Gadis Kretek Hadirkan Dua Periode Sejarah Indonesia
November 2, 2023

Gala premier serial Gadis Kretek berlangsung meriah dan bertabur bintang di Epicentrum XXI di Jakarta Selatan pada Rabu (1/11). Para selebriti yang hadir termasuk para pemain yaitu Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Putri Marino, Arya Saloka, Winky Wiryawan, Dimas Aditya, Ibnu Jamil, Tissa Biyani. Ada juga undangan khusus untuk para tokoh publik perempuan yang dianggap mewakili citra perempuan kuat seperti yang ditampilkan pemeran utama, Dasiyah. Para perempuan ini termasuk Cinta Laura, Maudy Koesnaedi, Niluh Djelantik, dan lain-lain.

Dalam gala premier tersebut, diputarkan dua episode pertama dari serial yang terdiri dari lima episode tersebut. Serial ini diangkat dari novel karya Ratih Kumala, dan disutradarai oleh Kamila Andini dan Ifa Isfansyah.

Dua Periode Sejarah Indonesia

Serial ini menghadirkan jalinan cerita yang saling bertaut antara dua masa dan menyuguhkan visualisasi sejarah Indonesia di periode 1960an dan 2000an. Di era 1960an, ada kisah cinta antara Dasiyah (Dian Sastrowadoyo) yang digambarkan teguh dan berani menentang tradisi demi mewujudkan impian dan cinta bersama Soeraja (Ario Bayu). Di area awal 2000an, ada karakter Arum (Putri Marino) yang bersama Lebas (Arya Saloka) menyingkap misteri terpendam keluarga mereka.

Sutradara Kamila Andini mengaku ia terpikat dengan karakter Dasiyah atau Jeng Yah yang menurutnya mendahuluo zamannya.

“Saat membaca novel yang luar biasa ini, saya sangat terpukau, salah satunya oleh karakter Jeng Yah. Saat ini akan diadaptasi menjadi serial, satu hal yang ingin saya lihat adalah semangat dari karakter Jeng Yah, yang saya lihat sebagai perempuan yang lebih maju dari zamannya tapi juga mengalami begitu banyak perjalanan dan kejadian," ujarnya dalam konferensi pers sebelum gala premier.

“Saya ingin sosok perempuan seperti itu bisa melekat kepada kita, perempuan di zaman ini, untuk bisa mengingat ada semangat di masa lalu yang harus kita teruskan,” lanjut Kamila Andini.

Gadis Kretek menyatukan para pemain perempuan papan atas seperti Dian Sastrowardoyo, Sha Ine Febriyanti, dan Tutie Kirana dengan aktris perempuan muda yang sedang bersinar seperti Putri Marino, Tissa Biani, dan Sheila Dara. Para pemeran melakukan berbagai persiapan panjang untuk mendalami karakternya. 

Untuk menyelami karakter Dasiyah, Dian bercerita bahwa selama enam bulan ia dengan sengaja mengurangi sosialisasi untuk mendalami karakter, hingga rehat dari olahraga favoritnya seperti lari dan tenis karena kebiasaan tersebut jauh berbeda dengan kebanyakan perempuan di tahun 1960-an.

“Saya juga berhenti mendengar musik modern dan hanya mendengarkan gamelan dan musik klasik. Di sini saya jadi belajar banget bahwa sebagai aktor we serve the character. Kami harus ikhlas dan pasrah menyerahkan diri ke dalam karakter,” terangnya. Sakin berdedikasinya Dian pada karakternya, Ario Bayu mengatakan amat mudah baginya untuk benar-benar jatuh cinta pada karakter Dasiyah seperti karakter yang ia perankan, Soeraja.

Proses Kolaborasi yang Kompleks

Sementara, pasangan sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah mengatakan proyek ini menjadi amat berkesan bagi mereka yang juga adalah sepasang suami istri. Serial ini menjadi pengalaman pertama bagi mereka berbagi tugas menjadi sutradara. Pendekatan keduanya dalam bekerja saling melengkapi dari sisi cerita, sinematografi, hingga naskah dan detail karakter.

“Dalam proses kolaborasi ini kami saling membutuhkan. Misalnya bagaimana melihat sebuah karakter, Dini membutuhkan perspektif saya dan begitu juga sebaliknya. Ini jadi proses kreatif yang baru untuk kami, dan kami berharap ini kolaborasi kami yang bisa membanggakan kita semua,” ujar Ifa Isfansyah. Ifa sendiri berpengalaman menggarap Sang Penari (2011), film period piece yang juga diangkat dari novel yang mengangkat sejarah Indonesia, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Membangun semesta sinema berdasarkan sejarah Indonesia berdekade-dekade lalu adalah sebuah tugas yang tidak mudah. Untuk mewujudkan nuansa kota kecil penghasil kretek di kaki gunung Jawa Tengah di tahun 1960an, produksi film ini melibatkan 100 set yang dibangun di 20 lokasi dengan fokus pada 16 set utama.

Produser Shanty Harmayn mengungkapkan bahwa proses kreatif untuk serial ini memakan waktu sekitar dua tahun, dari pengembangan naskah hingga post-production selesai. Akan tetapi, kerja keras itu membuahkan hasil yang memuaskan bagi semua yang terlibat. “Ini perjalanan yang panjang dan dari proses penulisan sampai penyuntingan merupakan hasil kolaborasi yang luar biasa,” terangnya. 

Serial Gadis Kretek telah tersedia untuk ditonton di Netflix mulai Kamis, 2 November 2023.





All pictures are courtesy of Netflix Indonesia.



See other posts

Titanic Kembali Berlayar di Bioskop
Penuh Aksi dan Intrik, Film “13 Bom Di Jakarta” Tuntut Para Pemain untuk Keluar Dari Zona Nyaman Demi Peran
Putri Kurt Cobain dan Putra Tony Hawk Menikah