Pharrell Williams Rilis Koleksi Louis Vuitton SS27 'Whatever the Weather'


Kabar gembira bagi para pencinta mode. Pharrell Williams, yang menjabat sebagai Men's Creative Director Louis Vuitton, kembali menghadirkan koleksi terbaru untuk rumah mode asal Prancis itu.
Untuk musim Spring/Summer 2027 atau SS27, Pharrell merilis pre-collection bertajuk 'Whatever the Weather', sebuah lini busana pria yang terinspirasi dari cuaca dan semangat berkelana. Tidak hanya itu, Pharrell juga dijadwalkan membuka gelaran Paris Fashion Week Men's dengan show utamanya pada 23 Juni 2026.
Koleksi 'Whatever the Weather'
Seperti namanya, koleksi SS27 ini berangkat dari sebuah dilema sehari-hari yang sederhana, yaitu menentukan pakaian saat cuaca tidak menentu. Pharrell mengubah persoalan tersebut menjadi premis utama koleksinya.


'Whatever the Weather' dibangun di sekitar konsep perpindahan antarkota, zona waktu, dan iklim, sehingga menghasilkan sebuah lemari pakaian yang dirancang untuk beradaptasi secepat perubahan cuaca itu sendiri. Referensi soal hujan dan perlengkapan tahan air pun terasa kuat di sepanjang koleksi, namun tetap diolah dengan kualitas dan sentuhan khas Louis Vuitton. Tema soal alam memang menjadi benang merah yang kerap muncul dalam visi Pharrell untuk rumah mode ini, menjadikan setiap koleksinya terasa seperti sebuah cerita, bukan sekadar deretan pakaian.
Sederet Item Andalan
Salah satu sorotan utama dari koleksi ini adalah lini 'Monogram Reporter' yang terinspirasi dari gaya workwear era 1980-an dan perlengkapan hiking klasik. Motif Monogram yang sengaja dibuat pudar dipadukan dengan suede warna cognac, panel kulit, serta sentuhan akhir yang terkesan usang. Ada pula jaket puffer nilon biru dengan panel kulit Monogram di bagian bahu, serta celana denim dengan motif Monogram laser yang lebih halus.
Pharrell turut menafsirkan ulang sejumlah item klasik melalui lensa cuaca, seperti jas hujan nelayan dari kulit anak sapi mengilap, serta rajutan reversibel yang menampilkan tekstur kabel di satu sisi dan motif Monogram di sisi lainnya. Yang paling menarik, ada sederet item trompe l'oeil yang menantang persepsi. Beberapa hoodie dan aksesori berbahan kulit sengaja dicetak agar menyerupai sweater abu-abu biasa, lengkap dengan tampilan dan teksturnya.
Membuka Paris Fashion Week
Pre-collection ini hanyalah pembuka, karena gambaran utuh dari visi Pharrell akan terungkap di atas panggung. Louis Vuitton dijadwalkan membuka rangkaian Paris Fashion Week Men's pada 23 Juni, sebuah slot pembuka yang oleh sejumlah media disebut sebagai pertunjukan berskala besar di malam pembukaan. Posisi ini menegaskan betapa besarnya pengaruh yang dibawa Pharrell ke rumah mode tersebut.
Tahun ini, pekan mode pria di Paris memang diramaikan sejumlah nama besar, mulai dari Jonathan Anderson untuk Dior, debut Michael Rider di Celine, Sarah Burton untuk Givenchy, hingga Grace Wales Bonner yang untuk pertama kalinya menangani lini pria Hermes. Namun, di antara semuanya, skala produksi yang dihadirkan Louis Vuitton disebut belum tertandingi oleh rumah mode lain.
Visi Pharrell di Louis Vuitton

Sejak ditunjuk sebagai Men's Creative Director pada 2023, Pharrell Williams memang membawa pendekatan yang berbeda di Louis Vuitton. Bukan hanya soal busana, ia kerap menggabungkan mode dengan budaya, musik, dan seni. Show-nya hampir selalu menjadi sebuah pertunjukan imersif, lengkap dengan musik orisinal yang ia gubah sendiri.
Pendekatan ini terlihat dari koleksi-koleksi sebelumnya, seperti koleksi yang terinspirasi budaya India lengkap dengan panggung permainan ular tangga raksasa, atau koleksi musim gugur yang digelar di dalam sebuah rumah berdinding kaca. Konsistensi dalam menghubungkan warisan Louis Vuitton sebagai rumah mode bertema perjalanan dengan kreativitas lintas disiplin inilah yang menjadi ciri khas era Pharrell.
Dengan dirilisnya pre-collection 'Whatever the Weather' dan show besar yang menanti, koleksi SS27 sekali lagi menegaskan visi Pharrell tentang Louis Vuitton sebagai perpaduan antara mode, budaya, dan keahlian. Bagi para penggemar fashion, termasuk di Indonesia, ini menjadi satu lagi momen yang layak dinanti, sekaligus bukti bahwa di tangan Pharrell, sebuah lemari pakaian bisa menjadi medium untuk bercerita.



