Men's Mental Health Awareness Month: Saatnya Laki-laki Berhenti Berjuang dalam Diam

Selama ini, kita lebih sering mendengar pesan bahwa laki-laki harus kuat, tidak boleh cengeng, dan harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Padahal, di balik citra tangguh itu, banyak laki-laki yang diam-diam berjuang menghadapi tekanan mental tanpa pernah benar-benar bercerita.
Setiap bulan Juni diperingati sebagai Men's Mental Health Awareness Month, momen yang mengajak kita untuk lebih peduli pada kesehatan mental laki-laki, salah satu isu kesehatan yang paling sering terabaikan.
Kenapa Kesehatan Mental Laki-laki Sering Terabaikan
Salah satu akar masalahnya adalah stigma dan ekspektasi sosial seputar maskulinitas. Sejak kecil, banyak laki-laki tumbuh dengan pesan seperti "anak laki-laki tidak boleh menangis" atau "laki-laki harus kuat", yang membuat mereka merasa malu untuk menunjukkan kerentanan, apalagi meminta bantuan. Tekanan modern seperti burnout, kesepian, beban pekerjaan, dan isolasi sosial pun terus meningkat, terutama di kalangan laki-laki muda dan usia produktif.
Akibatnya, laki-laki cenderung jauh lebih jarang mencari pertolongan profesional dibanding perempuan, bahkan ketika sudah mengalami gejala. Data dari lembaga kesehatan di Amerika Serikat seperti National Institute of Mental Health (NIMH) menunjukkan hampir satu dari lima laki-laki mengalami suatu kondisi kesehatan mental dalam setahun, dan angkanya melonjak hingga sekitar 36% pada laki-laki muda usia 18 sampai 25 tahun.
Yang lebih memprihatinkan, menurut data CDC, laki-laki menyumbang hampir 80% kasus kematian akibat bunuh diri dan berisiko sekitar empat kali lebih besar dibanding perempuan. Meski angka tersebut berasal dari Amerika Serikat, pola yang sama, yakni laki-laki lebih jarang terbuka dan mencari bantuan, juga banyak ditemui di berbagai negara termasuk Indonesia.
Ketika Depresi pada Laki-laki Tidak Selalu Terlihat

Hal lain yang membuat kesehatan mental laki-laki sulit dikenali adalah karena gejalanya sering tidak terlihat seperti yang kita bayangkan. Depresi pada laki-laki tidak selalu tampil sebagai kesedihan yang jelas. Sebaliknya, ia bisa muncul dalam bentuk yang mudah disalahartikan, seperti mudah marah, mudah tersinggung, atau perilaku berisiko seperti konsumsi alkohol berlebihan.
Secara fisik, gejalanya bisa berupa kelelahan terus-menerus, nyeri tanpa sebab yang jelas, hingga perubahan pola tidur dan nafsu makan. Banyak laki-laki juga cenderung menyembunyikan emosinya, tampak datar atau menarik diri, dan menghindari percakapan tentang perasaan. Tidak jarang, mereka terlihat baik-baik saja dan terus menjawab "I'm fine", padahal sedang tidak baik-baik saja. Mengenali tanda-tanda ini, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat, menjadi langkah awal yang penting.
Apa yang Bisa Kita Lakukan
Kabar baiknya, ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekitar kita. Bagi kamu yang sedang berjuang, langkah pertama memang sering terasa paling berat, tetapi berbicara kepada orang yang kamu percayai atau konsultasi dengan profesional adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan. Tidak perlu menunggu sampai semuanya terasa pupus untuk mulai mencari bantuan.
Sementara itu, bagi kamu yang ingin mendukung laki-laki di sekitarmu, cobalah untuk benar-benar menanyakan kabar mereka, bukan sekadar basa-basi, lalu mendengarkan tanpa menghakimi, dan menunjukkan bahwa kamu ada untuk mereka. Terkadang, sekadar tahu bahwa ada orang yang peduli sudah bisa sangat berarti. Mengubah cara kita memandang kerentanan, dari sesuatu yang memalukan menjadi hal yang manusiawi, adalah inti dari peringatan ini.
Di Mana Bisa Mencari Bantuan
Jika kamu atau orang terdekatmu membutuhkan dukungan, ada beberapa layanan kesehatan jiwa di Indonesia yang bisa diakses.
Kementerian Kesehatan menghadirkan Healing119.id, layanan hotline kesehatan mental berbasis daring yang dapat diakses 24 jam secara gratis dan anonim, baik melalui panggilan suara maupun chat. Kamu juga bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes di 021-500-454, atau mendatangi Puskesmas terdekat yang kini banyak di antaranya memiliki layanan poliklinik jiwa dengan biaya terjangkau. Untuk penanganan lebih lanjut, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater juga sangat dianjurkan. Yang terpenting, kamu tidak harus menghadapinya sendirian.
Pada akhirnya, kesehatan mental adalah bagian dari kesehatan secara keseluruhan, sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Men's Mental Health Awareness Month memang diperingati pada bulan Juni, tetapi kepedulian terhadap kesehatan mental laki-laki seharusnya tidak berhenti ketika bulan ini berakhir. Karena bagi siapa pun, mengakui bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja dan berani mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah pertama menuju pemulihan. Pada akhirnya, itulah wujud kekuatan laki-laki sebenarnya.



