Volix
entertainmentnoriyuki makiharamou koi nante shinaijokowilagu jepangj-popviraljoko widodomusik jepang

Lagu Jepang 1992 Mendadak Viral di Indonesia karena Wajah Penyanyinya Mirip Jokowi

Iqbal Baskari·
Lagu Jepang 1992 Mendadak Viral di Indonesia karena Wajah Penyanyinya Mirip Jokowi
Via YT/Warner Music Japan

Sebuah lagu Jepang berusia lebih dari tiga dekade mendadak ramai diperbincangkan warganet Indonesia belakangan ini. Uniknya, lagu berjudul Mou Koi Nante Shinai milik penyanyi Noriyuki Makihara itu kembali viral bukan karena dirilis ulang, melainkan karena wajah sang penyanyi di video klip lawasnya dianggap sangat mirip dengan mantan Presiden RI, Joko Widodo alias Jokowi.

Lagu yang sejatinya dirilis pada 1992 ini kembali mencuri perhatian sejak sekitar Desember 2025, setelah video klipnya berulang kali muncul di beranda YouTube pengguna di Indonesia.

Berawal dari Wajah yang Mirip Jokowi

Fenomena ini bermula dari cara penyebaran yang cukup tidak biasa. Alih-alih lebih dulu ramai di media sosial, video klip Mou Koi Nante Shinai justru menyebar lewat rekomendasi algoritma YouTube yang terus menyodorkan video tersebut ke pengguna Indonesia.

Banyak warganet mengaku awalnya hanya penasaran melihat thumbnail berisi sosok pria yang wajahnya mirip Jokowi, lalu mengeklik, dan akhirnya ikut meramaikan kolom komentar. Dalam video klip itu, Makihara tampil sederhana dengan rambut pendek dan ekspresi yang dinilai menyerupai Jokowi, terutama dari senyum dan struktur wajahnya. Tidak butuh waktu lama, kolom komentar dipenuhi candaan khas warganet Indonesia, mulai dari menyebutnya "Jokowi versi J-Pop", "Pakde lagi konser di Jepang", hingga "Jokowi lost brother". Lonjakan rasa penasaran inilah yang membuat penayangan video lawas tersebut meningkat drastis dalam waktu singkat.

Bukan Lagu Sembarangan, Hits Besar 1992

Di balik viralnya karena faktor wajah, Mou Koi Nante Shinai sebenarnya bukan lagu sembarangan. Lagu ini pertama kali dirilis pada 25 Mei 1992 dan menjadi salah satu hits terbesar Noriyuki Makihara. Berdasarkan catatan tangga lagu Jepang, single ini sempat menembus posisi kedua di chart Oricon, menjadi lagu terlaris ketujuh sepanjang 1992, sekaligus menjadi penjualan jutaan kopi kedua dalam karier Makihara. Lagu ini juga sempat dipakai sebagai theme song untuk sebuah drama di stasiun televisi NTV.

Secara visual, video klipnya yang bernuansa sepia menampilkan kisah seorang pria, diperankan Makihara sendiri, yang sedang berusaha bangkit dari patah hati. Menariknya, ide lagu ini awalnya muncul dari keinginan Makihara untuk menghibur keyboardist-nya saat itu, Akimitsu Honma, yang tengah melewati masa putus cinta. Secara makna, lagu ini bercerita tentang seseorang yang belajar menerima kehilangan, sosok yang sadar bahwa ia mampu melanjutkan hidup sendiri, tetapi di dalam hatinya masih ada ruang kosong yang belum sepenuhnya pulih.

Siapa Noriyuki Makihara?

Via YT/Warner Music Japan

Bagi publik Indonesia yang baru mengenalnya, Noriyuki Makihara bukanlah nama baru di industri musik Jepang. Penyanyi yang akrab disapa "Mackey" ini lahir di Takatsuki, Prefektur Osaka, pada 18 Mei 1969, dan memulai debutnya pada 1990 setelah tampil di sebuah ajang pencarian bakat musik di televisi.

Sepanjang kariernya, ia dikenal sebagai singer-songwriter berpengaruh dengan penjualan menembus lebih dari 21 juta kopi. Namanya melejit lewat lagu Donna Toki Mo. pada 1991 yang sukses menempati posisi puncak tangga lagu. Tidak hanya menyanyi, Makihara juga dikenal sebagai penulis lagu andal. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Sekai ni Hitotsu Dake no Hana, lagu yang dipopulerkan grup legendaris SMAP dan menjadi salah satu single terlaris sepanjang sejarah musik Jepang.

Ketika Algoritma dan Nostalgia Bertemu

Viralnya Mou Koi Nante Shinai di Indonesia menjadi contoh menarik tentang bagaimana sebuah konten lintas budaya bisa kembali hidup hanya karena faktor kemiripan wajah. Fenomena ini murni hiburan spontan ala internet yang memadukan humor visual, nostalgia, dan kekuatan algoritma media sosial, tanpa kaitan dengan politik.

Di sisi lain, momen ini justru membuka pintu bagi warganet Indonesia, khususnya Gen Z, untuk mengenal kembali musik pop Jepang era 1990-an yang dulu sempat berjaya. Apa yang berawal dari sekadar candaan soal wajah mirip Jokowi pada akhirnya mengantar banyak pendengar baru pada sebuah lagu klasik yang sebenarnya memang layak dinikmati.

Kisah ini sekaligus membuktikan bahwa di era digital, sebuah lagu lawas bisa menemukan kehidupan keduanya dari arah yang paling tidak terduga.

Baca Juga