20 Tahun Lionel Messi di Timnas Argentina, dari Kartu Merah 47 Detik sampai Trofi Piala Dunia

Lionel Messi resmi mengakhiri kariernya bersama timnas Argentina. Pengumuman itu datang lewat akun Instagram pribadinya pada Senin, 31 Agustus 2026, berbentuk foto surat tulisan tangan berbahasa Spanyol.
Yang bikin kabar ini terasa berbeda, suratnya ternyata sudah ditulis sejak 21 Juli, cuma dua hari setelah Argentina kalah 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026. Messi menyimpannya selama lebih dari sebulan sebelum akhirnya dilepas, dan kepergian ayahnya, Jorge Messi, pada 8 Agustus jadi yang meyakinkan dia bahwa waktunya memang sudah tepat.
Messi pergi sebagai pemegang rekor penampilan sekaligus gol terbanyak sepanjang sejarah La Albiceleste: 207 laga dan 125 gol dalam rentang 20 tahun.
Surat yang Disimpan Selama 40 Hari

“Setelah sekian waktu berlalu sejak laga final, dan setelah memikirkannya masak-masak, saya ingin menyampaikan kepada semua orang bahwa saya pensiun dari Tim Nasional,” tulis Messi.
Di bagian lain suratnya ia menjelaskan alasannya tanpa banyak berputar. “Saya sudah mengosongkan diri, tidak ada lagi yang bisa saya berikan, dan di belakang saya ada anak-anak muda yang sangat bagus.”
Menurut laporan media Argentina, keputusan itu sebenarnya sudah lebih dulu ia sampaikan ke rekan-rekan setimnya di ruang ganti MetLife Stadium, sebelum final dimainkan. Presiden Argentina Javier Milei ikut merespons lewat Instagram dengan satu kalimat pendek, “Muchas gracias HOMBRE IMPOSIBLE...!!!” Terima kasih banyak, manusia mustahil.
Debutnya Cuma Bertahan 47 Detik

Perjalanan yang berakhir semegah ini justru dimulai dengan cara paling buruk. Pada 17 Agustus 2005, Lionel Messi yang baru berusia 18 tahun masuk sebagai pemain pengganti di laga persahabatan melawan Hungaria di Budapest. Sekitar 47 detik kemudian, wasit Markus Merk mengeluarkan kartu merah untuknya karena dianggap menyikut Vilmos Vanczak. Tayangan ulang menunjukkan sentuhannya nyaris tidak ada. Debut internasionalnya selesai sebelum sempat benar-benar dimulai.
Ironisnya, beberapa minggu sebelum malam itu ia sebenarnya sudah menjadi juara dunia. Messi membawa Argentina menjuarai Piala Dunia U-20 di Belanda, mencetak dua gol di final saat mengalahkan Nigeria 2-1, lalu pulang dengan sepatu emas dan bola emas turnamen sekaligus. Gol pertamanya di tim senior baru datang pada 2006 melawan Kroasia, dan di tahun yang sama ia menjadi pemain termuda Argentina yang tampil sekaligus mencetak gol di Piala Dunia.
Medali besar berikutnya juga datang dari level usia. Pada Olimpiade Beijing 2008, Argentina merebut emas setelah mengalahkan Nigeria 1-0 lewat umpan Messi yang diselesaikan Ángel Di María dengan sepakan cungkil. Setelah itu, selama lebih dari satu dekade, tidak ada satu pun trofi yang datang.
Empat Final Kalah dan Pensiun yang Pertama

Selama 15 tahun berikutnya, Lionel Messi selalu berhenti satu langkah sebelum garis akhir. Final Copa América 2007 kalah dari Brasil. Final Piala Dunia 2014 kalah dari Jerman, meski ia tetap membawa pulang Golden Ball. Final Copa América 2015 kalah dari Chile lewat adu penalti. Setahun setelahnya, final Copa América Centenario 2016 mempertemukan mereka dengan lawan yang sama, di stadion yang belakangan jadi punya arti tersendiri: MetLife Stadium.
Di sela-sela final itu ada kekalahan yang lebih sunyi tapi sama pahitnya. Piala Dunia 2010 dan Copa América 2011 sama-sama berhenti di perempat final, dan di dua turnamen itu Messi tidak mencetak satu gol pun.
Yang bikin 2016 terasa paling kejam justru urutannya. Lima hari sebelum final, lewat tendangan bebas ke gawang Amerika Serikat di semifinal, ia resmi melewati Gabriel Batistuta sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Argentina. Lalu pada 26 Juni 2016 ia gagal mengeksekusi penaltinya di MetLife. Beberapa saat setelah laga, ia bilang ke televisi Argentina bahwa timnas sudah selesai buat dirinya. Pensiun pertamanya bertahan kurang dari dua bulan. Ia kembali pada Agustus 2016, dengan alasan lebih baik membantu dari dalam.
Semuanya Patah dalam Tiga Tahun

Kutukan itu akhirnya putus di Copa América 2021, saat Argentina menang 1-0 atas Brasil di Maracanã dan mengakhiri puasa gelar mayor selama hampir tiga dekade. Sisanya datang beruntun: Finalissima 2022 dengan kemenangan 3-0 atas Italia, Piala Dunia 2022 di Qatar lewat adu penalti melawan Prancis, lalu Copa América 2024. Di Qatar ia mencetak tujuh gol dan menjadi pemain pertama yang meraih Golden Ball Piala Dunia sebanyak dua kali.
Di Piala Dunia 2026 ia masih menyumbang delapan gol dan sempat menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen dengan 21 gol, sebelum Kylian Mbappé menyalipnya di angka 22.
Apa yang Terjadi Setelah Ini

Rekan-rekan setimnya langsung bersuara. Ángel Di María menulis bahwa ia merasa lahir di abad yang tepat untuk bisa menyaksikan Messi bermain. Rodrigo De Paul menyebutnya yang terhebat sepanjang masa. Presiden AFA Claudio Tapia memanggilnya kapten dari mimpi-mimpi kami, dan sudah lama menegaskan nomor punggung 10 Argentina akan dipensiunkan permanen begitu Messi berhenti.
AFA kini mengupayakan laga perpisahan di Stadion Monumental milik River Plate pada jendela internasional FIFA berikutnya, meski lawan dan tanggalnya belum ditentukan. Yang jelas Lionel Messi belum berhenti main bola. Kontraknya bersama Inter Miami masih berjalan sampai musim MLS 2028.




