Jonatan Christie Akhirnya Nomor Satu Dunia, 26 Tahun Setelah Taufik Hidayat

Penantian panjang bulu tangkis Indonesia akhirnya selesai. Lewat pembaruan peringkat yang dirilis BWF pada Selasa, 25 Agustus 2026, Jonatan Christie resmi menempati posisi tunggal putra nomor satu dunia dengan 87,631 poin.
Ini kali pertama sepanjang kariernya, sekaligus pertama kalinya Indonesia punya tunggal putra di puncak sejak era Taufik Hidayat. Yang bikin ceritanya makin menarik, Jojo naik ke posisi teratas justru di pekan ketika poinnya sendiri berkurang, dan cuma beberapa hari setelah ia tersingkir di babak 16 besar Kejuaraan Dunia. Cara dia sampai ke sana ternyata sama menariknya dengan capaiannya.
Naik ke Puncak Justru Saat Poin Turun
Dengan 87,631 poin, Jonatan Christie unggul 629 angka dari Christo Popov asal Prancis yang mengoleksi 87,002 poin. Posisinya naik dua tingkat dari peringkat tiga. Di bawah keduanya menyusul Kunlavut Vitidsarn dari Thailand dan Chou Tien Chen dari Taiwan, jadi jarak antarpemain di papan atas benar-benar rapat.

Menariknya, poin Jojo sendiri malah menyusut dari sekitar 89,231 pada pekan sebelumnya. Yang terjadi adalah para pesaingnya jatuh lebih dalam setelah Kejuaraan Dunia 2026 di New Delhi. Shi Yuqi yang berstatus juara bertahan tumbang di babak pertama, sementara Kunlavut Vitidsarn yang tahun lalu jadi runner-up berhenti di perempat final.
Jonatan Christie sendiri kalah dari wakil Denmark, Rasmus Gemke, dengan skor 21-11, 13-21, dan 18-21 di babak 16 besar. Jadi puncak dunia ini datang bukan lewat kemenangan besar, melainkan lewat konsistensi setahun penuh yang bertahan saat pesaingnya rontok.
Dua Puluh Enam Tahun dan Satu Hari
Ada kebetulan tanggal yang layak diceritakan. Taufik Hidayat, tunggal putra Indonesia terakhir yang menempati peringkat satu dunia, meraihnya pada 24 Agustus 2000 saat usianya baru 19 tahun. Jojo naik ke posisi yang sama pada 25 Agustus, artinya jaraknya persis 26 tahun lewat sehari.
Kini berusia 28 tahun, peringkat terbaik Jonatan Christie sebelum ini adalah nomor dua, yang ia capai pada 31 Januari 2023 setelah menjuarai Indonesia Masters.
Yang bikin capaian ini terasa telat justru lemari pialanya. Pemain kelahiran 15 September 1997 itu sudah lebih dulu merebut emas Asian Games 2018, Thomas Cup 2020, lalu All England dan Kejuaraan Asia yang keduanya ia menangi pada 2024. Gelar besarnya banyak, tapi peringkat satu dunia baru datang sekarang.
Tanggapan Jojo dan PBSI

Sampai artikel ini disusun, Jojo belum mengeluarkan pernyataan khusus soal peringkat barunya, dan PBSI juga belum merilis tanggapan resmi. Komentar terbarunya justru soal kekalahan di New Delhi.
“Sangat kecewa pastinya karena saya datang ke sini dengan harapan yang besar serta fokus yang sudah bagus juga. Tapi ya di akhirnya memang harus menerima ini hasilnya,” kata Jonatan seusai pertandingan.
Sementara itu kolom komentar Instagram-nya dibanjiri ucapan selamat dari penggemar sejak berita peringkat itu keluar.
Puncak Datang Setelah Keluar Pelatnas
Bagian ini yang paling sering luput dibahas. Pada 15 Mei 2025, Jojo bersama Chico Aura Dwi Wardoyo mengumumkan keluar dari Pelatnas PBSI Cipayung dan memilih jalur profesional. Keputusan itu buah proses panjang setelah Olimpiade Paris 2024 yang hasilnya jauh dari harapannya, sampai ia sempat kepikiran pensiun, ditambah pertimbangan personal sebagai suami sekaligus ayah.
Ia lalu kembali berlatih di klub lamanya, PB Tangkas. Sejak itu gelarnya justru berdatangan, mulai dari Korea Open, Denmark Open, sampai Hylo Open, ketiganya pada 2025. Ketika ditanya soal anggapan bahwa ia lebih berprestasi setelah keluar Pelatnas, jawabannya pada November 2025 tidak menyinggung federasi sama sekali.
“Setelah keluar pelatnas, ya pasti ada motivasi juga, karena bagaimanapun kan saya juga ada tanggung jawab dengan sponsor juga kan, mereka yang mendukung saya,” ujarnya.
Satu catatan yang perlu diingat, peringkat BWF bergerak tiap pekan. Posisi teratas ini akan diuji lagi di turnamen-turnamen berikutnya.




