Pernahkah lo merasa berbagi informasi tentang dirimu secara berlebihan atau oversharing? Ketika sedang bercerita, hal ini mungkin akan terjadi secara tidak sadar memberikan terlalu banyak informasi.
Seperti berbagi momen pribadi yang tak seharusnya diketahui, termasuk ketika bertemu dengan orang baru. Kondisi mengungkapkan informasi secara berlebihan ini biasa disebut sebagai oversharing.
Setelah menyadari bahwa informasi yang telah dibagikan itu berlebihan, biasanya akan muncul rasa menyesal karena telah mengungkapkan terlalu detail tentang hal yang seharusnya tak perlu diceritakan.
Tak hanya saat bercerita secara langsung kepada seseorang, oversharing juga bisa terjadi di media sosial. Berikut ini merupakan ciri, dampak, dan cara mengatasi oversharing yang perlu lo ketahui!
Baca Juga: 10 Ciri-ciri Orang Suka pada Kita Tapi Cuek
Apa Itu Oversharing?
Mengutip Psychologs.com, oversharing merupakan kondisi dimana seseorang mengungkapkan terlalu banyak detail tentang kehidupan pribadinya.
Hal ini mungkin terjadi ketika seseorang bertemu dengan orang asing di suatu pesta dan mulai saling menceritakan masa kecil mereka hingga hubungan percintaan secara detail dan terperinci.
Oversharing dapat terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk berbagai informasi tentang hubungan, kesehatan, uang, bahkan pikiran dan perasaan pribadi seseorang. Di era digital saat ini, konsep oversharing juga bisa terjadi di media sosial ketika seseorang membagikan informasi pribadinya kepada warganet.
Mengapa Seseorang Oversharing?
Perilaku oversharing dapat disebabkan karena berbagai alasan. Seseorang bisa saja berbagai terlalu banyak informasi karena ingin membangun hubungan dengan orang lain. Berbagai informasi pribadi satu sama lain dapat meningkatkan rasa dekat, kepercayaan, dan keintiman.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa berbagi informasi sensitif akan membantu mereka tampak jujur dan nyata. Selain itu, mungkin adanya anggapan bahwa berbagi informasi secara detail akan membantu mereka mendapatkan penerimaan dari orang lain.
Tak hanya itu, seseorang mungkin berbagi cerita secara berlebihan sebagai strategi mengatasi emosi atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Seperti seseorang yang mengalami trauma mungkin akan merasa terbantu untuk membicarakan pengalaman mereka guna memproses emosi dan mendapatkan dukungan.
Tanda-Tanda Oversharing
Terkadang, kita berbagi informasi lebih banyak dari yang kita inginkan. Jika lawan bicara sudah menunjukkan bahasa tubuh seperti orang yang menarik diri dari percakapan, mungkin sudah waktunya untuk menilai seberapa banyak lo berbagi informasi. Melansir Betterup.com, berikut tanda umum yang bisa menunjukkan perilaku oversharing.
- Merasa perlu mengisi setiap keheningan: jika jeda yang canggung membuatmu merasa cemas, lo mungkin akan berbagi terlalu banyak hal untuk menghindarinya. Sehingga berpotensi untuk mengungkapkan detail pribadi yang tak sesuai dengan situasi.
- Orang terdekat berperan sebagai terapis: ketika percakapan berubah menjadi sesi curhat, dimana orang yang lo cintai kesulitan untuk berbicara, bisa menjadi tanda lo sudah berbagi terlalu banyak. Wajar untuk bersandar dengan orang lain, namun pembicaraan sepihak dapat menguras tenaga dan membuat hubungan menjadi tegang.
- Mencari masukan untuk setiap keputusan: meminta masukan setiap ingin mengambil keputusan bersama menyebabkan lo terlalu banyak berbagi. Hal ini membuat orang lain terus mempertimbangkan masalah pribadi lo yang mungkin sebenarnya bisa ditangani sendiri.
- Media sosial tahu terlalu banyak tentang lo: perhatikan seberapa sering lo mengunggah detail pribadi secara daring, terutama jika tidak semua pengikut media sosialmu adalah teman dekat.
- Kesulitan menghargai privasi orang: jika terlalu banyak berbagai, mungkin lo telah mengungkapkan orang lain atas nama membangun koneksi. Hal ini dapat membuat orang lain enggan bercerita kepada lo.
Cara Mengatasi Oversharing
- Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara: lo bisa berusaha untuk mengajukan pertanyaan dan gunakan pendengaran aktif. Fokus memahami lawan bicara untuk menyeimbangkan percakapan dan menghindari oversharing.
- Berhenti sejenak sebelum menanggapi: lo bisa memilih apa yang tepat untuk diceritakan sehingga mencegah oversharing.
- Berlatih menulis jurnal: hal ini memungkinkan lo mengekspresikan perasaan tanpa membuat orang lain merasa tidak nyaman.
- Kenali pemicu : perhatikan situasi yang mendorong lo untuk berbagi terlalu banyak. Sehingga dapat membantu lo menemukan cara lain untuk meresponsnya.
- Seimbangkan komunikasi tertulis: setelah menulis pesan, baca ulang untuk melihat apakah pesan tersebut ringkas dan langsung ke intinya. Terutama saat membahas masalah sensitif atau pribadi.
- Fokus pada topik pembicaraan: ketika obrolan mengarah ke arah tak nyaman, gunakan humor ringan atau pertanyaan terbuka tentang orang lain untuk mencegah oversharing.
- Tetapkan batasan dan berhati-hati: pertimbangkan apakah orang lain perlu mengetahui informasi tersebut sebelum bercerita. Disamping itu, lo juga bisa menggunakan frasa seperti “Ini cerita panjang yang tidak ingin saya ceritakan” untuk membantu lo dengan sopan menyimpan detailnya untuk diri sendiri.
Itulah pengertian, tanda-tanda, hingga cara untuk menghindari oversharing. Dari pembahasan di atas, lo bisa memilih untuk lebih memperhatikan lawan bicara dan lebih banyak mendengarkan untuk membantu mengurangi oversharing dalam obrolan.
Baca Juga: Apa Itu Sleep Call? Ketahui Manfaat dan Dampak Buruknya!







































