Connect with us

Hi, what are you looking for?

Music

Efek Rumah Kaca: Menggapai Puncak yang Baru dengan Rimpang

Efek Rumah Kaca dan Suraa. Fotografer: Muhammad Asranur. Courtesy of Plainsong

“Musik kita memang biasa tapi hidup kita jazz!!!!” ucap Cholil Mahmud sambil terkekeh. 

Cholil, gitaris dan vokalis Efek Rumah Kaca (ERK), duduk bersama tiga rekannya: Poppie Airil (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar), dan Reza Ryan (gitar) di kedai kopi merangkap toko buku yang mereka jalankan bersama-sama, Kios Ojo Keos, di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/6). Mereka menyempatkan beberapa jam berbincang dengan Volix di tengah kesibukan latihan mempersiapkan Konser Rimpang yang akan dilangsungkan pada 27 Juli 2023, di GBK Tennis Indoor Stadium, Jakarta.

“Hidupnya Jazz, soalnya improvisasi terus,” jelasnya. 

Efek Rumah Kaca memang baru saja melempar album penuh terbaru mereka, Rimpang, setelah terakhir kali menelurkan album Sinestesia di tahun 2015. Selama 8 tahun itu, mereka harus terus mencari celah untuk tetap bermusik dan menggarap album walau diterpa berbagai peristiwa. Yang paling signifikan adalah kepindahan Cholil dan keluarganya ke Amerika Serikat, ditambah pandemi COVID-19 yang membuat mereka harus bersiasat untuk tetap menggarap album walau terpaksa berjarak. Banyak hal baru yang harus dipelajari, salah satunya setiap personil harus membiasakan diri mengoperasikan alat rekaman dari rumah, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.

“Pandemi mengajarkan banyak hal untuk kita lebih berani beradaptasi dengan teknologi,” ujar Cholil. “Kalau di penggarapan album sebelumnya [prosesnya] konservatif aja: ke studio, jamming bikin lagu, lalu rekaman. Sementara selama penggarapan Rimpang ini gue di New York, sementara anak-anak di sini (Jakarta). Mereka latihan dan workshop di depan laptop, gue dengerin dari sana, lalu saling kasih komentar.”

Perbedaan zona waktu sampai 12 jam juga harus ditolerir. Terkadang Cholil harus tetap di depan komputer untuk workshop bersama personel lain dari jam 8 pagi hingga jam 4 sore, sedangkan di Jakarta teman-temannya, di saat yang sama, harus mengorbankan jam tidur mereka dengan bermusik dari jam 8 malam hingga dini hari. 

“Kita paksakan sih jadi minimal 2 hari seminggu,” ujarnya. “Walau berat, ketika ditengok lagi sekarang itu ternyata momen yang indah sih. Kita jadi lebih mengenal satu sama lain, baik personalitinya maupun sidik jari musikalnya.”

Proses pembuatan album yang tidak konvensional itu menghasilkan 10 lagu yang ternyata cukup sulit untuk dimainkan secara live. Karenanya, kini tiap malam mereka mengadakan sesi latihan berjam-jam untuk persiapan konser tunggal yang akan dilangsungkan sebulan lagi itu.

“Kita belum bisa memainkan Rimpang dengan baik, jadi kita latihan terus-menerus supaya bisa mencapai suara-suara yang kita bangun di situ,” ujar Cholil. “Kita juga ingin memainkan lagu-lagu lama dan berkolaborasi dengan beberapa orang yang kami rasa cukup segar.”

Konser Rimpang nanti akan berdurasi kurang lebih 3 jam dan dibagi dalam dua babak: babak pertama menampilkan seluruh lagu dalam album Rimpang bersama para kolaboratornya, babak kedua menampilkan lagu-lagu terpilih dari album-album terdahulu mereka.

“Agak deg-deg-an sih karena ini kan konser tunggal pertama kami sejak 2016,” ujar Cholil, merujuk pada konser tunggal merayakan album Sinestesia yang digelar pada 13 Januari 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dengan kapasitas gedung yang lebih kecil dan reputasi band yang sedang baik-baiknya, tiket konser di tahun 2016 itu ludes dalam sekejap, kenang Cholil. “Kita lihat nih, kalau yang sekarang kira-kira sekenceng itu nggak ya. Apalagi kita habis ngilang lama.”

Konser Sinestesia menurutnya amat memuaskan dan menjadi “puncak” untuk ERK, namun kesuksesan itu membayangi mereka untuk melakukan sesuatu yang melampaui prestasi mereka di masa lalu itu. 

“Takutnya Sinestesia jadi puncak buat diri kita. Jadi kita mikir nggak usah ngejar dia (kesuksesan konser Sinestesia), tapi kita [coba] wilayah baru yang belum kita jelajahi. Berusaha terus memacu musikalitas sampai ke wilayah-wilayah yang kita ga berani memimpikannya,” ujarnya. “Kita juga ingin bikin sesuatu yang sengatannya sama, dengan sensasi yang berbeda, hehehe.”

Menjalar seperti rizoma

Efek Rumah Kaca. Fotografer: Muhammad Asranur. Courtesy of Plainsong

Judul album Rimpang diambil dari lagu dengan judul yang sama yang menjadi track kedelapan di album ini. Penggunaan kata “rimpang” terinspirasi dari konsep rizoma atau rizomatik, sebuah teori pascastrukturalisme dari duo pemikir Perancis, Deleuze dan Guatari.

“Secara sederhana banget, Deleuze dan Guattari dalam [konsep] rizomatik itu ngomong bahwa cabang-cabang ilmu pengetahuan itu munculnya nggak selalu hirarkis, berjenjang, atau seperti pohon. Ia juga bisa muncul [secara] sporadik, multilayer, tanpa hirarki, dan menyebar seperti rizoma,” jelas Cholil. 

Terinspirasi dari konsep ini, ERK ingin menjura kepada gerakan-gerakan politis yang muncul di pinggiran secara amatir, namun memperlihatkan jalinan kuat serta resiliensi yang membuatnya terus bertahan dan tumbuh. Cholil menyebutkan berbagai bentuk perlawanan, dari yang subtil dan satir seperti lawakan Twitter dan meme di internet, sampai demonstrasi besar-besaran memprotes RKUHP di 2019 dan UU Ciptakerja di 2020.

“Menurut gua dalam situasi yang nggak demokratis, serta benturan-benturan dalam masyarakat dengan masyarakat [terjadi] makin sering…perlawanan yang minggir-minggir itu yang jadi penting. Yang peripheral, yang nggak langsung ke jantung pemerintahan.”

Cholil mengaku tergelak dengan trend Twitter di mana pengguna menulis puji-pujian panjang kepada pejabat yang jelas-jelas korup dan diakhiri dengan “Bismilah komisaris!”

“Lo ngeledek pejabat pemerintahan yang terang-terangan nggak kompeten tapi bisa jadi komisaris gara-gara menjilat. Ini kayak bilang, lo boleh punya duit tapi lo nggak punya pride.

Ia juga mencatat demonstrasi tahun 2019 sebagai perjuangan yang ingin dihormati dalam Rimpang. 

“Kalau di tahun 1998 para mahasiswa tuh punya latihan demo kecil-kecilan di kampus. Tapi di tahun 2019 bener-bener nggak ada. Murni gerakan dari orang yang makin kesel dan makin kesel gara-gara kita punya negara tuh terus menerus memproduksi kegemesan-kegemesan,” ujarnya. “Akhirnya orang-orang yang kemarahannya amat gede ini memaksakan diri untuk berdemonstrasi. Kocar-kacir.”

“Tapi terlatih atau tidak terlatih, para demonstran ini ingin memperjuangkan sesuatu […] Jadi mencatat berbagai perlawanan kecil-kecil ini adalah sebuah keharusan. Semangat ini menyebar di jiwa-jiwa orang yang menolak dibungkam.”

Nomor-nomor lain dalam album ini juga mewujud sebagai respon atas peristiwa-peristiwa besar yang menerpa negeri. “Sondang” adalah obituari untuk Sondang Hutagalung, aktivis yang tewas setelah membakar diri di depan Istana Negara pada Desember 2011. “Kita yang Purba” mencatat kemunduran negara dalam menghadapi peristiwa Kanjuruhan yang seharusnya tidak perlu terjadi di era modern. “Ternak Digembala”, “Tetaplah Terlelap”, dan “Heroik” juga berbicara tentang nasib rakyat jelata yang kontras dengan otoritas yang tamak.

“Bersemi Sekebun” yang dikerjakan dalam kolaborasi dengan Ucok dari Homicide, yang memilih dikredit dengan monikernya, Morgue Vanguard, memberikan gambaran sinematis dari seorang demonstran yang terjerembab di selokan setelah dihantam popor senapan. Namun, dengan nada positif, para aktivis terus bertahan, semangat perjuangan terus tersebar, dan mereka akan “…tumbuh liar serupa gulma”.

Walau diisi kelindan lagu-lagu bernuansa politis, album ini diawali dan diakhiri dua lagu yang amat personal dan bertemakan keluarga. “Fun Kaya Fun”, yang dibuat dalam kolaborasi dengan Suraa, terinspirasi dari anak Cholil, Angan, yang sedang memasuki usia awal remaja dan “…cuma mau ngerjain sesuatu kalau fun. Semuanya harus fun!” ujar Cholil terkekeh. Sedangkan “Manifesto” berisi petuah orangtua kepada anak yang ditulis bersama Irma Hidayana, istri Cholil. Menambah hangat, Angan turut menyumbang permainan terompet di lagu ini.

Rimpang juga menjadi album foto keluarga ERK yang makin besar setelah bergabungnya Poppie di 2016 dan Reza di 2022. Album ini menjadi penuh pertama mereka sebagai personil tetap, walau keduanya telah lama terlibat dengan band ini dalam penampilan live serta beberapa produksi lagu di luar album. Kehadiran keduanya memperluas jelajah musik ERK, terutama di bidang aransemen dan eksperimen suara.

“Saya dulu suka eksplorasi noise dan sonic music experiment gitu ya… jadi ketika kita ngerjain “Sondang” saya coba giring ke arah situ, dan ternyata bisa juga,” ujar Poppie senang. Hasilnya adalah sepotong balad yang atmosferik dan misterius, jauh berbeda dengan “Di Udara”, yang juga lagu memorial untuk seorang aktivis, Munir, namun dengan nada bersemangat dan meledak-ledak.

Keberadaan Reza yang adalah lulusan departemen musik Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, juga menambah kerumitan komposisi. 

“Saya terutama [suka sekali] isian soundnya Reza seperti di lagu “Fun Kaya Fun” itu kan groovy dan rame gitu. Suara hi hat berbarengan sama strum gitarnya Cholil ternyata bikin soundnya makin membahana gini. Reza membuat ini sepertinya begitu mudah tanpa revisi, tapi bikin kaya. Jadi thank you, Reza,” ujar Akbar.

Sementara Reza menjelaskan bahwa dalam setiap komposisi musik ia membayangkannya bagai pertunjukan teater. 

“Gimana caranya bikin karya itu bisa ditonton dua kali?” ujarnya. “Sebenarnya sulit memampatkan semua cerita besar tentang Sondang dan lain-lain itu hanya dalam empat menit lagu. Tapi ERK bisa melakukan itu.”

Ia juga menjelaskan pemilihan alur komposisi ERK kerap kali mengejutkannya, seperti “Rimpang” yang menurutnya tidak biasa. “Lagu “Rimpang” tadi laid back-nya 1 bar setengah. Jadi nggak biasa,” ujarnya setelah panjang lebar menjelaskan teori komposisi musik umum.

“Hah masak sih?!” ketiga rekannya terkejut, baru menyadari kejeniusannya sendiri. 

Keempatnya lanjut mengobrolkan komposisi musik secara teoritis di album ini, sembari mengenang saat-saat paling mengesankan dalam pembuatan album, salah satunya eksperimen mereka dalam penggunaan synthesizer, alat musik yang membuat mereka cukup penasaran akibat kebanyakan mendengarkan lagu pop 80an ketika kecil.

“Akhirnya bisa bikin musik yang heavy di synth-nya, cukup akrobatik juga, tapi memang digunakan dalam titian-titian nada yang diperlukan, bukan buat pamer,” ujar Cholil. 

“Iya, synth yang di coda [lagu “Rimpang”] itu Cholil yang isi. Eh tiba-tiba jadi Jockie Soerjo Prajogo,” ujar Poppie.

“Yang penting jazz!” timpal Cholil terkekeh. 

Konser Rimpang diselenggarakan oleh Plainsong dan akan berlangsung pada 27 Juli 2023 di GBK Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Penonton bisa membeli tiket lewat tautan ini. Dengarkan Rimpang di tautan ini

Penulis: Gisela Swaragita

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Read