Demo BEM UI Tertahan Sebelum Bundaran HI: 8 Tuntutan, 21 Penangkapan, dan Janji Turun Lagi

Sehari setelah upacara HUT ke-81 RI digelar di Istana, mahasiswa memilih turun ke jalan. Demo BEM UI bertajuk “Merebut Kemerdekaan” berlangsung pada Selasa, 18 Agustus 2026 di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat, dan diikuti sejumlah kampus lain seperti Politeknik Negeri Jakarta, IPB, serta Universitas Pancasila.
Massa membawa delapan tuntutan untuk pemerintahan Prabowo-Gibran, mulai dari harga bahan pokok sampai evaluasi program Makan Bergizi Gratis. Aksinya sendiri tidak pernah sampai ke titik tujuan karena tertahan barikade polisi.
Berikut kronologi, isi tuntutannya, dan perkembangan terbaru sampai hari ini.
Jalannya Aksi dari Depok sampai Thamrin
Peserta berkumpul di Lapangan FISIP UI, Depok, dengan seragam serba hitam, lalu bergerak pukul 11.00 memakai puluhan angkot. Target awalnya tiba di Bundaran HI sekitar pukul 13.00. Koordinator lapangan Hafidz Haernanda menyebut jumlah massa berkisar 500 sampai 700 mahasiswa.
Selain UI, demo BEM UI ini juga diramaikan Sema Paramadina, BEM Trilogi, UNJ Melawan, serta BEM dan DPM Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Polda Metro Jaya sudah menyiapkan pengalihan arus situasional di sekitar lokasi sejak pagi.

Namun barisan itu tertahan barikade kepolisian di depan Gedung UOB dan tidak pernah menembus Bundaran HI. Polisi beralasan aksi berpotensi mengganggu ketertiban umum. Sempat terjadi aksi saling dorong antara massa dan aparat di titik tersebut.
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan menegaskan aksi ini bukan perayaan. “Kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?” ujarnya. Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra ikut berorasi di atas mobil komando. Menjelang bubar, massa menyanyikan “Tanah Airku” bersama-sama. BEM UI membubarkan diri sekitar pukul 18.07 dan rombongan Universitas Pancasila menyusul sekitar pukul 18.34.
Delapan Tuntutan yang Dibawa
Berikut daftar lengkap tuntutan yang disampaikan BEM UI:
1. Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri
2. Menghentikan korupsi, kolusi, dan nepotisme
3. Mewujudkan reforma agraria sejati
4. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
5. Mengevaluasi total Proyek Strategis Nasional serta menghentikan MBG dan KDMP
6. Menghentikan pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah, serta mengembalikan otonomi daerah
7. Menetapkan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak
8. Menghentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri di ruang sipil serta membubarkan Yon TP
Aftermath: 21 Orang Diamankan dan Rencana Turun Lagi
Perkembangan terbaru datang dari sisi kepolisian. Polda Metro Jaya mengamankan 21 orang sebelum aksi dimulai, dengan barang bukti berupa petasan, flare, botol yang diduga bahan molotov, satu pisau, serta satu golok yang ditemukan di dalam sebuah ambulans dekat lokasi.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyatakan, “Tujuannya adalah membuat konflik antara petugas pengamanan dengan peserta yang menyampaikan pendapat.” Polisi menduga mereka bukan bagian dari gerakan mahasiswa, dan sampai hari ini statusnya belum ditetapkan sebagai tersangka karena masih diperiksa Ditreskrimum. Tidak ada laporan korban luka maupun kerusakan dari aksinya sendiri.
Pengamat kepolisian dari ISESS, Bambang Rukminto, meminta pelaku kerusuhan diproses secara individual berdasarkan bukti, bukan dengan memukul rata seluruh massa. Dari sisi pemerintah, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Muhammad Qodari menyebut aksi ini bukti ruang demokrasi masih terbuka dan masukannya akan dievaluasi. Wakil Ketua DPR Saan Mustopa menilai unjuk rasa seperti ini hal biasa selama berlangsung tertib, sementara Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengapresiasi aksinya sambil mengingatkan peserta mewaspadai provokasi.
Di pihak mahasiswa, ceritanya belum selesai. Hafidz menegaskan, “Ini bukan yang terakhir kali kita ke sini. Kita akan terus ke sini sampai tembus.” BEM UI menyiapkan aksi lanjutan dengan massa lebih besar pada akhir Agustus, setelah evaluasi internal rampung.




