EA Tutup BioWare dan Batalkan Mass Effect Berikutnya, Akhir Studio RPG yang Didirikan Tiga Dokter


Electronic Arts (EA) resmi menutup BioWare, studio asal Edmonton, Kanada, yang melahirkan Mass Effect dan Dragon Age. Keputusan itu diumumkan pada Rabu, 21 Oktober 2026, bersamaan dengan pemangkasan sekitar 400 posisi atau 3 persen tenaga kerja EA secara global.
Proyek Mass Effect berikutnya, yang masih berada di tahap awal pengembangan, ikut dibatalkan. Penutupan ini terjadi kurang dari tiga bulan setelah EA diakuisisi senilai US$55 miliar oleh konsorsium yang dipimpin Public Investment Fund (PIF) Arab Saudi.
Bagi industri game, kabar ini menandai berakhirnya studio yang selama lebih dari 30 tahun ikut membentuk wajah role-playing game (RPG) modern.
Surat Internal EA dan Mass Effect yang Batal
Kabar penutupan pertama kali dilaporkan Bloomberg, lalu dikonfirmasi lewat surat internal dari Chief Operating Officer EA David Tinson dan Chief Studios Officer Cam Weber. Dalam surat itu, EA menyebut sebuah tim kecil di BioWare tengah menggarap tahap awal Mass Effect baru.
“Kami memutuskan untuk tidak melanjutkan pengembangan ini, yang berarti kami menutup studio dan ruang kerja kami di Edmonton,” tulis keduanya. Sekitar 50 karyawan BioWare terdampak.
BioWare kemudian mengonfirmasi kabar tersebut lewat media sosial. “Apa yang dibangun bersama oleh generasi-generasi BioWare adalah sesuatu yang layak dirayakan dan dikenang,” tulis studio tersebut.

Berawal dari Tiga Dokter di Edmonton
BioWare didirikan pada 1995 oleh Ray Muzyka, Greg Zeschuk, dan Augustine Yip, tiga lulusan kedokteran University of Alberta yang sebelumnya membuat program simulasi medis. Ketiganya patungan modal dari hasil praktik medis untuk menggarap game pertama mereka, Shattered Steel.
Terobosan datang lewat Baldur's Gate (1998), RPG berbasis Dungeons & Dragons yang terjual lebih dari dua juta kopi. Setelah serangkaian hit, EA membeli BioWare pada Oktober 2007 dalam kesepakatan senilai US$775 juta yang juga mencakup Pandemic Studios. Muzyka dan Zeschuk sendiri pensiun dari industri game pada 2012.
Franchise yang Membentuk Genre RPG



Baldur's Gate dan Neverwinter Nights
Baldur's Gate dan sekuelnya, Baldur's Gate II: Shadows of Amn (2000), menjadi fondasi RPG komputer modern. Neverwinter Nights (2002) menyusul dan disambut pujian luas. Seri Baldur's Gate kemudian dilanjutkan Larian Studios lewat Baldur's Gate 3.
Star Wars: Knights of the Old Republic
Star Wars: Knights of the Old Republic (2003) membawa formula RPG BioWare ke konsol lewat Xbox dan menuai pujian kritikus. Pengalaman itu berlanjut ke Star Wars: The Old Republic (2011), MMORPG yang meraup pendapatan lebih dari US$1 miliar.
Mass Effect
Trilogi Mass Effect (2007 hingga 2012) dikenal lewat keputusan pemain yang terbawa dari satu game ke game berikutnya. Mass Effect 2 meraih Game of the Year di Interactive Achievement Awards, sementara ending Mass Effect 3 memicu protes besar hingga BioWare merilis ending tambahan secara gratis. Seri ini juga sedang diadaptasi menjadi serial live-action di Prime Video.
Dragon Age
Dragon Age: Origins (2009) lahir sebagai penerus spiritual Baldur's Gate dan terjual lebih dari 3,2 juta unit hingga Februari 2010. Seri ini berlanjut hingga Dragon Age: The Veilguard (2024), yang kini tercatat sebagai game terakhir BioWare.
Masa Sulit di Bawah EA
Setelah era emas itu, BioWare kerap dilanda masalah. Mass Effect: Andromeda (2017) menuai respons terbelah dan tidak memenuhi ekspektasi EA. Anthem (2019), shooter live service yang lama terjebak development hell, juga gagal mencapai target pendapatan, dan servernya resmi dimatikan pada 12 Januari.
Dragon Age: The Veilguard dinilai positif oleh kritikus, namun menurut EA hanya menjangkau 1,5 juta pemain dalam tiga bulan, sekitar separuh dari target. Studio pun terus menyusut, dari lebih dari 200 orang pada 2023 menjadi sekitar 50 orang menjelang penutupan.
Reaksi Industri dan Nasib Mass Effect
Kabar ini memicu gelombang reaksi. Casey Hudson, sutradara trilogi Mass Effect sekaligus mantan general manager BioWare, menyebut pengaruh studio itu akan tetap terasa.
“Warisannya akan terus hidup melalui mereka yang pernah menjadi bagian darinya,” tulis Hudson di X.
CEO Larian Studios Swen Vincke menyebut BioWare “led the way in making RPGs big,” sementara co-CEO CD Projekt Michał Nowakowski mengenang dukungan BioWare saat studionya menggarap The Witcher pertama.
Soal nasib IP, Mark Darrah, mantan executive producer seri Dragon Age, menilai EA bisa menjual Mass Effect, Dragon Age, dan Jade Empire, atau justru menyimpannya di gudang.
“Sekarang tidak ada lagi yang mengerjakan game tersebut di dalam organisasi EA, dan kemungkinan besar tidak akan pernah ada,” ujarnya. Hingga kini, EA belum mengumumkan rencana apa pun untuk franchise tersebut.




