Mengenal Waitatiri: Lulusan S2 Harvard Dari Indonesia yang Bantu Bangun Kurikulum Amerika Serikat
June 12, 2024

Ambisi dapat mengantar seseorang ke titik impiannya. Apabila ambisi sudah tertanam di dalam hati sejak awal maka perjalanan yang ditempuh dapat terasa singkat, dan dampak yang kita hasilkan nantinya mampu mengubah hidup masyarakat banyak.

Hal tersebut dirasakan oleh Waitatiri, seorang perempuan muda asal Jakarta yang tidak hanya berhasil lolos ke kampus internasional idamannya namun juga menyalurkan bakat dan minatnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Volix berkesempatan untuk mewawancarai Waitatiri pada Rabu (5/6) untuk menggali lebih dalam perjalanannya hingga diterima di Harvard untuk mengejar gelar S2, hingga bagaimana proyek akhirnya diangkat menjadi bahan ajaran resmi di Harvard dan Amerika Serikat.

Latar Belakang

Waitatiri, atau yang biasa dipanggil Wai, merupakan lulusan S1 Sastra Jerman, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Sejak lulus pada 2016, ia mulai mengejar profesi dalam bidang marketing hingga pada masa pandemi 2020 dirinya mulai tertarik untuk menempuh studi S2.

Pada tahun tersebut, dirinya melihat kondisi adik-adiknya di rumah yang mengalami kesulitan belajar karena tuntutan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) imbas pandemi. Ia mulai tergerak untuk membantu tidak hanya adik-adiknya namun juga anak-anak sekolah lainnya yang terhambat belajarnya karena tidak memiliki gadget dan perlengkapan PJJ lainnya.

“Di tahun itu, ternyata banyak yang jadinya ga bisa sekolah karena ga punya gadget. Pada saat itu, aku bikin inisiatif namanya “Ponsel untuk Sekolah,” jadi inisiatif ngumpulin donasi dari temen-temen yang hasil donasinya aku belikan HP dan paket data, kemudian dibagiin ke adik-adik yang gabisa sekolah,” jelas Wai.

Selama pendistribusian hasil donasi, Wai memperoleh testimoni langsung dari keluarga anak-anak tersebut dan merasakan seberapa sulitnya kondisi mereka untuk menyeimbangkan antara kebutuhan hidup dan pendidikan.

Pengalaman tersebut mendorong Wai untuk menggali ilmu lebih dalam tentang pendidikan dan kesejahteraan anak, dan langkah selanjutnya yang ia ambil yaitu mendaftar studi S2 di Harvard School of Education pada akhir 2021.

Meninggalkan Jejak Di Harvard dan Amerika Serikat

Melalui jalur beasiswa LPDP dan dengan persiapan yang cukup singkat, Wai berhasil tembus ke universitas impiannya dan di prodi yang ia inginkan. Beberapa bulan awal ia jalankan sebaik mungkin walaupun ia merasa asing di sana karena belum pernah memiliki riwayat merantau sebelumnya.

Seiring waktu berjalan, Wai mulai merasa nyaman dan memanfaatkan waktunya di Harvard sebaik mungkin, terutama setelah orang-orang di sekitarnya menjadi sangat terbuka terhadap kehadirannya di kampus.

Salah satu momen paling istimewa Wai di Harvard hadir di bulan-bulan akhir dirinya menempuh studi di sana, tepatnya saat ia mengurus proyek akhir. Ia memilih untuk membuat buku anak untuk proyek akhirnya karena keinginannya untuk membuat sesuatu yang benar-benar bermanfaat secara langsung bagi masyarakat, terutama anak-anak, dan tidak hanya teoritis.

Buku anak tersebut bertajuk The Missing Colors atau “Warna yang Hilang,” dan alangkah terkejutnya Wai saat mengetahui bahwa dosennya sangat puas akan karyanya tersebut. Saking positifnya tanggapan dari dosen Wai, buku tersebut kemudian diangkat sebagai salah satu bahan ajaran di Harvard School of Education.

“Ketika aku sudah pulang, aku lanjut kerja sebagai penulis di bidang marketing. Tapi kemudian dikontak sama dosen aku, dibilang bahwa tugas aku yang kemarin mau di-publish sebagai resource untuk educators di Amerika dan dirilis langsung di website Harvard REACH yang berisi resources for educators, dan disebarkan ke sekolah-sekolah di Amerika di jenjang K-3 (Kindergarten sampai kelas 3 SD) sebagai kurikulum. Memang bukan kurikulum wajib, tapi dijadikan resource untuk kurikulum anak-anak di sana untuk belajar mengenai bullying,” jelas Wai.

Sejak pemberitahuan tersebut, Wai bekerja sama dengan dosennya untuk mengangkat buku tersebut sebagai bahan ajaran resmi di Harvard dan juga bahan kurikulum di sekolah-sekolah Amerika Serikat. Akhirnya, hal itu semua pun berhasil terealisasikan dan karya Wai terabadikan di Harvard dan AS dalam cakupan yang luas.

Sejauh ini, tanggapan terhadap buku tersebut sangat positif dari berbagai pihak. Wai bahkan mendapatkan testimoni langsung dari temannya yang menyusulnya di Harvard Education, di mana bukunya diajarkan secara langsung di kelas.

The Missing Colors

Saat Wai sedang menempuh studi di Harvard, dirinya banyak mendengar kabar tentang kasus-kasus bullying anak yang marak terjadi di Indonesia.

Setelah menyadari bagaimana aksi bullying dapat berpengaruh terhadap kehidupan sosial anak dalam jangka panjang, ia kemudian bertekad untuk mempelajari lebih lanjut tentang isu tersebut di kampusnya, salah satunya melalui kelas Education in Uncertainty atau Pendidikan Dalam Waktu Ketidakpastian.

Melalui kelas tersebut lah Wai mulai menggarap The Missing Colors. Buku anak karangannya tersebut membahas seputar bullying anak dan menarik inspirasi dari kasus-kasus bullying anak di Indonesia.

“Itu dari kisah nyata salah satu penyintas bullying Indonesia yang aku wawancarai. Kisahnya aku angkat ke buku itu dengan bahasa yang dipermudah untuk anak-anak, dan jadilah buku itu,” ungkap Wai mengenai pembuatan bukunya.

Salah satu goal yang ingin dicapai Wai dalam membuat buku ini yaitu mengangkat suatu kisah yang terkesan optimis dan hopeful. Ia tidak ingin menggambarkan seberapa kerasnya aksi bullying kepada target audience-nya yakni anak-anak sekolah karena akan berlawanan dengan sasaran tone buku yang ia tetapkan.

“Makanya, aku mencari narasumbernya itu adalah orang yang penyintas bullying. Jadi sudah tidak menerima bullying, sudah berdamai dengan dirinya sendiri, sudah menemukan lingkungan yang lebih baik, tapi pernah merasakan bullying di sekolah,” jelas Wai.

“Orang yang aku interview itu dia umurnya udah 20-an, sudah cukup lama lulus sekolah. Tapi dulu memang ketika sekolah itu cukup lama mengalami bullying dan dia adalah laki-laki, makanya tokoh yang di dalam buku itu adalah laki-laki.”

Judul buku The Missing Colors atau “Warna yang Hilang” bersumber dari perjalanan tokoh utama buku yang Wai namakan “Putra,” di masa-masa dirinya jadi korban bullying hingga pada akhirnya bangkit dari keterpurukan tersebut.

Putra mempersepsikan dunia seakan-akan tidak memiliki warna saat ia masih di terjebak di kekangan bullying, semuanya terasa abu-abu dan kelam. Hal tersebut berubah semenjak dirinya menemukan lingkungan berisi orang-orang yang mau menerimanya apa adanya, dan di momen itulah ia mulai melihat dunia dengan penuh warna kembali.

Dalam kurikulum yang dibuat berdasarkan buku Wai, anak-anak diajarkan untuk mengenal emosinya sendiri. Bagaimana caranya membedakan antara emosi positif dan negatif, dan untuk memastikan agar mereka dapat memaknai emosi negatif tergantung situasinya agar tidak mensalahartikannya.

Buku Wai kini dapat diakses oleh siapa saja dan tanpa dipungut biaya, serta dalam Bahasa Indonesia dan Inggris melalui situs resmi Harvard.

Langkah Selanjutnya

The Missing Colors kemungkinan bukan jadi judul buku anak terakhir yang Wai garap. Dirinya mengungkapkan minat untuk menulis buku lagi dalam waktu yang akan datang dan mencari cara lain untuk menyalurkan bakat dan minatnya sebagai seorang edukator anak. 

“Aku pengen banget in the near future nulis buku anak lagi. Aku kayaknya pengen mencoba nulis buku anak dalam topik lain juga, dan aku sekarang lagi membangun sebuah (organisasi) non-profit namanya “Buku Buat Semua,” di mana aku ngajak temen-temen yang mau nulis buku anak dan ilustrasi buku anak gratis. Aku akan jadi semacam penerbit, aku membantu sampai buku itu jadi dan buku itu akan didistribusikan gratis ke panti asuhan, ke pengungsian, sekolah-sekolah, dan perpustakaan,” ungkap Wai.

Ia juga mengungkapkan impiannya untuk mengembangkan sebuah acara televisi edukasi khusus anak-anak, serta berkolaborasi dengan ikon-ikon dunia edukasi anak di Indonesia seperti Kak Seto. Namun, ia sadar hal tersebut memerlukan waktu dan usaha yang tidak sedikit dan dirinya kini hanya dapat berdoa agar itu semua dapat terwujud suatu saat nanti.

Pesan dan Refleksi

Prestasi dan pencapaian Wai sejauh ini tidak akan tercetak apabila ia tidak berani untuk mengambil risiko dan tidak memiliki tujuan yang jelas ke depannya.

Berkat edukasinya di Harvard, dirinya berhasil memperoleh ilmu-ilmu yang ia perlukan untuk terus menciptakan lingkungan sehat dan edukatif bagi anak-anak di Indonesia dan juga di AS seperti yang ia dambakan sejak lama.

Dirinya sadar bahwa lolos ke Harvard melalui jalur LPDP merupakan suatu hal yang tidak mudah, maka itu ia membagikan satu rahasia yang akhirnya membantunya untuk menerobos segala macam keraguan pikiran dan kegoyahan hati.

“Saran dari aku sebenarnya jangan takut dan jangan merasa kecil, jangan mengecilkan value diri sendiri ketika kita mau ngejar mimpi. Kalau misalnya sudah daftar dan gagal, ya berarti memang value-nya yang harus diperbaiki, namun bukan berarti tidak mungkin,” ungkap Wai.

“Semua kembali ke value masing-masing dan aku percaya bahwa semua orang punya value. Cuman kita terlalu terbiasa mengecilkan diri aja sih, kita merasa, “Ah gue gini doang… IPK gue ga Cum Laude, udah pasti ga bisa…Gue ga pernah student exchange udah pasti ga bisa.” Jadi banyak pembatasan dari diri kita sendiri yang sebenarnya bikin kita ga keterima.”

Terakhir, dirinya memberi saran kepada semua untuk tidak takut untuk mencoba, karena kita tidak akan tahu apa yang akan kita gapai di masa depan apabila kita tidak membangun keberanian dari sekarang untuk keluar dari zona nyaman.



See other posts

Pemain NBA Kevin Durant Muncul di Call of Duty
Apple Has Finally Revealed Its Newest iPhone 13 Series.
Jerome Kurnia dan Jonathan Andy Tan Luncurkan Brand Baru “Two Stitches”