Connect with us

Hi, what are you looking for?

Movies

Deretan Film di Program “Renaissance of Indonesian Cinema” di Festival Film Busan

Gadis Kretek. Dian Sastrowardoyo as Dasiyah in Heartbreak High S1. Cr. Courtesy of Netflix © 2023

Festival film bergengsi, Busan International Film Festival, akan merayakan kebangkitan sinema Indonesia dalam program khusus berjudul “Renaissance of Indonesian Cinema”.

Ada beberapa judul film panjang dan satu serial yang akan tayang di festival yang diadakan di kota Busan, Korea Selatan tersebut. Beberapa di antaranya akan tayang perdana, sementara beberapa yang lain diputar sebagai karya terpilih yang dihasilkan industri perfilman Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.

Di bawah ini adalah judul-judul yang akan tayang di program tersebut:

1. Gadis Kretek

Serial garapan Kamila Andini dan Ifa Isfansyah ini akan menayangkan dua episode pertamanya untuk pertama kalinya di program “Renaissance of Indonesian Cinema”. Serial ini terdiri dari lima episode dan akan tayang secara eksklusif di layanan streaming Netflix.

Gadis Kretek dibintangi Dian Sastrowardoyo, Putri Marino, Ario Bayu, Arya Saloka, dan masih banyak lagi. Serial ini diangkat dari novel berjudul sama karya Ratih Kumala yang terbit tahun 2012.

2. 24 Jam Bersama Gaspar

Film garapan Yoseph Anggi Noen ini terpilih menjadi salah satu proyek film yang akan tayang perdana di Busan International Film Festival. Tahun lalu, proyek film ini memang terpilih untuk dipresentasikan pada Asian Project Market 2022 di festival yang sama.

Film ini diangkat dari novel karya Sabda Armandio dengan judul yang sama yang terbit di tahun 2017. Film yang disyuting di Semarang, Jawa Tengah ini dibintangi oleh Reza Rahadian, Shenina Cinnamon, Sal Priadi, Dewi Irawan, Laura Basuki, dan Kristo Immanuel. Rencananya, 24 Jam Bersama Gaspar akan tayang serentak di seluruh Indonesia pada 2023.

3. Basri & Salma in a Never-Ending Comedy

Film pendek Basri & Salma in a Never Ending Comedy besutan sutradara asal Makassar, Khozy Rizal, menjadi salah satu yang dipersembahkan di Busan International Film Festival 2023. Sebelumnya, film ini berhasil masuk kompetisi Cannes Film Festival pada awal tahun ini.

Film pendek yang disyuting di Makassar oleh kru dan pemain asal Makassar ini berbicara tentang pasangan tanpa anak yang menghabiskan hari-harinya menghibur anak orang lain dengan odong-odong. Ada banyak tema tentang keluarga yang diangkat, termasuk keputusan pasangan untuk memiliki anak. Pembuatan filmnya sendiri dimulai dari tercetusnya cerita di tahun 2021, sedangkan pra-produksi dan produksi dilakukan pada Juli dan Agustus 2022.

Baca wawancara Khozy Rizal dengan Volix di tautan ini.

4. Dancing Colors

Film pendek yang dirilis tahun 2022 ini disutradarai dan ditulis oleh M. Reza Fahriyansyah. Film ini memenangkan Piala Citra dalam kategori Film Cerita Pendek Terbaik, dan mendapatkan kesempatan tayang di Locarno Film Festival di Swiss.

Film ini yang mengangkat kisah seorang queer yang berusaha menyembunyikan orientasi seksualnya dari orangtua karena takut dirundung stigma masyarakat. Ada banyak elemen pergulatan queer di dalam film ini, termasuk prosesi rukyah untuk mengusir jin yang dipercaya membuat seseorang menjadi homoseksual.

5. Vania on Lima Street

Film pendek karya Bayu Prihantoro Filemon ini mengisahkan gadis kecil, Vania, yang menghadapi pencuri terluka yang bersembunyi di ruko obat Cina milik keluarganya. Kisah yang menggelitik namun juga menghangatkan hati ini dibintangi gadis cilik, Alexa Jeslyn Hendrawan, siswa SD dari Yogyakarta.

Film ini pernah menyabet Silver Screen Awards sebagai Film Pendek Terbaik (Best Short Film) di Singapore International Film Festival di tahun 2022.

6. Ziarah

Film drama karya B.W. Purbanegara yang pertama kali tayang di bioskop pada 2017 ini mengambil latar belakang Gunung Kidul Yogyakarta dan telah banyak memperoleh penghargaan. Beberapa prestasinya antara lain Penulis Skenario Asli Terbaik di Festival Film Indonesia tahun 2016, Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016 dan Film Terbaik di Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina.

Film ini menceritakan napak tilas seorang lansia perempuan, Mbah Sri, yang mencari suaminya yang hilang dimakan kacaunya peperangan. Film ini menjadi film debut sekaligus film terakhir yang menampilkan Ponco Sutiyem, seorang lansia warga Gunung Kidul, yang bermain menjadi pemeran utama.

Selain film-film di atas, masih ada beberapa judul yang tidak boleh dilewatkan. Di ranah film arus utama, ada Perempuan Tanah Jahanam (2019) karya Joko Anwar serta Posesif (2017) karya Edwin. Ada juga Sara (2022) karya Ismail Basbeth, Where the Wild Frangipanis Grow (2023) karya Nirartha Bas Diwangkara, What They Don′t Talk About When They Talk About Love (2012) karya Mouly Surya, dan Laut Memanggilku karya Tumpal Tampubolon.

Program “The Renaissance of Indonesian Cinema” didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Para sutradara dan aktor dari film-film tersebut dijadwalkan akan mengunjungi Busan dan berpartisipasi di berbagai kegiatan. Busan International Film Festival di tahun 2023 ini adalah pagelaran ke-28 dari festival tersebut, dan akan diselenggarakan pada 4 hingga 13 Oktober 2023.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Read