Connect with us

Hi, what are you looking for?

Movies

Penuh Aksi dan Intrik, Film “13 Bom Di Jakarta” Tuntut Para Pemain untuk Keluar Dari Zona Nyaman Demi Peran

Pemain dan Kru "13 Bom Di Jakarta" saat ditemui di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan pada Rabu (21/11).

Film terbaru garapan sineas kondang Angga Dwimas Sasongko, 13 Bom Di Jakarta, dijanjikan akan menjadi film action Indonesia terbesar sepanjang 2023. Penonton akan diterjunkan ke dalam sebuah realitas kelam di mana Jakarta dijelma menjadi sebuah medan perang yang bersumber dari ancaman 13 buah bom mematikan oleh suatu kelompok yang dianggap sebagai teroris. Dibumbui adegan-adegan aksi yang disajikan melalui practical effects dalam dosis besar, film ini menjanjikan pengalaman sinematik yang terasa realistis dan memukau saat dirilis di bioskop tanah air pada 28 Desember 2023.

Volix berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan para pemain dan kru 13 Bom Di Jakarta di kawasan Gandaria, Jakarta Selatan pada Selasa (21/11) guna menggali lebih dalam kesan dan pesan para tokoh di balik layar mengenai proses penggarapan film. Sesi ini dihadiri oleh Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara dan penulis beserta sejumlah pemain yakni Chicco Kurniawan, Ardhito Pramono, Ganindra Bimo, Putri Ayudya, Rio Dewanto, dan Lutesha.

Courtesy of Visinema

INSPIRASI SEORANG SUTRADARA

Angga Dwimas Sasongko sudah tidak asing lagi dengan genre action. Ia merasa bahwa dirinya semakin terpacu untuk melebarkan sayapnya dalam bidang tersebut setelah kesuksesan besar film Mencuri Raden Saleh yang ia rilis pada 2022. Namun, berbeda dari film tersebut yang bergenre action/heist, 13 Bom Di Jakarta banting setir ke arah action/espionage yang sama halnya tidak umum ditemukan di industri perfilman Indonesia.

“Pasti mereka yang menonton Mencuri Raden Saleh ingin punya sesuatu yang lain untuk bisa ditonton lagi di bioskop. Ada ekspektasi tersebut. Ekspektasi itu yang kami (Di Visinema) coba jawab,” ujar Angga.

Angga menjelaskan bahwa timnya menemukan inspirasi untuk mengarang cerita inti film dari sebuah insiden asli yang terjadi di Indonesia pada 2015. Insiden tersebut melibatkan sebuah perusahaan startup mata uang digital asli yang kemudian dijadikan inspirasi penggarapan cerita film dan disesuaikan ulang untuk kepentingan dramatisasi. Beberapa judul film luar yang menginspirasi Angga dan timnya untuk membuat film ini yaitu 21 grams, Babel, dan Spy Game
Walau memiliki basis penceritaan yang terkesan kebarat-baratan, Angga meyakinkan bahwa 13 Bom Di Jakarta akan dapat diterima oleh penonton Indonesia karena “elemen lokalitasnya yang kental.”

PEMANTAPAN JASMANI DAN ROHANI

Keterlibatan elemen aksi dan pertempuran bersenjata dalam film ini menuntut para pemain untuk melatih fisik dan mental demi performa terbaik. Ganindra Bimo dan Putri Ayudya dipercaya untuk memerankan dua karakter yang akan tampil dalam porsi besar adegan-adegan aksi yakni Emil Riyadi dan Karin. Mereka merupakan sepasang anggota Badan Kontra Terorisme Indonesia yang ditugasi untuk menghentikan ancaman kelompok separatis yang melanda Jakarta.

Courtesy of Visinema

Sebagai Emil, Bimo merasa bahwa perannya kali ini menguras lebih banyak tenaga ketimbang di dalam Mencuri Raden Saleh.

“Untuk porsi action-nya ketimbang di Mencuri Raden Saleh, memang cukup besar. Untuk perkembangan secara karakter, sudah jelas beda dari ideologinya, dari banyak metriks-metriks terkecil sampai terbesar, memang sangat berbeda dari Mencuri Raden Saleh,” jelas Bimo.

Bimo dan Putri sempat mengikuti pelatihan militer bersama para personil asli dan di bawah arahan pelatih berpengalaman demi persiapan peran yang matang. Karena memiliki pengalaman akting fisik yang lebih mapan ketimbang Putri, Bimo akhirnya harus membantu Putri dan pemeran lainnya untuk mampu tampil dengan maksimal secara jasmani. 

Selain agar dapat bertahan selama durasi syuting yang berkepanjangan, Putri mengaku bahwa dirinya harus berlatih agar mampu meyakinkan penonton bahwa ia cocok untuk menjiwai karakter yang diperankannya dan bukan hanya sekedar “tokoh yang dibajui saja.” Beberapa contoh pelatihan yang ia tempuh yakni toning badan, memegang dan menembakkan senjata, dan melakukan trik menyetir seperti drifting yang dilakukannya tanpa bantuan CGI atau special effects komputer.

“Pelatihan itu dibutuhkan agar membuat tubuh kita tahu rasanya mencapai hidup tokoh yang ada di dalam layar,” ujar Putri.

Courtesy of Visinema

Latihan fisik juga dijalani oleh Rio Dewanto yang hadir sebagai tokoh “antagonis” dalam film ini yaitu Arok. Rio bahkan sampai melakukan “puasa” sosial media demi mendalami perannya, bahkan sampai pemain lainnya seringkali mengalami kesusahan untuk menghubunginya melalui grup Whatsapp.

“Untuk pendalaman karakter, saya lebih banyak menyendiri di kamar dan melatih fisik seperti push-up dan angkat barbell berkat masukan Bimo. Saya mencoba untuk memberikan tembok ke karakter yang lain karena (karakter) saya memiliki misi sendiri,” jelas Rio.

Arok merupakan salah satu anggota grup separatis yang melatih anggota-anggota timnya yang lain berkat keahlian yang diperolehnya sebagai mantan anggota pasukan khusus. Rio mengungkapkan bahwa Arok terinspirasi oleh Subcomandante Marcos, mantan pemimpin pemberontak dari grup Tentara Pembebasan Nasional Zapatista di Chiapas, Meksiko. Kemiripan antara keduanya tampak hingga ke penampilan topeng Arok yang sangat menyerupai topeng Marcos. Motivasi antara keduanya pun serupa yakni penyelamatan para kaum termarjinalisasi yang hidup di bawah tatanan sistem penguasa. 

Courtesy of Visinema

TAK SEMUA MAIN FISIK

Beberapa pemain lain dituntut untuk menyiapkan peran dari sudut pandang yang berbeda. Chicco Kurniawan dan Ardhito Pramono memainkan Oscar dan William, sepasang pengusaha muda di bidang mata uang digital. Keduanya diminta untuk mempelajari dunia sirkulasi mata uang digital sekaligus programming agar mampu menjiwai karakternya masing-masing.

Ardhito memulai karir aktingnya dalam film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) pada 2020 beserta sejumlah film spinoff-nya yang semua diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko. Beralih haluan dari seri film yang menyorot drama rumah tangga ke film action/espionage seperti ini merupakan pengalaman yang sangat menarik bagi Ardhito. Melalui film ini, ia teresap ke dalam dunia market mata uang digital serta lingkup Information and Technology (IT) yang ia pelajari melalui workshop yang disediakan tim film.

“Selama kurang lebih hampir enam bulan, saya mencoba untuk menjadi karakter IT Programmer dan memahami apa yang ada di dalam kepala seorang William Sutanto, dan mempelajari karakternya itu cukup menantang dan seru,” jelas Ardhito.

Selebihnya, Ardhito juga memastikan bahwa dirinya tidak mengisi soundtrack untuk film ini layaknya di seri NKCTHI karena bertolak belakang dengan gaya musik khasnya beserta visi para pembuat film.

Courtesy of Visinema

Chicco melengkapi pernyataan Ardhito mengenai pelatihan workshop, di mana ia menjelaskan bahwa aktivitas tersebut dibagi menjadi dua yakni kelas Ethical Hacking dan kelas mata uang digital. Selebihnya, ia merasa bahwa tantangan terbesar baginya yaitu menjiwai seorang karakter masyarakat sipil yang terjebak di dalam konflik membara yang mengeskalasi dalam seketika. 

13 Bom Di Jakarta dari awal memang sudah intens, dan tidak mudah bagi saya untuk berada di dalam sebuah adegan, sementara itu sudah banyak hal lain yang terjadi,” ujar Chicco.

HANYA MANUSIA BIASA

Agnes, tokoh yang diperankan oleh Lutesha, menjadi salah satu yang paling unik di antara semua berkat satu fitur unik yang dimilikinya: Hanya seorang warga sipil biasa. Hal tersebut menjadi unik karena cenderung “biasa saja” dibandingkan tokoh lain yang memiliki keahliannya masing-masing, baik dalam hal baku tembak maupun programming.

Courtesy of Visinema

Lutesha memerankan seorang karakter yang mampu mewakili sebagian besar penonton karena sifat keawamannya. Dibanding karakter lain, justru hal tersebut lah yang paling menarik perhatian Lutesha kepada karakter Agnes.

“Saya bisa melihat kontrasnya antara saya dan karakter lainnya seperti yang diperankan Mba Putri dan Mba Niken (Anjani). Sedangkan saya menjadi kontrasnya yang tidak mengerti apa-apa, yang cukup clueless. Saya suka kontrasnya itu,” jelas Lutesha.

Walau begitu, Lutesha akan tetap terlibat dalam beberapa adegan aksi intens termasuk saat kejar-kejaran mobil. Ia diminta untuk latihan mengemudikan mobil dengan maneuver yang menantang dan dalam kecepatan tinggi.

PESAN DAN MORAL

Courtesy of Visinema

Setelah semua prosesi syuting telah berlalu dan film kian hari semakin mendekati tanggal rilisnya, para pemain berharap agar 13 Bom Di Jakarta tidak hanya mampu menyampaikan pesan moral relevan yang berkaitan dengan kondisi sosiopolitik masyarakat Indonesia namun juga dapat memberi manfaat positif bagi para pemain dan kru masing-masing.

“Saya menjadi lebih sadar akan finance dan mengetahui lebih jelas apabila sesuatu menjadi radikal atau tidak.” Ungkap Chicco.

“Ini adalah salah satu gambaran dan visualisasi yang sangat jelas dan tebal suatu lapisan tatanan masyarakat yang dapat melawan oligarki,” ujar Bimo. “Melalui film ini, kami juga berusaha untuk menyampaikan bahwa jangan terbiasa terjebak bersama pemikiran binary negative thinking. Jadi, tidak selamanya hitam itu hitam dan putih itu putih. Ada area abu-abu dan kadang area tersebut yang menciptakan pergerakan lebih masif dibandingkan hitam dan putih.”

Courtesy of Visinema

13 Bom Di Jakarta akan tayang serempak di seluruh bioskop tanah air pada 28 Desember 2023.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Read