, gue pengen meng-capture itu dulu dalam bentuk lagu, sebagai seorang musisi.
The whole EP ini adalah gue, pesannya itu bener-bener ego dan idealisme gue. Gue gak bisa paksakan itu untuk teman-teman gue, untuk ikut mewakilkan itu semua.
V: Apa sebelumnya pernah disampaikan ke Coldiac kalau konsep EP ini bisa dikerjakan bersama Coldiac? Atau mau dikerjakan sendiri saja karena “ini tuh tentang gue”?
S: Gak perlu sih. Gue tahu band gue gimana dan arahnya ke mana, jadi ketika gue bawain musik kayak gini gue rasa ini bukan Coldiac gitu. Kalau EP ini dibawakan bersama Coldiac, mungkin tata cara pembawaannya bakal berbeda.
Salah satu yang gue pengen lakukan di proyek gue adalah, lirik is the key. Gue merasa musik hanya sebagai sesuatu yang menemani lirik gue, pengantarnya. That’s why beberapa orang ngerasa “kok Sambadha bisa se-sesimple ini? Padahal di Coldiac rame”. Di sini, dinamika naik turun itu gak ada. Gue rasa kalo di Coldiac, gue tahu teman-teman gue jago semua. Gue yang paling kureng di musikalitas-nya lah (sambil tertawa). Jadi gue rasa kalo mereka harus ngikutin musikalitas ini, bakal kureng gitu.
V: Lo mention tentang keluarga dan rumah. Apa sih pesan yang lo mau sampaikan di EP ini?
S: Jadi ada dua fase di EP ini. Fase pertama adalah ketika gue menulis, semuanya tentang gue. Tentang bagaimana gue mendokumentasi itu semua, cuman ketika ini udah jadi punya masyarakat, itu semua udah bukan tentang gue lagi gitu. Itu fase keduanya. Yang mau gue sampaikan adalah, agar orang tahu bahwa rumah itu segalanya, keluarga.
Kita lihat hari ini orang dengan mudahnya bisa meninggalkan keluarganya. Dia tidak beruntung berada di keluarga yang seperti ini, seperti itu. Bagaimana orang bisa kembali mengenal rumahnya, seberantakan atau seindah apapun itu, gue rasa satu-satunya tempat di mana kita bisa bersandar ketika orang-orang menolak kita yaitu keluarga.
Gue pernah ngalamin fase pas masih bocah, kalo di luar itu lebih nyaman daripada di rumah. Cuman makin lo tua, lo bakal semakin merindukan orang-orang yang ada di rumah itu.
"Gue pengen ngajak orang bersyukur punya apapun yang ada di rumah, jadi gak lupa buat pulang. Bentuk rumahnya gak harus rumah, bisa orang. Intinya itu sih."
Sambadha kemudian menjelaskan bahwa akumulasi momen-momen yang ia habiskan bersama orang tua, istri dan anaknya selama beberapa tahun belakangan menjadi trigger yang berujung pada karya keluarga-sentris garapannya sekarang. Berbagai momen kontemplatif yang kemudian tertuang menjadi karya solonya kini.
V: Teman-teman Coldiac melihat ini semua seperti apa?
S: Mereka cukup suportif, mereka memperbolehkan gue untuk eksplorasi di sini. Jauh sebelum itu memang sempat ada obrolan kayak “coba solo yok, siapa tahu lo menemukan sesuatu yang baru di luar sana untuk dibagi ke dalam Coldiac.” Tapi kalau dibilang Coldiac band baru ya enggak juga, eranya kan 2018. Tapi gue di sini mencoba menemukan cara-cara baru yang siapa tahu bisa menjadi feedback atau hal baru buat band kita. Dan siapa tahu pendengar-pendengar baru bisa tahu Coldiac dari karya ini.
V: Tadi dibilang bahwa dari upaya solo ini akan membawa hal-hal baru untuk Coldiac. Apakah sudah terlihat sekarang?
S: Pasti nantinya ada. Kalau dilihat dari sejarah rilisannya kan kita berevolusi aja. Gue rasa Coldiac akan selalu membawakan sesuatu yang baru sih.
V: Dengan lo sekarang ber-solo, target lo apa sih? Apa mau settle sebagai Sambadha si solois, atau menjadi tempat bagi lo untuk menuangkan ide-ide pribadi lo?
S: Balik ke yang tadi, gue pengen mendokumentasikan apapun tentang gue yang siapapun gak perlu setuju tentang hal itu. Ini hanya mencerminkan Sambadha. Suatu hari ketika gue ada pandangan politik atau hal-hal lain yang semua orang gak harus setuju sama gue, di sinilah tempatnya (untuk menuangkannya).
Konteks simpelnya adalah, gue gak peduli ini manggungnya di tempat yang besar atau kecil. Jadi tanpa pertimbangan. Gue pengen Sambadha menjadi jalan bersosial menemukan teman-teman baru, ilmu-ilmu baru, menuliskan sesuatu yang gue rasa gak perlu meng-khawatirkan banyak hal gitu.
Si Bungsu oleh Sambadha kini sudah dapat didengar di platform-platform musik digital.



