Foufo: Ketika UFO Jatuh di Madura Jadi Film Komedi Sci-Fi Berbudaya Madura Pertama

Bayangkan sebuah UFO jatuh di Madura, dan alien di dalamnya justru membantu satu keluarga melunasi biaya naik haji sang ibu. Premis nyeleneh itulah yang diusung Foufo, film komedi sci-fi terbaru garapan Bayu Skak yang resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026. Lebih dari sekadar hiburan, Foufo mencatatkan diri sebagai film berbudaya Madura pertama di layar lebar Indonesia.
UFO Jatuh di Madura, Dibungkus Drama Naik Haji

Persembahan Skak Studios dan Sinemart ini berpusat pada Muslim (Tretan Muslim), seorang pengepul rongsok keturunan Madura di Kampung Rombeng yang terdesak melunasi sisa biaya haji ibunya. Hidupnya berubah drastis ketika ia menemukan bangkai UFO berisi alien sekarat yang kemudian ia namai Foufo.
Alih-alih menjualnya, Muslim menyembunyikan Foufo, yang ternyata punya teknologi canggih untuk membereskan berbagai masalah keluarganya. Konflik memuncak saat tenggat pelunasan haji tiba dan Foufo justru kehabisan energi, memaksa Muslim memilih: memberangkatkan haji sang ibu, atau membantu Foufo pulang ke kapal induknya? Perpaduan fiksi ilmiah dengan drama keluarga yang membumi inilah yang membuat filmnya terasa segar.
Comeback Bayu Skak dan Debut Dramatis Tretan Muslim

Bagi Bayu Skak, Foufo adalah keberanian keluar dari zona nyaman. “Setelah sukses dengan genre horor komedi, kali ini saya ingin menantang diri. Lewat Foufo, kami ingin menghadirkan cerita yang unik, lucu, tapi sekaligus mengharukan,” ujarnya.
Film ini juga menandai debut Tretan Muslim sebagai pemeran utama layar lebar. Yang menarik, komedian yang biasa melawak ini justru dituntut berakting serius. “Di sini aku malah tidak boleh berkomedi, malahan aku harus nangis. Jadi ini sangat menantang bagiku,” akunya. Tak kalah mencuri perhatian, sosok Ibu Saiqona diperankan Siti Kam, yang melakoni debut aktingnya di layar lebar pada usia 63 tahun.
Nama Bayu Skak dan Skak Studios memang bukan pemain baru dalam mengangkat konten berbahasa daerah. Sebelum Foufo, mereka sudah melahirkan sederet karya seperti Yowis Ben, Lara Ati, hingga Sekawan Limo. Bahkan, lokadrama Lara Ati di Vidio sempat menembus 50 juta penonton, rekor terbanyak sepanjang sejarah platform tersebut.
Autentik, dari Casting sampai Animasi Lokal

Keaslian jadi kekuatan utama Foufo. Meski 70% dialognya berbahasa Madura, filmnya tetap mudah dipahami penonton umum berkat tema universal soal cinta seorang anak kepada ibunya. Jajaran pemainnya pun lahir dari open casting yang melibatkan 2,500 peserta, dengan hampir 90% pemain berdarah Madura.
Sentuhan lokal juga terasa di balik layar. Animasi karakter alien digarap studio animasi asal Surabaya, Hompimpa, dengan sekitar 120 animator yang terlibat. Di tengah gempuran kecerdasan buatan, Foufo seolah ingin membuktikan bahwa kekuatan animator lokal tetap jadi yang utama.
ALIEN LUCU DENGAN SUARA LEGENDARIS

Karakter alien yang dimunculkan dalam film ini dengan sederhananya dinamakan "Foufo", mengingat nama aslinya terlalu panjang untuk disebut, ungkap Bayu Skak saat berlangsungnya konferensi pers film pada Juni lalu.
Foufo telah direncanakan dengan matang sejak tahap pre-produksi, mulai dari wujudnya yang warna-warni dan kid-friendly hingga rencana untuk mengembangkan lini merchandise-nya sendiri. Sementara itu, Foufo dihidupkan dalam filmnya dengan menggunakan gabungan teknik CGI dan motion-capture practical untuk porsi tubuh sang alien.
Kemudian, tak lupa ada Ade "Bibier" Kurniawan yang jadi pengisi suara Foufo. Suara Ade mungkin sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Tanah Air berkat perannya sebagai dubber Spongebob versi Indonesia. Kali ini, ia menukar dunia laut dengan luar angkasa lewat karakter Foufo. Kalau itu belum cukup, di sini Ade sendiri juga muncul sebentar dengan peran fisik di awalan film.
Pulang Kampung dan Sambutan Hangat
Menjelang perilisannya, Foufo menempuh jalan yang tak biasa. Film ini menggelar roadshow perdana Bayu Skak di Madura, disambut meriah di bioskop KCM Pamekasan dan dilanjutkan Madura Fest. Sebelumnya, roadshow di Jawa Timur bahkan ludes terjual, sementara gala premiere di Jakarta tampil beda dengan menghadirkan bebek, sapi, dan kambing di area red carpet.
Sambutannya pun positif. Banyak penonton menilai Foufo berhasil menghadirkan kehidupan komunitas Madura secara autentik tanpa stereotip yang berlebihan, meski sebagian ulasan menyebut penuturannya masih terasa sedikit terpotong-potong. Terlepas dari itu, Foufo membuka pintu baru bagi perfilman Indonesia untuk berani menjelajahi genre komedi sci-fi.
Foufo kini sudah tayang di bioskop sejak 9 Juli 2026.



