Api Sungguhan hingga Ular Asli, Cerita di Balik Layar GJLS: Berapi-Api yang Baru Tayang

Trio komedi GJLS kembali ke layar lebar, kali ini sebagai petugas pemadam kebakaran. GJLS: Berapi-Api tayang di bioskop Indonesia sejak Kamis, 5 November 2026, dengan durasi 110 menit dan klasifikasi usia R13.
Film komedi aksi garapan Monty Tiwa ini merupakan film kedua Rigen Rakelna, Ananta Rispo, dan Hifdzi Khoir setelah GJLS: Ibuku Ibu-Ibu (2025). Skala produksinya pun jauh lebih besar, karena pemain benar-benar berhadapan dengan api dan ular sungguhan saat syuting.
Berikut sinopsis filmnya, beserta sederet cerita unik dari balik layar:
Sinopsis GJLS: Berapi-Api
Rigen (Rigen Rakelna), Hifdzi (Hifdzi Khoir), dan Rispo (Ananta Rispo) adalah tiga sahabat sejak kecil yang bermimpi menjadi petugas pemadam kebakaran. Mereka ingin tampil heroik saat memadamkan api, terlebih setelah Rigen pernah selamat dari kebakaran di masa kecilnya.
Sayangnya, ketiganya gagal dalam pelatihan bersama regu legendaris Algojo Api, yang diisi Carissa Perusset, Aurra Kharisma, Inayma, Sadha Triyudha, dan Nigel Siwabessy. Mereka malah ditempatkan di divisi pelayanan untuk mengurus tugas-tugas kecil sehari-hari.
Karena tidak sabar, ketiganya mengambil jalan pintas, yang justru menyeret mereka ke misi berbahaya untuk menyelamatkan anak-anak dari sindikat kriminal.
Cerita Unik di Balik Layar

Separuh Apinya Sungguhan
Adegan kebakaran di film ini memadukan api asli dan efek komputer. “Jadi, misalnya 50 persen api yang ada di adegan itu real, 50 persen sisanya kita tambah dengan CGI,” ujar Monty Tiwa.
Petugas damkar disiagakan di lokasi syuting demi menjaga keselamatan pemain dan kru.
Sulit Mencari Tempat yang Boleh Dibakar
Tim produksi sempat kesulitan menemukan lokasi. “Ada beberapa tempat yang ternyata pemiliknya keberatan untuk kita bakar,” kata Monty.
Pilihan akhirnya jatuh pada gudang tua milik Produksi Film Negara (PFN), meski tampilannya dinilai terlalu kumuh, sehingga set harus ditata ulang.
Jaket Damkar Hampir 10 Kilogram
Trio GJLS juga harus memakai perlengkapan yang berat, mulai dari jaket, helm, hingga tabung.
“Itu fire jacket-nya sendiri tuh hampir 10 kilo beratnya,” kata Rispo. Ia menambahkan bahwa panas apinya juga benar-benar terasa di lokasi.
Ketakutannya Bukan Akting
Salah satu adegan mengharuskan ketiganya menghadapi ular asli di dalam rumah, sementara kamera dan kru berada di luar.
Hifdzi mengaku paling takut. “Takutnya gak akting, beneran takut,” ujarnya. Rigen dan Rispo mengaku tidak jauh berbeda.

Regu Algojo Api Benar-benar Berlatih
Para pemeran Algojo Api harus terlihat seperti tim elite, sehingga mereka berlatih intensif di markas damkar.
“Kita berlima beneran workshop fighting dengan api, juga workshop karate mau tidak mau, rescue binatang,” kata Carissa Perusset.
Terinspirasi Aksi Damkar di Media Sosial
Tema damkar dipilih karena warganet sudah akrab dengan aksi petugas menangani laporan di luar kebakaran.
Di film ini, tugas mereka antara lain membebaskan kepala orang yang tersangkut pagar dan mengambil rapor anak SD yang tertinggal di sekolah. “Fenomena itulah yang dipotret dalam film ini,” kata Monty.
Sengaja Saling Menjauh Sebelum Adegan Emosional
Bagi Rigen, tantangan terberat justru bukan adegan api, melainkan adegan drama bersama Hifdzi. “Saking kita enggak mau tatap-tatapan mata, enggak mau ada ngobrol, kita benar-benar menjauh,” ungkapnya.
Nazar Baru Rispo
Rispo mengaku kapok bernazar soal jumlah penonton seperti di film pertama. “Ya saya trauma film pertama, masih rugi saya udah bikin SIM,” katanya sambil bercanda.
Kali ini, ia menjanjikan video ucapan untuk 20 penonton setiap hari, yang mengunggah foto tiket dan menandai akun GJLS Entertainment serta dirinya.
Lagu Tema Barasuara dan penayangan di jakarta film week
Lagu tema filmnya, Api dan Mimpi, dibawakan grup rock Barasuara. Sebelum tayang reguler, film ini juga diputar di Jakarta Film Week 2026 yang menghadirkan para jajaran pemain dan kru, tiketnya pun habis terjual.







