Jakarta Running Festival 2026: Pramono Finis 10K dalam 1 Jam 49 Menit dan Membela Aturan Cut-Off


Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menutup rangkaian lombanya pada Minggu, 25 Oktober 2026, setelah dua hari menghadirkan lebih dari 37,000 pelari dari 48 negara di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan.
Edisi ketiga ini mencatat sejarah lewat nomor half marathon pertama di Indonesia yang mengantongi Gold Label dari World Athletics. Namun, salah satu peserta yang paling disorot justru Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Pramono melepas pelari full marathon pada dini hari, lalu ikut berlari di kategori 10K dengan nomor dada DKI 1. Di saat yang sama, ia harus menjawab polemik aturan cut-off yang membuat sejumlah pelari menerobos pagar pada hari pertama.
Nomor Dada DKI 1 dan Waktu 1 Jam 49 Menit
Pramono mengambil paket lomba di Istora Senayan pada Jumat, 23 Oktober, dan memamerkan nomor dada bertuliskan DKI 1, kode yang identik dengan jabatan Gubernur DKI Jakarta. Pada usia 63 tahun, ia memasang target sederhana, yakni finis sebelum batas waktu. Tahun lalu, ia menuntaskan 10K dalam 1 jam 32 menit.

Menjelang lomba, Pramono baru terlelap sekitar pukul 01.00 WIB dan bangun pukul 03.00 WIB untuk melepas sekitar 4,500 peserta full marathon pada pukul 04.00 WIB. Sekitar pukul 05.19 WIB, ia melewati garis start 10K di gelombang ketiga, berlari berdampingan dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.
Pramono finis dalam 1 jam 49 menit, lebih lambat dari rekor pribadinya. “Saya sebenarnya kalau mau jujur sudah ngap-ngapan, tetapi yang membuat semangat pertama cheering-nya, yang kedua memang yang minta foto banyak banget,” kata Pramono seusai lomba.
Half Marathon Berlabel Emas Pertama di Indonesia
Sorotan utama hari pertama, Sabtu (24/10), adalah myBCA Jakarta Half Marathon, lomba lari jalan raya pertama di Indonesia yang meraih World Athletics Road Race Gold Label.

Pelari Kenya menyapu bersih podium putra lewat Vincent Kipkemoi Ngetich, Gideon Kiprotich Rop, dan Bernard Wambua. Di sektor putri, Margaret Chelimo Kipkemboi finis pertama dalam 1 jam 8 menit 9 detik dan, menurut Okezone, memecahkan rekor rute. Stella Chesang dan Naomi Chepngeno melengkapi podium.
Jumlah peserta Jakarta Running Festival juga melonjak, dari sekitar 27,000 pelari pada 2025 menjadi sekitar 37,000 tahun ini. Lebih dari 1,000 di antaranya merupakan pelari internasional, dan lebih dari 500 komunitas lari ikut terlibat.
Pagar yang Diterobos di Cut-Off Point
Hari pertama juga menyisakan polemik. Video pelari half marathon yang menerobos pagar di cut-off point (COP) 1 pada kilometer 10,5 setelah lintasan ditutup viral di media sosial.
Sebagian peserta terlihat memanjat pagar, membuka paksa pembatas, hingga mendorong petugas. Edhie Kusdianto (67), peserta yang sudah berkali-kali mengikuti ajang ini, menilai pelari di koral belakang dirugikan karena baru melewati garis start mendekati pukul 05.00 WIB, sementara batas waktu COP berlaku sama untuk semua peserta.
Pramono meminta peserta tertib dan mengaitkan ketatnya aturan dengan status Gold Label, yang ia sebut sebagai "Gold Medal".
“Karena sudah masuk dalam Gold Medal, aturannya itu juga ketat. Itu bukan aturan yang dibuat oleh panitia, tetapi itu memang aturannya Gold Medal,” kata Pramono di GBK, Minggu (25/10).
Ia mengaku ikut berpacu dengan batas waktu dua jam di kategori 10K. Saat ditanya apakah peserta yang menerobos barikade akan masuk daftar hitam, ia menjawab singkat, “Enggak, enggak.”
Hujan Buatan dan Poster Karhutla
Persiapan JRF 2026 berlangsung di tengah sorotan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada Rabu (21/10), Pramono memerintahkan BPBD DKI Jakarta menggelar operasi modifikasi cuaca pada 22 sampai 23 Oktober agar Jakarta lebih sejuk menjelang JRF dan konser Ye di Stadion Utama GBK pada akhir pekan yang sama.
Menurut Pramono, indeks kualitas udara berada di angka 65 sampai 66 saat pelepasan full marathon dan sekitar 81 saat kategori 10K dimulai, masih dalam kategori sedang.
Ketika ditanya apakah cuaca yang bersahabat merupakan keberhasilan Pemprov DKI, Pramono enggan mengklaimnya. “Keberhasilan... enggak tahulah, Gusti Allah,” ujarnya.
Isu karhutla juga hadir di pinggir lintasan. Sejumlah kelompok membentangkan poster kuning bertuliskan pesan seperti "Bakar kalori, jangan bakar pohon".


Transportasi Gratis hingga Rp175 Miliar
Keterlibatan Pemprov DKI dimulai jauh sebelum hari lomba. Pada 30 September, Pramono mengumumkan seluruh transportasi umum yang dikelola Jakarta, mulai dari MRT, LRT, Transjakarta, hingga Transjabodetabek, gratis bagi pelari bernomor dada selama dua hari lomba.
Pada Senin (26/10), Pramono menyebut dampak ekonomi Jakarta Running Festival 2026 mencapai Rp175 miliar berdasarkan perhitungan jajaran Asisten Keuangan Pemprov DKI. Race expo melibatkan 49 UMKM dan ratusan merek.
Digabung dengan konser Ye, totalnya sekitar Rp625 miliar, meski Pramono meyakini angka sebenarnya “pasti lebih dari ini.” Sebagai pembanding, Katadata memperkirakan dampak ekonomi edisi 2025 sekitar Rp160 miliar.
Pramono juga menargetkan Jakarta menjadi tuan rumah major marathon dalam tiga tahun ke depan. “Menurut saya ini bisa menjadi role model maraton ataupun half marathon maupun 10 kilo, 5 kilo yang ada di Indonesia,” ujarnya.




