Snapchat Rilis Kacamata AR Pertamanya 'Specs', Harganya Tembus Rp39 Juta

Snap, perusahaan induk Snapchat, resmi memperkenalkan kacamata augmented reality (AR) pertamanya yang ditujukan untuk konsumen umum, bernama Specs. Diumumkan oleh sang CEO Evan Spiegel dalam ajang Augmented World Expo (AWE) pada 16 Juni 2026, perangkat ini menjadi taruhan besar Snap di masa depan komputasi.
Namun, yang langsung menjadi sorotan justru harganya, yaitu USD 2.195 atau sekitar Rp39 juta. Sebuah angka yang jelas tidak murah untuk sebuah kacamata.
Bukan Sekadar Kacamata Pintar
Berbeda dari kebanyakan kacamata pintar yang hanya mengandalkan audio atau kamera, Specs adalah komputer utuh yang dijejalkan ke dalam bingkai kacamata. Perangkat ini sepenuhnya mandiri, tanpa perlu kabel, perangkat tambahan, bahkan ponsel untuk bisa bekerja.
Di dalamnya tertanam dua prosesor Qualcomm Snapdragon, satu untuk computer vision dan satu lagi untuk menjalankan efek AR yang disebut Lenses. Dengan layar liquid crystal on silicon, Specs menawarkan bidang pandang 51 derajat dan 16 juta warna, yang menurut Snap setara dengan layar desktop 24 inci untuk bekerja atau layar bioskop 115 inci untuk hiburan. Bahannya pun terbuat dari polimer TR90 asal Swiss, yang oleh Spiegel disebut sebagai 'plastik titanium'. Menariknya, lensanya bisa berubah dari bening ke gelap dalam 10 detik, menggunakan teknologi serupa yang dipakai pada jendela pesawat Boeing 787 Dreamliner.
Apa Saja yang Bisa Dilakukan
Jadi, untuk apa kacamata semahal ini? Snap menawarkan tiga fungsi utama.


Pertama, asisten AI kontekstual, di mana AI dapat melihat apa yang kamu lihat dan langsung memberikan informasi soal objek di depan mata. Kedua, sebagai ruang kerja portabel, karena pengguna bisa memunculkan layar, membuka papan tulis digital, hingga berselancar di internet di mana saja. Ketiga, dan yang paling khas Snap, adalah pengalaman sosial. Specs memungkinkan permainan multipemain yang diaktifkan hanya dengan dua pengguna saling bertatapan mata, sebuah fitur yang dinamai 'EyeConnect'.
Daya tahan baterainya mencapai sekitar empat jam, dengan tambahan dari casing pengisi daya hingga total 20 jam. Untuk para pengembang, Snap juga membuka alat pengembangan baru yang terintegrasi dengan perangkat seperti Claude Code, Codex, dan Cursor.
Harga Selangit dan Taruhan Besar Spiegel
Tidak bisa dipungkiri, harga USD 2.195 (dengan deposit USD 200 yang bisa dikembalikan) adalah penghalang terbesarnya. Sebagai gambaran, angka ini sekitar 15 kali lipat lebih mahal dari Spectacles kamera pertama Snap pada 2016 yang hanya dibanderol USD 130, dan ini sekaligus menjadi versi konsumen pertama mereka sejak 2019. Harga Specs sendiri berada di antara Meta Ray-Ban Display seharga USD 799 dan Apple Vision Pro yang dibanderol USD 3.499.

Perangkat ini dijadwalkan mulai dikirim pada musim gugur, sayangnya baru di tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis. Di balik harga ini, ada keyakinan Spiegel bahwa era smartphone akan segera berakhir, digantikan oleh perangkat yang tidak memaksa orang terus menunduk menatap layar.
Namun, taruhan ini tidak mudah, mengingat pasar kacamata pintar kini makin ramai dengan pemain besar seperti Meta yang memimpin lewat Ray-Ban, serta Google dan Apple yang juga bersiap. Bagi Snap, yang selama ini terus merugi sebagai perusahaan publik, kesuksesan Specs menjadi sangat krusial.
Privasi dan Keamanan Anak
Karena kacamata ini dilengkapi kamera dan AI yang bisa melihat sekitar, isu privasi pun menjadi perhatian utama. Mengikuti langkah Meta, Specs dibekali lampu LED yang menyala saat sedang merekam, sebagai penanda bagi orang di sekitar. Snap juga menegaskan bahwa pengguna memiliki kendali penuh atas data yang disimpan, dibagikan, atau dihapus, dengan pemrosesan yang diutamakan langsung di perangkat.
Soal anak, Spiegel yang merupakan ayah dari empat anak laki-laki mengaku telah menguji Specs di rumah, dan berjanji akan merilis fitur kontrol orang tua agar perangkat ini lebih aman digunakan remaja. Untuk penggemar di Indonesia, ada catatan penting, karena Specs belum masuk dalam daftar negara peluncuran, sehingga untuk saat ini hanya bisa didapatkan lewat jalur impor yang tentu membuat harganya semakin membengkak.
Pada akhirnya, kehadiran Specs menegaskan bahwa para raksasa teknologi kini berlomba menjadikan AR sebagai masa depan komputasi. Meski harganya masih terlalu mahal untuk kebanyakan orang, perangkat ini menjadi sinyal jelas ke mana arah teknologi sedang bergerak.
Untuk sekarang, para penggemar di Tanah Air mungkin hanya bisa menyaksikan dari kejauhan, sambil menunggu apakah teknologi secanggih ini suatu hari nanti bisa lebih terjangkau.




