Connect with us

Hi, what are you looking for?

People

Bersepeda 1500 km dalam 150 jam dengan Fian Khairunnisa 

Courtesy of Bentang Jawa / Arfiana Khairunnisa (cap#107)

Bersepeda santai keliling kota di akhir pekan tentu saja merupakan kegiatan yang menyenangkan. Namun, bagaimana jika kamu dituntut bersepeda dari ujung pulau Jawa ke ujung pulau Jawa yang lain? Tentu saja membutuhkan tubuh yang tangguh dan mental sekuat baja. 

Akan tetapi, pesepeda ultracycling Arfiana Khairunnisa atau yang sering disapa Fian, tidak merasa dia punya kekuatan khusus. Padahal, Fian adalah salah satu pesepeda yang berhasil menyelesaikan tantangan Bentang Jawa, 1500 km rute bersepeda dari Pantai Carita di Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur. Lebih hebatnya lagi, Fian, yang berkompetisi dalam Bentang Jawa bersama rekannya Adrina Puspita Raras, adalah satu-satunya pasangan perempuan dalam kategori pair di kompetisi tersebut.

“Alhamdulilah, kemarin finish dengan happy dan masih dalam batas waktu,” ujar pesepeda berusia 37 tahun ini ketika berbincang dengan Volix pada Selasa (29/8) di rumahnya di kawasan Jakarta Selatan. 

Dari 117  peserta yang memulai tantangan Bentang Jawa dari Pantai Carita pada Minggu pagi, 13 Agustus 2023, hanya ada 64 peserta yang berhasil sampai garis finish di alun-alun Banyuwangi di bawah Cut Off Time (COT) atau batas waktu. Fian dan Raras mencapai finish pada Sabtu, 19 Agustus 2023 siang hari, dengan total durasi tepatnya 150 jam 41 menit. 

Ada banyak sekali cerita yang mereka bawa pulang dari kompetisi tersebut, membuatnya menjadi hadiah utama yang dibawa pulang.

“Ngga ada piala, ngga ada medali, ngga ada prize,” ujar Fian. “Yang dibawa pulang cuma Cerita Nabi-Nabi.”

“Cerita Nabi-nabi” dalam Bentang Jawa 

Bersepeda sejauh dan selama itu, melewati lima provinsi dan berbagai macam jenis medan, Fian dan Raras membawa pulang banyak sekali kisah. 

“Di hari pertama kami kemalaman dan harus tidur di masjid di antah-berantah di Sukabumi,” ujar Fian tergelak. “Tapi lumayan, dapat tidur tiga jam. Di lain waktu kami tidur di love hotel yang bisa disewa cuma 6 jam saja. Udah gitu murah banget, cuma Rp150.000 udah dapet air panas dan kamar yang sangat luas. Kami puas banget tidur di situ dan bisa gowes dengan penuh energi keesokan harinya.”

Menurutnya, tidur tiga sampai empat jam semalam adalah kemewahan. “Kami tidur sampai tiga jam, makanya durasi kami sampai 150 jam. Yang juara 1 itu kalau nggak salah hanya tidur 15 menit, cuma short naps. Makanya bisa selesai dalam 80 jam.”

Untuk urusan tidur dan makan, ultracyclist memang tidak boleh pilih-pilih. “Kalau lapar, asal ada warung ya berhenti, makan. Yang penting pilih yang banyak proteinnya.” 

Asupan nutrisi memang penting, sampai-sampai ketika Fian dan Raras mengalami hal “mistis”—bungkusan nasi Raras yang digantungkan di sepeda tiba-tiba jatuh secara misterius ketika menyusuri gelapnya hutan di Pracimantoro menuju Pacitan, Jawa Timur—mereka mengabaikan rasa takut. 

“Kayak diminta jin,” ujar Fian terkekeh. “Tapi sori banget, kami laper. Jadi nasinya diambil lagi dan kami lanjut gowes.”

Meregulasi emosi supaya tetap tenang dan ceria di bawah tekanan fisik luar biasa adalah salah satu tantangan tersendiri bagi atlet ultracycling

“Itu harus disadari ketika memilih partner bersepeda,” ujar Fian. “Aku mau partneran sama Raras karena kami sudah lama bersepeda bareng, dia temen gowes yang udah aku pahami kekuatannya, endurance-nya, juga sifat-sifatnya. Ada banyak teman yang habis melakukan lomba dengan tantangan seberat ini akhirnya ‘bercerai’ sama pair-nya. Aku nggak mau itu terjadi, dan untungnya selepas Bentang Jawa kami tetap berteman dan malah makin akrab.”

Padahal, keduanya mengalami menstruasi di tengah-tengah race, yang tentu saja mempengaruhi keadaan fisik dan emosi.

“Aku mens di hari ketiga. Raras mens di hari keempat,” ujarnya. “Walau lagi hormonal harus tetap lanjut.”

“Yang Penting Coba dulu Aja.”

Membentuk jiwa dan raga untuk bisa menjadi seorang ultracyclist bukanlah perjalanan yang singkat. Bahkan Fian, yang pertama kali terjun secara serius ke dunia sepeda, tidak pernah menyangka dirinya akan menjadi seorang ultracyclist.

Fian baru iseng menjajal hobi road bike di tahun 2019. Kala itu, ia telah tinggal di Jakarta selama 6 tahun, menjadi seorang single mother, dan meniti tangga karir sebagai pegawai di beberapa LSM internasional yang bergerak di bidang kemanusiaan dan lingkungan. 

“Iseng banget aslinya. Dari dulu memang aku suka berolahraga tapi ya nggak pernah serius. Palingan dulu sepedaan dari rumah ke kampus pas masih kuliah, tapi selebihnya nggak terlalu serius,” katanya. “Tapi waktu itu di tahun 2019 aku main sama beberapa teman yang sama-sama dari Jogja dan tinggal di Jakarta. Mereka bilang road bike lagi nge-trend. Yaudah, aku cobain deh.”

Dari iseng mencoba, akhirnya ia terjun menjadi menggebu-gebu. Ia mulai membeli sepeda yang lebih profesional dan peralatan yang lebih memadai. Ia juga mulai bergabung dengan berbagai komunitas yang bersepeda di dalam kota pada pagi hari sebelum berangkat kerja, kelompok peloton, juga sepeda akhir pekan rekreasional. 

“Aku cuma modal penasaran. Kok temen-temen bisa pada kenceng-kenceng banget pace-nya. Akhirnya mulai tergila-gila latihan. Temen-temenku sampai bilang aku terlalu serius,” ujarnya. “Yang penting coba dulu aja. Kalau enjoy ya lanjutin.”

Ia pun tergabung dalam komunitas Kelapa Gading Bikers, yang akhirnya memperkenalkannya pada berbagai jenis event dan konsentrasi bersepeda, sampai akhirnya Fian menyelesaikan satu race jarak jauh pertamanya di Bali pada tahun 2020. 

“Aku amazed sama diri sendiri. Ternyata aku bisa balapan 100 km dan finish. Nggak kalah jauh sama mereka yang udah lama duluan main sepeda,” ujarnya. 

Fian mengikuti Kejuaraan Nasional di tahun 2021 di Garut, Jawa Barat mewakili DKI Jakarta di cabor sepeda balap. Ia meraih juara pertama di kategori Individual Time Trial Women Elite, dan juara tiga di kategori Road Race. Ia mulai mendapatkan berbagai endorse dari produk-produk sepeda balap dan membangun citra di media sosialnya sebagai atlet sepeda.

“Yah, tapi ya… mengingat usia tidak muda lagi, aku nggak yakin bisa ke Sea Games atau yang lain-lain,” ujarnya, rendah diri. “Kurasa sponsor akan sulit kalau mau invest di orang kayak aku yang baru banget nyemplung di dunia ini. Kalau atlet beneran kan didikannya sejak dari masih anak-anak. Ga pede juga kalau tiba-tiba ada di Timnas.”

Padahal, Fian sempat dikontak Timnas untuk diminta mengisi data. “Tapi ya nggak ada kabarnya lagi. Mungkin mereka lagi ngumpulin data aja, hehehe.”

Membuka Banyak Pintu

Di tahun-tahun awal Fian giat berlatih untuk mulai menjadi seorang pesepeda ulung, ia akan memulai harinya di jam 4 atau 5 pagi, lalu bersiap-siap dan langsung gowes ke dalam kota untuk latihan harian, yang kadang-kadang ia lakukan bersama rombongan pesepeda lain. Jalanan pusat kota Jakarta dengan aspalnya yang halus dan ukurannya yang lebar menurutnya sangat ideal bagi pesepeda balap untuk latihan di pagi hari sebelum rush hour mulai. Dia akan bersepeda kurang lebih 40-50  km setiap paginya, kembali ke rumah, dan siap-siap bekerja. Pukul 8 malam ia sudah sampai tempat tidur lagi untuk tidur dan beristirahat. Di akhir pekan, ia akan bersepeda ke Titik Nol, Sentul, Bogor, yang merupakan daerah curam yang menjadi jujugan bagi para pesepeda untuk melatih kekuatan mereka menaklukan elevasi. Di sesi ini ia menghabiskan paling tidak 100 km. Esoknya, masih di akhir pekan, ia akan coffee ride santai bersama teman-teman, sepedaan untuk minum kopi di cafe-cafe yang ramah pesepeda di Jakarta.

Dengan rutinitas seperti itu, lama-kelamaan tubuhnya terbentuk dan menjadi lebih sehat dan kuat. Ia juga jadi lebih bijaksana dalam memilih makanan, menghitung nutrisi, serta menolak asupan-asupan yang tidak baik seperti alkohol dan gorengan. Selain berat badannya menurun dan persentase ototnya naik drastis, ia mengatakan jadi jauh lebih kebal penyakit dan lebih mudah sembuh ketika tidak enak badan.

“Dulu memang rajin latihan di luar. Kalau sekarang alhamdulilah udah ada trainer di dalam rumah, jadi aku bisa tetap latihan gowes walaupun nggak harus bangun pagi dan sepedaan keluar,” ujarnya. “Aku juga udah nggak kerja kantoran, jadi bisa fokus sepedaan. Selain itu bisa punya lebih banyak waktu buat anakku.”

Ia juga menghabiskan banyak waktu menjadi konten kreator lewat Instagramnya @fiankh. “Kebetulan sepedaan bikin banyak punya cerita, dan kebetulan banyak endorsan yang harus direview juga hehehe.”

Selain membuka pintu rezeki, bersepeda juga membuka pintu jodoh untuk Fian. Bergabung dengan komunitas sepeda membawanya bertemu dengan suaminya, Trihadi Siswanto, yang adalah seorang atlet ultracyclist ternama yang telah bersepeda di berbagai rute di dalam dan luar negeri. Mereka menikah Juni 2023.

Selain itu, Fian kini sedang mempersiapkan diri untuk menjadi seorang coach sepeda dengan mengambil sertifikasi level 2 di The World Cycling Centre di kota Aigle, Swiss. Ia akan berangkat November ini.

“Sejauh ini sebenarnya aku nggak pernah merasakan diskriminasi apa pun sebagai seorang atlet sepeda perempuan. Pesepeda yang seumuran dengan aku udah nggak heran perempuan bisa balapan ratusan kilometer kayak gini. Kalau ada komentar atau pujian keheranan biasanya datang dari orang-orang yang lebih tua,” ujar Fian. “Tantangannya adalah ketika kamu mau jadi coach. Nggak semua atlet laki-laki mau dilatih coach perempuan. Aku masih merasakan itu. Jadi aku mau ambil sertifikasi ini supaya valid aja, dan akhirnya aku bisa jadi pelatih buat atlet sepeda mau itu laki-laki atau perempuan.”

All photos are courtesy of Bentang Jawa / Arfiana Khairunnisa (cap#107)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Read