Volix
ExclusiveMovieskuasa gelapfilm horor indonesiarizal mantovanilukman sardijerome kurniavenly arauna

Bawa Kisah Pesugihan ke Lensa Katolik, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tembus 699 Ribu Penonton dalam 9 Hari

Iqbal Baskari·
Bawa Kisah Pesugihan ke Lensa Katolik, Kuasa Gelap: Perjanjian Darah Tembus 699 Ribu Penonton dalam 9 Hari
Via Paragon Pictures

Sekuel film eksorsisme Kuasa Gelap: Perjanjian Darah resmi tayang di bioskop Indonesia sejak 8 Oktober 2026, termasuk di layar IMAX, 4DX, dan Cinépolis Magnify 8.

Antusiasmenya terlihat sejak awal. Tiket early screening habis di sejumlah kota seperti Bandung, Surabaya, Pontianak, Manado, dan Kupang, sementara film ini menjadi film Indonesia ke-10 yang meraih 100 ribu penonton pada hari pertama. Dalam sepekan, penontonnya menembus 400 ribu, dan menurut Solo Balapan sudah mencapai 699 ribu dalam sembilan hari.

Berikut sinopsis, detail film, cerita di balik layar, hingga tanggapan para pemain dan krunya:

Sinopsis Kuasa Gelap: Perjanjian Darah

Setelah menuntaskan eksorsisme terhadap Kayla, Romo Rendra (Lukman Sardi) dan Romo Thomas (Jerome Kurnia) melanjutkan tugas sebagai romo eksorsis yang mendapat izin resmi dari Vatikan.

Kali ini, mereka diminta menolong Daniel (Venly Arauna), anak seorang pengusaha kapal ternama di sebuah desa pesisir di Jawa Timur. Awalnya Daniel dianggap hanya mengalami gangguan mental, namun tingkahnya makin aneh hingga muncul luka stigmata yang misterius.

Rendra sempat ragu karena menyimpan trauma masa lalu di desa itu, tetapi keinginannya untuk menolong ternyata lebih kuat. Begitu ritual dimulai, rahasia kelam keluarga Daniel perlahan terkuak, dan hubungan antara Rendra dan Thomas diuji.

Detail-DETAIL Film

Via Paragon Pictures

Jika film pertamanya yang tayang pada 2024 disutradarai Bobby Prasetyo, kali ini kursi sutradara diisi Rizal Mantovani. Naskahnya ditulis Robert Ronny bersama Andri Cahyadi, dengan Robert Ronny dan Prima Taufik sebagai produser.

Jerome Kurnia juga untuk pertama kalinya merangkap sebagai produser eksekutif. Sinematografinya digarap Yadi Sugandi, sementara Alfi Syahri bertindak sebagai desainer produksi. Selain Lukman, Jerome, dan Venly, film ini dibintangi Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, dan Faiz Vishal.

Berbeda dari film pertama yang berfokus pada pergulatan Romo Thomas, sekuel ini menyorot sisi personal Romo Rendra. Ceritanya mengangkat praktik pesugihan, tema yang akrab dalam horor Indonesia, namun dituturkan dari perspektif Katolik.

Film pendahulunya sendiri meraih lebih dari 1,4 juta penonton, terjual ke 53 negara, dan sempat menempati posisi teratas Netflix Indonesia. Kesuksesan tersebut semakin membuat studio antusias untuk menggarap sekuel yang lebih ambisius dengan suntikan bujet lebih besar.

Di Balik Layar

Via Paragon Pictures

Syuting Kuasa Gelap: Perjanjian Darah rampung pada April. Untuk pertama kalinya dalam semesta Kuasa Gelap, kawasan pesisir dipilih sebagai salah satu lokasi utama.

Skala produksinya pun membesar, dengan adegan puncak berlatar gereja yang melibatkan lebih dari 200 figuran. Dalam beberapa kesempatan, Rizal bahkan turun langsung memegang kamera dan bergerak bersama kru.

“Menghasilkan momen yang magis dan grande tidak bisa dilakukan sendiri. Ini adalah hasil kolaborasi seluruh divisi,” kata Rizal. Bagi Robert Ronny, film ini adalah wujud visi yang sudah ia bayangkan sejak awal. “Ini bukan sekadar sekuel,” ujarnya.

Kata Pemain dan Kru

Cast and Crew di Konferensi Pers 'Kuasa Gelap: Perjanjian Darah' di Kawasan Gandaria
Cast and Crew di Konferensi Pers 'Kuasa Gelap: Perjanjian Darah' di Kawasan Gandaria · Via VOLIX

Bagi Lukman Sardi, film ini menyentuh sisi personalnya. “Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah berbicara tentang kekuatan iman, kasih, bagaimanapun juga, kuasa Tuhan adalah yang paling berkuasa,” ujar Lukman.

Jerome Kurnia menyoroti adegan eksorsisme terakhir sebagai momen favoritnya. “Adegan eksorsisme terakhir, bagi saya sangat mewah di film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, keren untuk ditonton,” kata Jerome.

Penampilan Venly Arauna sebagai Daniel yang kerasukan juga banyak dipuji sejak pemutaran awal. Pencarian karakter kerasukan kali ini melalui proses panjang untuk mampu mengikuti jejak Lea Ciarachel sebagai Kayla. Pada akhirnya, Venly menghakhiri pencarian tersebut lewat penampilannya yang mampu menghipnotis para pembuat film.

Robert Ronny menilai cerita film ini bisa diterima lintas kalangan. “Sejak awal kami percaya bahwa cerita yang dibawa film ini bisa berbicara ke seluruh kalangan,” ujarnya.

Pandangan serupa datang dari Uskup Surabaya sekaligus Ketua Komsos KWI, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. “Film ini memang horor, tetapi justru ceritanya membuat kita kuat,” katanya.

Meski begitu, tidak semua ulasan seragam. CNN Indonesia menilai film ini lebih terasa seperti drama Katolik bagi penonton awam, dan sosok iblisnya terlalu bergantung pada efek visual.

Baca Juga