Film Memburu Pemangsa Jangkau 3,000 Siswa Sebelum Tayang, Ini Fakta-Faktanya

Film horor biasanya berpromosi lewat teaser, poster, dan jumpa pers. Memburu Pemangsa memilih jalur yang tidak lazim: turun ke sekolah, duduk bersama warga Blok M, membuka wahana escape room, dan menempelkan pesannya di satu juta gelas kopi.
Film produksi Sinemaku Pictures ini tayang di bioskop mulai 24 September 2026, dan seluruh rangkaian kegiatan itu dibungkus dalam kampanye bertajuk #JagaAnakAnak. Di balik kampanyenya, ada film yang punya beberapa hal tidak biasa, mulai dari empat jurnalis perempuan sebagai tokoh utama sampai riset bersama lembaga yang benar-benar menangani kejahatan terhadap anak.
Dari Sekolah ke Blok M

Kampanye ini dimulai dari ruang kelas. Dalam dua hari, #JagaAnakAnak Goes to School menjangkau sekitar 3,000 siswa di SMK Pustek Serpong dan SMAN 2 Kota Serang lewat talkshow dan permainan interaktif soal perlindungan diri.
Sutradara Umay Shahab dan pemeran Taskya Namya hadir langsung, ditemani Sadam Permana, kreator konten yang dikenal lewat materi edukasi untuk anak muda. Rangkaian ini dijadwalkan berlanjut ke sekolah di kota lain.
Berikutnya Blok M. Dalam talkshow yang dipandu Arvino, yang dikenal sebagai Gubernur Blok M, bersama Niky Putra dari trio NPD, Sinemaku sekaligus merilis trailer dan poster resminya. Laura Basuki, Taskya Namya, Yasamin Jasem, dan Rifnu Wikana ikut berdiskusi dengan warga.
Laura Basuki menyampaikan hal yang paling menempel dari sesi itu. “Jangan terus menerus menyalahkan ‘Oh mungkin karena dia jalan sendiri’, ‘Oh karena dia pakai baju terlalu terbuka’, ya yang dibenerin harusnya kita sebagai orang dewasa, dan orang dewasa harus ikut menjaga keamanan anak-anak,” ujarnya.
Escape Room dan Satu Juta Gelas Kopi

Kolaborasi dengan XSpace Indonesia membawa premis Memburu Pemangsa keluar dari layar. Di wahana XSpace Pasaraya Blok M, pengunjung menjalani misi investigasi dan perburuan yang terinspirasi dari cerita film, menggabungkan role-play, teka-teki, dan elemen horor. Pengalaman ini dibuka dari 14 September sampai 11 Oktober.
Jalur lain lewat Kopi Nako. Sejak 7 September, satu juta gelas edisi Kopi Nako x Memburu Pemangsa beredar di 57 gerai di berbagai wilayah Indonesia. Robert Wanasida, Chief Creative & Marketing Kanma Group, menyebut mereka tertarik karena pesannya positif dan gelas kopi bisa menyampaikannya langsung ke pelanggan dalam bentuk visual sehari-hari.
Empat Jurnalis dan Tujuh Anak yang Hilang

Ceritanya mengikuti empat jurnalis perempuan yang menyelidiki serangkaian kasus hilangnya tujuh anak. Laura Basuki berperan sebagai Agnes, pemimpin redaksi Daily Wave News yang masih dihantui trauma kehilangan putrinya. Ia dibantu Cia (Prilly Latuconsina), Anya (Yasamin Jasem) sebagai analis bukti, dan Brina (Taskya Namya) sebagai operator kamera. Teuku Rifnu Wikana memerankan sosok predator yang mereka buru, sementara Andri Mashadi berperan sebagai Petra, seorang polisi.
Yang membuat premisnya tidak biasa adalah arah penyelidikannya. Kasus yang awalnya dikejar sebagai berita kriminal perlahan menyeret keempatnya ke wilayah demonologi dan ritual, dengan Agnes yang dulu menolak penjelasan supranatural setelah kematian putrinya harus berhadapan dengan hal yang tidak bisa ia jelaskan.
Umay Shahab kembali mengisi kursi sutradara. Naskahnya ditulis Rezy Junio dari cerita Umay Shahab dan Reka Wijaya, dengan Imam Salimy sebagai produser.
Yang Membuat FILMNYA Berbeda
Film ini jadi lompatan genre bagi Sinemaku Pictures, rumah produksi yang Umay dirikan bersama Prilly Latuconsina pada 2019 dan selama ini dikenal lewat drama seperti Kukira Kau Rumah, Ketika Berhenti di Sini, Bolehkah Sekali Saja Kumenangis, dan Perayaan Mati Rasa.
Hal lain yang paling jarang ditemukan di film horor lokal, risetnya dilakukan sejak tahap pengembangan cerita bersama Komnas Perlindungan Anak, akademisi kriminologi Universitas Indonesia, Divisi Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Kejahatan terhadap Anak Bareskrim Polri, serta redaksi media investigasi.
Umay menyebut kasus kekerasan terhadap anak banyak terjadi justru di ruang terdekat anak, dan itu keresahan yang ia bawa sejak kecil melihat teman seumurannya menjadi korban. Ia berharap film ini dapat semakin membuka mata orang-orang terhadap ancaman tersebut demi mencegah naiknya angka korban di masa depan.






