Volix
Current Eventszona megathrustbmkggempa bumiseismic gapsesar lembang

Apa Itu Zona Megathrust, dan Kenapa Warga Indonesia Waswas Belakangan

Iqbal Baskari·
Apa Itu Zona Megathrust, dan Kenapa Warga Indonesia Waswas Belakangan
Via BMKG.go.id

Kata megathrust kembali memenuhi lini masa dalam beberapa pekan terakhir, dan banyak orang membacanya sebagai peringatan bahwa sesuatu akan segera terjadi.

Padahal pemicunya bukan temuan ilmiah baru, melainkan campuran dari beberapa hal yang kebetulan menumpuk: gempa kecil yang benar-benar terasa di Jawa Barat, rangkaian erupsi gunung api di awal September 2026, dan satu prediksi dari luar negeri yang menyebar cepat tanpa dasar ilmiah. Persoalannya, istilah ini memang nyata dan penting, tetapi artinya sering dipahami terbalik.

Berikut penjelasannya, sekaligus bagian mana yang layak dipercaya:

Apa Itu Zona Megathrust Sebenarnya

Zona megathrust adalah bagian dari zona subduksi, yaitu bidang kontak tempat satu lempeng tektonik menunjam ke bawah lempeng lain. Di wilayah Indonesia, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

Menurut Daryono, anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), bidang kontak itu relatif dangkal dan bisa terkunci dalam waktu lama sehingga energi terus menumpuk. Ketika energi tersebut dilepaskan sekaligus, gempa yang dihasilkan bisa melampaui magnitudo 8,0, dan berpotensi memicu tsunami jika terjadi deformasi dasar laut.

Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 mencatat 14 segmen megathrust, dengan 11 di antaranya berada di wilayah Indonesia dan tiga sisanya di Filipina. Magnitudo maksimum tiap segmen berbeda-beda, misalnya Aceh-Andaman di angka 9,2 dan Jawa di angka 9,1.

Kenapa Tiga Segmen Dapat Perhatian Lebih

BMKG memberi perhatian khusus pada segmen Selat Sunda, Mentawai-Siberut, dan Sumba karena ketiganya berada dalam kondisi seismic gap. Daryono menjelaskan istilah itu sebagai zona sumber gempa aktif yang belum mengalami gempa besar dalam rentang puluhan hingga ratusan tahun terakhir.

Angkanya memang panjang. Selat Sunda tercatat terakhir mengalami gempa besar pada 1757, atau 269 tahun lalu, sementara Mentawai-Siberut pada 1797, atau 229 tahun lalu. Namun ini bagian yang paling sering disalahpahami: seismic gap menandakan energi yang tersimpan, bukan hitung mundur menuju tanggal tertentu.

Yang Sebenarnya Bikin Ramai Belakangan

Gelombang kekhawatiran terbaru berawal dari prediksi seorang pegiat cuaca amatir asal Kanada, Frankie MacDonald, yang menyebut gempa bermagnitudo 7,0 sampai 9,0 akan melanda Indonesia sebelum akhir tahun. Ia tidak memiliki latar belakang seismologi, dan tidak ada lembaga resmi yang mendukung klaim tersebut.

Sebelumnya beredar pula potongan video yang menyebut megathrust akan melumpuhkan Jakarta. BMKG sudah membantahnya sejak 2024, karena rekaman itu diambil di luar konteks dari rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI, dan yang dibicarakan Kepala BMKG saat itu, Dwikorita Karnawati, adalah risiko kerusakan infrastruktur komunikasi.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa gempa belum dapat diprediksi kapan dan di mana akan terjadi secara tepat. Ia juga menyebut seluruh segmen menjadi prioritas, dan BMKG memantau aktivitas kegempaan di seluruh Indonesia selama 24 jam.

Ancaman yang Justru Lebih Dekat

Ada ironi yang jarang dibahas. Gempa yang benar-benar terasa di Jakarta dan sekitarnya belakangan ini umumnya bukan berasal dari megathrust, melainkan dari sesar aktif di daratan. Gempa Cianjur bermagnitudo 4,3 pada 1 September, misalnya, bersumber dari sesar aktif pada kedalaman 10 kilometer.

Daryono mengingatkan bahwa gempa kerak dangkal semacam itu, meski magnitudonya sedang di kisaran 5,0 sampai 6,5, dapat memicu guncangan kuat karena sumbernya dekat dan diperkuat lapisan tanah aluvium yang lunak. Sesar Lembang bergerak 3 sampai 6 milimeter per tahun dengan potensi 6,8, sementara Sesar Baribis melintasi koridor padat Jakarta, Bekasi, hingga Purwakarta.

Waspada Tanpa Panik

Belum ada teknologi mana pun, termasuk yang berbasis kecerdasan buatan, yang mampu memprediksi gempa secara akurat. Karena itu BMKG menekankan bahwa informasi soal zona megathrust adalah bentuk kesiapsiagaan, bukan ramalan kejadian dalam waktu dekat.

Yang bisa dilakukan justru hal-hal yang membosankan tetapi berguna: mengenali jalur evakuasi, memastikan bangunan tempat tinggal cukup kuat, mengikuti latihan simulasi, dan mengambil informasi hanya dari kanal resmi BMKG. Beraktivitas normal tetap dianjurkan, termasuk melaut, berdagang, dan berwisata ke pantai.

Seorang warga membersihkan rumah yang rusak usai gempa di Desa Lidi, NTT pada Jumat (4/9/2026)
Seorang warga membersihkan rumah yang rusak usai gempa di Desa Lidi, NTT pada Jumat (4/9/2026) · Via ANTARA FOTO/Mega Tokan/app/YU

Baca Juga